Regional

Tambang Emas Ilegal Dongi-Dongi Masih Jalan

Palu – Kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di wilayah Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah hingga kini masih berlangsung secara sembunyi-sembunyi.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Jusman bersama Antara, Selasa (27/3) berkunjung ke lokasi tersebut, menyaksikan masih ada beberapa lubang lama yang dibuka kembali oleh para oknum penambang yang diduga berasal dari luar Sulteng.

Selama beberapa jam di lokasi itu, petugas Polhut Balai Besar TNLL menemukan sejumlah lubang lama yang telah diaktifkan kembali tanpa diketahui oleh para petugas yang menjaga kawasan tersebut.

Selain menemukan lubang, juga beberapa peralatan milik penambang disimpan rapi dalam lubang seperti palu palu, paku, selang air, tali nilon, kunci busi mesin alcon, terpal, linggis dan karung untuk tempat reb (pasir/tanah yang mengandung emas).

Semua alat bukti penambangan emas tersebut langsung diamankan petugas Polhut dari Balai Besar TNLL yang disaksikan anggota Brimob Polda Sulteng yang selama ini ditugaskan sebagai BKO di pintu masuk dan lokasi tambang emas di wilayah Dongi-Dongi.

Hermas Saisa, seorang anggota Polhut Balai Besar TNLL di lokasi tambang membenarkan adanya penemuan sejumlah barang bukti milik penambang yang disimpan dalam lubang.

“Ini membuktikan bahwa memang benar masih ada penambang yang melakukan kegiatan di lokasi meski Peti itu sudah ditutup sejak 2016,” kata dia.

Dia mengaku, tidak pernah mengetahui mereka melakukan kegiatan karena dilakukan secara rapi.

Selama bertugas di lokasi, mereka belum pernah bisa menangkap para penambang ilegal tersebut.

Modus operasi para penambang cukup rapi sehingga tidak dapat didektesi petugas. Padahal petugas siang dan malam rutin melakukan patroli.

Herman mengatakan tidak ada lubang baru. Lubang yang ada semuanya lumbang lama yang mereka aktifkan kembali.

Untuk mengelabui petugas, penambang usai kegiatan menyimpan pelaratan mereka dalam lubang dengan menutup papan dan dialas terpal lalu ditimbun kembali dengan tanah.

Dengan demikian, lubang-lubang tersebut tidak bisa diketahui, bahwa sesungguhnya sudah diaktifkan kembali.

Agar mereka bisa nyaman dan leluasa melakukan kegiatan, ada salah satu teman dari penambang yang tugasnya hanya mengamati pergerakan petugas.

Jika petugas Polhut dan Brimob melakukan patroli, mereka langsung tinggalkan lokasi dan bersembunyi ke dalam hutan sekitarnya. Setelah petugas tinggalkan lokasi, mereka kembali masuk dan mengambil reb memasukan dalam karung lalu membawa pergi.

Menurut dia, modus tersebut sangat menyulitkan petugas sehingga mereka tidak pernah tertangkap saat melakukan aktivitas.

Sementara Kepala Balai Besar TNLL, Jusman mengatakan, pihaknya tetap akan mengawal dan mengawasi lokasi Peti Dongi-Dongi.

“Kita tetap akan bekerja sama aparat keamanan untuk menjaga kawasan tersebut,” kata dia.

Pihaknya, kata Jusman terus mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menambang emas di kawasan tersebut karena jika didapat langsung diproses secara hukum yang berlaku.

“Siapapun dia, kalau sampai tertangkap basah di lokasi, akan diseret ke pengadilan,” tegas Jusman.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat, termasuk para tokoh masyarakat di sekitar wilayah Dongi-Dongi untuk ikut bersama menjaganya.

Selain sudah banyak anggaran yang telah dikuncurkan pemerintah pusat dan daerah untuk meenertibkan Peti Dongi-Dongi, juga telah membuat aparat keamanan dan petugas Polhut Balai Besar TNLL harus rela berpisah dengan istri dan anak-anak hanya untuk menjaga dan mengamankan lokasi dimaksud.

Dia juga menambahkan selain lubang-lubang ditutup kembali, juga langsung disertai dengan penanam berbagai jenis pohon, termasuk yang endemik di wilayah Dongi-Dongi.

Dalam kunjungan perdananya ke lokasi Peti Dongi-Dongi, kepala balai juga didampingi Kepala Bagian Tata Usaha, Ir Periskila Sampeliling dan Kepala Bidang Teknis, Dedy Asriady dan Kepala Seksi Tongoa.

Related Articles