Jawa Timur

Gus Ipul: Halal bihalal Perkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Surabaya – Tradisi halal bihalal ikut berperan dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Ini karena dalam pelaksanaanya, seluruh kalangan dilibatkan tanpa memandang suku, agama, dan ras. Semua saling bermaaf-maafan atas kesalahan di masa lalu dan membangun komitmen bersama untuk hubungan yang lebih baik di masa mendatang.

“Tradisi halal bihalal ini asli Indonesia. Tradisi ini mampu menyatukan perbedaan kita. Inilah yang membuat bangsa kita makin kokoh dan bersatu Inilah yang membuat saya makin cinta Indonesia”  kata Wakil Gubernur Jawa Timur saat Halal bihalal Perkumpulan Saudara Rantau Sumut (PSRS) di Resto Nine Surabaya, Minggu (16/7) malam.

Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim mengatakan, halal bihalal merupakan tradisi asli Indonesia dan menjadi kearifan lokal. Halal bihalal yang rutin diadakan setiap tahun serta dihadiri seluruh kalangan menjadi bukti kuat bahwa bangsa ini mampu mengatasi dan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada.

“Dulu banyak yang memprediksikan bangsa ini usianya tidak lama karena banyaknya perbedaan suku, agama, dan ras. Tapi Alhamdulillah kita sudah 71 tahun merdeka dan InshaAllah akan terus berlanjut. Ini karena tradisi halal bihalal yang terus diselenggarakan, seperti yang diadakan oleh PSRS sekarang” katanya. 

Berdasarkan sejarah, lanjut Gus Ipul, halal bihalal bermula pada 1948 ketika Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Saat itu para elite politik saling bertengkar, ada yang berpendapat negara ini harus menjadi negara Islam, ada pula yang ingin negara ini jadi negara demokrasi.

Pada pertengahan bulan Ramadan, Presiden pertama RI, Soekarno mengundang Kiai Wahab ke Istana Negara, untuk diminta pendapat mengenai solusi konflik politik Indonesia pada masa itu. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahmi antar pemimpin politik, apalagi Hari Raya Idul Fitri segera tiba. 

Kiai Wahab pun memberi istilah “Halalbihalal” beserta penjelasan makna filosofinya. Yakni terkait permusuhan antar tokoh politik yang menurutnya adalah haram, maka harus dihalalkan, disudahkan. 

Atas saran itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara guna menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halalbihalal’. Akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

“Jadi halal bihalal ini bukan bahasa arab yang di-Indonesiakan, tapi sebaliknya. Artinya, anda halal saya juga halal, kita kembali kosong-kosong lah. Tradisi ini hanya ada di Indonesia, di negara lain tidak ada. Mari kita jaga tradisi ini agar bangsa ini tetap bersatu, kokoh, aman, dan nyaman. Itulah modal utama untuk kesuksesan pembangunan” ujarnya.

Ketua Panitia, Tanjung mengatakan, halal bihalal ini untuk mempererat dan memperkuat hubungan antara anggota PSRS. 

“Mari kita perkuat hubungan dan silaturahmi antara sesama rantau Sumuatera Utara dengan cara bersalam-salaman dan memaafkan kesalahan yang lalu” katanya. 

Sementara itu, perwakilan tokoh masyarakat PSRS yang juga Ketua Fraksi Golkar Partai DPRD Jatim, Sahat Tua Simanjuntak mengatakan, PSRS merupakan salah satu kekuatan besar untuk membangun NKRI. 

“Ada 35 ribu lebih orang asli Sumatera Utara yang menjadi anggota PSRS dan tersebar ke seluruh penjuru negeri. Mari kita manfaatkan kekuatan itu untuk membangun NKRI” pungkasnya.   (Hms)

REKOMENDASI :

Click to comment

Copyright © 2017 - PT Delik Media Siber

To Top