Museum Perang Dunia Ke II Di Pulau Morotai

Museum Perang Dunia Ke II Di Pulau Morotai

17
0
SHARE

MOROTAI – Pulau Mgedung museum perang dunia ke II di Morotai 300x200 Museum Perang Dunia Ke II Di Pulau Morotaiorotai yang pernah menjadi Basis terbesar angkatan perang sekutu rupanya menjadi salah satu daya tarik wisatawan, Lia Santika warga Jakarta Timur yang pernah berkunjung ke Morotai, tertarik dengan cerita Morotai yang menjadi pangkalan tentara sekutu ketika perang dunia ke II, bersama-sama dengan rekannya Nurlita Octavienna keduanya berkunjung ke Morotai untuk melihat langsung sisa peninggalan milik tentara sekutu, salah satunya museum pribadi milik Muchlis Eso yang rajin mengumpulkan sisa-sisa perang dunia ke II, dan disimpan di sebuah ruangan sederhana miliknya yang hanya berukuran sekitar 3×3 meter.

Rupanya keinginan Lia dan Octa yang menginginkan sebuah ruangan khsusus untuk barang-barang sisa peninggalan, yang ber-AC dan nyaman rupanya terwujud dengan dibangunnya sebuah gedung yang memang di khususkan untuk peninggalan-peninggalan sejarah sisa perang dunia ke II, bahkan Gubernur Maluku Utara dan Bupati Pulau Morotai harus berburu foto-foto yang menjadi saksi bisu sisa peninggalan perang dunia ke II di Australia, “ pemerintah Australia sangat membantu dalam hal ini, mereka memberikan foto-foto yang pernah mereka ambil di Pulau Morotai ketika jaman perang,” kata Gubernur ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu ketika mengunjungi Morotai untuk melihat persiapan Sail Morotai, dan Marie sangat terkejut karena ternyata Indonesia tidak memiliki satupun foto-foto kondisi perang dunia ke II di morotai.

Menurut Laode Muhammad Aksa selaku Ketua Cagar Budaya untuk Maluku dan Maluku Utara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertanggung jawab untuk mengisi museum, mengatakan jika isi museum masih milik masyarakat yang mengumpulkan sisa-sisa sejarah, seperti Muchlis Eso, namun barang-barang yang masuk harus diseleksi terlebih dahulu dan di konservasi dengan bahan kimia dan bahan tradisional sebagai salah satu persyaratan sebuah museum, dan hasilnya didapat 270 item barang, “ barang yang kami masukkan lewat seleksi dan yang memiliki keunikan,” kata Aksa, untuk membantu isi museum yang masih sangat minim, Aksa dan kawan-kawan memberikan sebuah alur cerita secara visual yang ikut dipajang di dalam ruangan, untuk memberikan sebuah cerita tentang kejadian perang dunia ke II di Pulau Morotai. (JAL)

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan