Nasional

Suara Warga Muhammadiyah, Bisa Jadi Penentu Pemenang Pilgub Jatim

Surabaya – Kedua calon Gubernur Jawa Timur kedua-duanya memiliki back ground dari Ormas terbesar di Jatim yaitu NU. Sebagai jamiyah yang memiliki karakteristik khusus, tentunya dengan pencalonan kedua jagoan yang memperebutkan kedudukan jabatan di dunia ini tentu akan menjadi pertandingan yang seru dan cukup enak menjadi tontonan yang menarik bagi para pemirsa.

Perebutan kedudukan jabatan di dunia ini tentunya akan menjadi pertarungan yang akan menjadi catatan sejarah tentang dua tokoh yang masing-masing memenangkan jabatan tinggi di ormas masing-masing.

Dalam perebutan takhta di dunia ini tentunya bisa menjadi tumpahan emosi yang berpacu padu dengan berbagai macam keinginan untuk dapat meraih kekuasaan. Tipikal laki-laki bila bertarung dengan perempuan akan menjadi tantangan tersendiri untuk Memenangkan pertarungan, apalagi yang bersangkutan di jamiyah NU menjadi salah seorang ketua di PBNU. Ada nuansa gengsi yang tinggi bila laki-laki di kalahkan oleh perempuan.

Khofifah seperti diketahui adalah Ketua Muslimat yang sudah cukup lama menjabat, cukup abadi jabatan itu digenggamnya sehingga bisa menjadikan dukungan kaum ibu-Ibu muslimat semakin mengental untuk menjadi pendukungnya yang fanatik.

Saling mengalahkan ini berasa istimewa karena ada aura yang cukup signifikan sebagai faktor pendukungnya. Satu orang dari posisi Wakil Gubernur 2 periode ingin naik pangkat menjadi Gubernur. Yang satunya sudah kandas dua kali ingin jadi Gubernur tapi merasakan nasib pilu menerima kekalahan dua kali berturut-turut. Saking penasarannya untuk menjadi Gubernur Jatim sampai rela meninggalkan jabatannya sebagai menteri sosial.

Suara warga NU tentunya terpecah menjadi dua, tergantung masing-masing individu diadakan kemana dukungannya diberikan. Juga seberapa kuat gosokan dari masing-masing pendukung untuk mengarahkan pilihan yang sesuai dengan keinginannya.

Disamping itu juga pengaruh tokoh-tokoh pendukung masing-masing calon juga akan menjadi faktor signifikan dalam mendukung calon yang didukungnya. Para tokoh akan menjadi magnet tersendiri bagi pengumpul pundi-pundi Suara yang signifikan.

Kumpulan Pondok-Pondok pesantren juga akan membuat afiliasi masing-masing terhadap calon Gubernur yang di dukung. Afiliasi tokoh-tokoh Pondok pesantren bisa Menjadi bassi kekuatan masing-masing calon dalam meraih suara signifikan dari umat yang menunggu tausiyah agar mendukung dan memilih calon sesuai yang di dukungnya.

Suara warga NU akan habis diperebutkan dua calon Gubernur ini berdasarkan basis dukungan tokoh dan Pondok pesantren yang berafiliasi. Semakin kuat Dukungan dari Kiyai dan Pondok pesantren berpengaruh akan menjadikan kekuatan maksimal.

Tidak bisa dihindari saling berhadapannya Pondok pesantren besar akibat dukungan kepada masing-masing calon dalam Pilgub Jatim ini akan bisa menjadi perjuangan yang maha berat untuk Memenangkan pasangan yang didukungnya untuk Memenangkan pertarungan yang penuh gengsi ini.

Dengan terpecahnya suara warga NU untuk calon Gubernur yang berasal dari NU belumlah cukup untuk memenangkan pertarungan, masih membutuhkan suara dari kelompok lain untuk dapat meraih simpati dan dukungan pemilih nyata.

Calon Gubernur yang ingin mendapatkan dukungan dari suara warga Muhammadiyah tentunya harus melihat rekam jejaknya ketika menjabat. Apakah selama menjabat memiliki kepedulian nyata untuk kelompok lain atau program-program yang digunakan untuk memperkuat basis kelompoknya sendiri saja.

Basis suara Muhammadiyah tentunya berbeda dengan kelompok lain, mereka tidak bisa dimobilisasi karena masing-masing individu tentunya memiliki analisa tersendiri siapa yang bisa didukung dalam Pilgub Jatim ini. Suara mereka akan menjadi penentu siapakah yang akan terpilih dalam Pilgub Jatim yang akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018 ini.

Penulis : Ipoel Simatoepang (Penikmat Pendidikan)

loading...

Related Articles