Maluku Utara

Maluku Utara siapkan 33 event Budaya dan Pariwisata

BERBAGAI daerah tahun ini berlomba-lomba untuk menggelar event demi mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Event-event ini kemudian disusun dalam Calendar of Event nasional yang berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata.

Kali ini, Provinsi Maluku Utara yang meluncurkan 33 event selama 2018. Dengan mengusung tema “Pesona Kie Raha Mengguncang Dunia”, peluncuran Calendar of Event Maluku Utara digelar di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata pada Selasa 13 Maret lalu. Dari 33 event tersebut, tiga di antaranya masuk ke dalam Calender of Event nasional.

“Ada 33 event dan 3 masuk Calendar of Event nasional. Ada Festival Tidore, Festival Teluk Jailolo, dan Festival Kora-Kora,” ujar Arief Yahya dalam sambutannya.

Kendati demikian, Arief menekankan jumlah tersebut masih kurang jika dilihat dari tujuannya untuk mendatangkan banyak wisatawan. Ia mengatakan, sebuah daerah setidaknya harus memiliki minimal 52 event jika ingin menarik kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman).

“Masih kurang 33 event. Kalau mau attract wisatawan, tiap minggu harus ada. Minimal 52 event. Ada satu kota punya 77 event. Dan kota-kota itu nilai kesejahteraannya tinggi,” jelas Arief.

Tahun ini, Maluku Utara menargetkan kunjungan 11.000 wisman dan 350.000 pergerakan wisnus. Untuk menarik kunjungan wisatawan tersebut, Arief menambahkan agar penyelenggaraan event menarik dan berkualitas dengan meningkatkan unsur 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas).

Ditambah dengan masuknya Morotai ke dalam daftar 10 Bali Baru, Arief Yahya pun berharap ini dapat dimanfaatkan dengan baik demi tumbuhnya pariwisata dan kesejahteraan di Maluku Utara. Dengan waktu yang tersisa 1,5 tahun, pembangunan bandara, resor, fasilitas, dan infrastruktur dasar, serta jalan masuk dan homestay diharapkan dapat selesai tahun ini.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Gubernur Maluku Utara, M. Natsir Thaib mengatakan, peluncuran CoE 2018 menjadi momentum untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah tersebut yang bertumpu pada daya tarik budaya, alam, dan buatan manusia.

“Masyarakat Maluku Utara sudah terkenal dengan budayanya yang luar biasa, ditunjang dengan geografi yang strategis. Pulau yang begitu banyak di bibir Pasifik. Maluku Utara juga dikenal dengan Pulau Rempah-Rempah, juga terkenal dengan ilmu sumber pengetahuan,” jabar Natsir.

Selama ini, beberapa wilayah di Maluku Utara seperti Ternate, Tidore, dan Jailolo memang dikenal sebagai sumber rempah dunia sejak abad ke-13. Selain itu, provinsi ini juga memiliki keunggulan dalam wisata sejarah karena terdapat banyak situs sejarah peninggalan Bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara Samsuddin A. Kadir mengatakan bahwa 33 event yang akan digelar selama 2018 didominasi oleh event budaya. Namun event-event tersebut akan dilaksanakan di alam terbuka, sehingga tercipta kombinasi festival budaya dan alam.

“Kebanyakan festival budaya dan dilaksanakan di alam, jadi campuran. Pada dasarnya budaya yang dilaksanakan untuk menjaga kelestarian budaya, maka harus jual dengan festival,” jelas Samsuddin.

Ia menambahkan, sebagian besar wisatawan datang untuk melihat festival yang diadakan di Ternate, Tidore, dan Jailolo. Untuk Morotai, Samsuddin mengatakan bahwa infrastruktur dan aksesibilitas sedang dikembangkan. Homestay dan resor sedang dibangun agar wisatawan dapat tinggal dengan nyaman selama di sana.

“Juga rumah yang dimiliki masyarakat di titik destinasi, itu yang kita rehab untuk bisa ditinggali. Di Morotai banyak, ribuan. Di tempat lain sedang kita kembangkan,” pungkasnya.

Related Articles