Bangka Belitung

Disinyalir Ada Mafia Harga Lada

Mendo Barat — Pemerintah Provinsi Bangka Belitung diminta untuk serius menggarap timpangnya komparasi harga lada.

Karena, harga yang berlaku sekarang, dinilai sangat jauh bedanya. Antara harga yang berlaku riil di kalangan petani lada, dengan harga yang dijual di beberapa ritel tertentu.

Sekretaris PP Muhammadiyah Babel, Jafry Habib- saat dihubungi redaksi- mengatakan, bahwa harga yang berlaku sekarang sudah sangat jauh sekali bedanya, dan dikhawatirkan akan berdampak serius pada petani lada di Babel.

” Selisih harga memang sudah terlalu jauh, dan ada indikasi kuat, mafia harga lada ikut bermain, karena di ritel modern dengan harga di tingkatan petani selisihnya bisa mencapai 560 persen. Harga di petani Rp 50.000/kg sedangkan di ritel modern Rp 330.000,-/kg,” ungkap Jafry Habib, Selasa malam, 14/11.

Menurutnya lagi, pemerintah harus mengambil solusi yang kongkrit dan cepat dalam mengatasi permainan harga lada ini, jangan sampai terkesan solutif tapi tidak ada tindakan nyata untuk mendongkrak harga lada saat ini.

” Saat ini petani berharap kepada bapak gubernur untuk segera mengambil kebijakan yang bisa membantu petani lada apapun bentuknya. Karena kalau harga lada 50.000 /kg, itu hanya untuk modal saja tidak cukup per pohon. Bibit mahal, apalagi junjung, belum lagi biaya pupuk dan perawatan yang cukup banyak pakai biaya,” sambungnya lagi.

Kemudian lanjut Jafry, kalau memang sistem Resi gudang itu merupakan sebuah solusi maka pertanyaannya adalah sampai sejauh mana jaminan sistem Resi gudang itu berhasil.

” Makanya sistem resi gudang perlu kajian matang serta melibatkan semua pihak termasuk petani, ” tutup Jafry, yang dirinya juga berprofesi sebagai petani lada di Kecamatan Mendo Barat ini. (LH)

REKOMENDASI :

Click to comment

Copyright © 2017 - PT Delik Media Siber

To Top