Ekonomi & Bisnis

Rupiah makin ambruk, Ini dampak Psikologis

Jakarta – Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, menyoroti dampak psikologis dari pelaku pasar terhadap tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Yang mengkhawatirkan adalah dampak psikologisnya. Pada waktu (menyentuh) Rp14.000, bagaimana tanggapan dari pasar. Kalau pelaku pasarnya panik, itu yang bahaya,” kata Piter dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Piter menilai tekanan eksternal membuat nilai tukar rupiah terdepresiasi pada triwulan I-2018. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan apabila posisi nilai tukar rupiah menyentuh Rp14.000 per dolar AS selama kondisi tersebut tidak menimbulkan kepanikan pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (24/4), bergerak menguat sebesar 84 poin menjadi Rp13.878 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.962 per dolar AS.

Piter mengatakan bahwa instrumen intervensi memanfaatkan cadangan devisa merupakan kebijakan yang paling cepat dan pasti dilakukan pada saat nilai tukar rupiah melemah. Ia menilai cadangan devisa Indonesia masih mencukupi untuk langkah intervensi tersebut.

Selain itu, Piter juga menjelaskan terdapat alternatif kebijakan selain intervensi yang dapat ditempuh Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah. Salah satu kebijakan tersebut yaitu pengelolaan aliran modal (capital flow management).

Kebijakan “capital flow management” tersebut tidak bisa digunakan secara mendadak atau pemanfaatannya harus dilakukan jauh hari sebelum BI mengantisipasi terjadinya pelemahan nilai tukar.

“Kebijakan itu dengan cara mengatur agar supaya investasi yang masuk tidak mudah untuk keluar. Kita relatif tidak cukup ketat mengatur ini,” tutur Piter.

Related Articles