Health

Operasi Payudara, Pengen Besar ternyata berujung maut

TIDAK bisa dipungkiri, banyak perempuan yang merasa kurang percaya diri dengan bentuk payudaranya yang lebih kecil dibandingkan teman-teman lainnya. Hal ini yang kemudian membuat bisnis memperbesar payudara banyak diincar.

Bukan sesuatu yang aneh lagi ketika perempuan merasa lebih cantik jika memiliki payudara besar. Sekalipun, banyak dari Anda juga yang menerima bentuk payudara apa adanya dan lebih memfokuskan diri pada kelebihan yang Anda miliki ketimbang harus memperbesar payudara.

Namun, Ekatarina Kiseleva memutuskan untuk memilih pilihan kedua, menjalani operasi plastik untuk memperbesar payudara. Tidak hanya memperbesar, dia juga melakukan treatment pengencangan payudara supaya “aset” dirinya itu bisa menjadi kelebihannya di mata pria.

Perlu Anda ketahui sebelumnya, Ekatarina sudah berusi 32 tahun dan memiliki dua orang anak. Jadi, cukup wajar ketika dia ingin melakukan operasi ini. Sebab, di banyak kasus, perempuan yang sudah pernah menyusui ekslusif, biasanya bentuk payudaranya turun dan ini yang membuat kepercayaan diri perempuan turun.

Alhasil, tindakan operasi pun dilakukan. Ekatarina memilih ahli bedah plastik terkenal di Moskow, Grigory Perekrestov, yang berpraktik di Triumph Place, untuk mengontruksi ulang bentuk payudaranya. Nah, pilihan itu lah yang kemudian menimbulkan masalah besar hingga Ekatarina meninggal dalam kondisi mengenaskan di klinik sebelum akhirnya dia bisa melihat bentuk akhir payudaranya.

Dilansir dari Daily Mail, Jumat (27/4/2018) awalnya tidak ada masalah yang terjadi. Ekatarina dinyatakan sehat dan diperbolehkan melakukan treatment pembesaran dan pengencangan payudara. Namun, setelah tindakan operasi dilakukan, tubuh Ekatarina mengalami masalah serius, gangguan jantung!

Ya, Ekatarina mengalami gagal jantung akut yang dikaitkan dengan operasi plastik yang dia jalani. Kabar ini pun langsung diketahui pihak keluarga dan langsung melaporkan kejadian menyedihkan tersebut ke Badan Kriminal Utama Rusia.

Ibu dari Ekatarina, Evgenia, yang mengajukan gugatan tersebut. “Saya bisa jamin, puteri saya sebelum datang ke rumah sakit dalam keadaan sehat. Secara prosedur juga tentunya izin diperbolehkannya operasi plastik jika pasien tidak memiliki masalah kesehatan sebelumnya,” tegasnya.

Evgenia melanjutkan, pihaknya sangat menyesalkan apa yang terjadi pada anaknya tersebut. “Kami putus asa, kami terbunuh, hidup kami berakhir. Seluruh keluarga seperti kehilangan seseorang yang paling dicintai. Seorang wanita cantik, sehat, dan cerdas seperti Ekaterina,” sambung ibunya.

Di lain sisi, klinik bedah plastik Grigory meyakinkan bahwa semua prosedur dilakukan “dengan benar”. Tindakan operasi yang dilakukan pada Ekaterina berjalan sesuai dengan SOP yang berlaku dan tidak ada kesalahan manusia dalam tindakan ini.

Sementara itu, untuk melakukan tindakan operasi plastik ini, Ekaterina mesti merogoh kocek sekitar Rp 26 juta untuk 5 jam treatment. Namun, Tuhan berkata lain, 2 jam setelah operasi berlangsung, Ekaterina meninggal dunia.

Related Articles