Ekonomi & Bisnis

Awas, Ikan kemasan Berisi Cacing dari Surabaya

Surabaya – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya menyatakan tujuh dari 27 produk kemasan ikan makarel yang mengandung cacing parasit yang disita berasal dari Surabaya.

“Produk itu diserahkan ke BPOM setelah pihaknya melakukan sampling baik di pasar modern maupun tradisional di daerah Surabaya, Jombang dan Mojokerto,” kata Ketua BBPOM Surabaya, Sapari di Surabaya, Jatim, Kamis.

Parasit cacing ini ditemukan di 27 produk ikan makarel dalam kemasan, tujuh di antaranya juga ditemukan di Surabaya baik produksi lokal ataupun impor.

“Yang lokal ini produksi Banyuwangi, kalau impor dari Korea Selatan,” ungkap Sapari.

Sapari mengatakan terlepas dari kandungan dan jenis cacing, adanya cacing menunjukkan makanan tidak memenuhi syarat higienis. Jadi meskipun sudah mengalami proses pemasakan dan sterilisasi, produk tersebut tidak layak konsumsi.

“Ada merek A disampling kota B mungkin tidak ada cacingnya. Tapi kalau yang ada cacingnya dilihat kode produksinya, nanti yang sama kode produksinya biasanya juga ada cacingnya,” tuturnya.

Dari ‘raw material’ atau bahan baku ikan makarel memang rawan adanya parasit cacing. Termasuk tujuh produk hasil sampling BBPOM Surabaya yang positif terdapat parasit cacing.

Puluhan merek produk mengandung cacing itu antara lain ABC, ABT, Ayam Brand, Botan, CIP, Dongwon, Dr. Fish, Farmerjack, Fiesta Seafood, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, King’s Fisher, LSC, Maya, Nago/Nagos.

Juga ada Naraya, Pesca, Poh Sung, Pronas, Ranesa, S&W, Sempio, TLC, dan TSC. Daftar rinci varian produk makanan bercacing dapat dilihat situs resmi BPOM.

Selain itu, untuk satu merek bisa terdapat hingga tiga jenis produk makarel yang ditemukan parasit cacing. Seperti merek ABC dengan jenis Ikan Makarel Saus Tomat, Ikan Makarel Saus Ekstra Pedas, Ikan Makarel Saus Cabai.

Bahkan ada yang dalam satu merek terdapat empat jenis pangan yang dibedakan dari izin edarnya. Seperti merek Botan dan Maya.

“Kami meminta kerja sama dari distributor untuk menarik dari peredaran. Produk ini merata ada di semua daerah di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Dengan temuan itu, dia mengimbau masyarakat di Jawa timur lebih cerdas dalam memilah dan memilih obat serta makanan yang akan dikonsumsi.

Related Articles