Dunia

Perempuan gaza Unjuk rasa di perbatasan Israel

Jalur Gaza – Di antara tenda di sepanjang perbatasan Israel dengan Gaza, perempuan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam unjuk rasa sepanjang delapan pekan, yang mengubah daerah terlarang itu.

Beberapa di antara mereka menyediakan makanan, air atau menulis di media sosial, bahkan ada yang turut menggelindingkan ban terbakar serta melempar bebatuan ke arah pagar Israel.

Sejak 30 Maret, ratusan perempuan ikut dalam unjuk rasa dengan membawa keluarga mereka.

“Beberapa orang bilang bahwa kami tidak bisa melakukan tugas seperti pria, beberapa yang lain khawatir kami akan terluka. Tapi, ada juga yang memberanikan kami,” kata Aya Baeid (18) kepada Reuters.

Sudah dua kali Abeid berhasil mengibarkan bendera di pagar kawat berduri, yang memisahkan Gaza dari Israel. Padahal, hampir semua orang tidak berani mendekati tempat itu, terutama setelah 40 warga Palestina tewas ditembak tentara Israel.

Meski tidak ada korban di kalangan perempuan, sedikit-dikitnya 250 wanita terluka karena tembakan tentara Israel.

Abeid memberanikan diri mendekati pagar hanya dengan katapel.

“Pada dua pekan lalu, paha saya terluka saat menggelindingkan ban. Semoga saya bisa datang pada Jumat ini dan melakukan yang biasa saya lakukan. Ketapel saya sudah siap,” kata dia.

Unjuk rasa dengan ribuan warga Palestina mendirikan tenda di perbatasan itu bertujuan memperingati hari Nakba pada 2018, yang bagi Israel adalah hari kemerdekaan ke-70. Namun, pada hari itu, banyak warga Palestina kehilangan tanah dan terusir dari kampung halamannya hingga saat ini.

Dua pertiga dari dua juta penduduk Gaza adalah pengungsi dan keturunan pengungsi perang tahun 1948 itu. Ribuan di antara mereka menggelar unjuk rasa bertajuk “Pawai Besar untuk Kembali” untuk menuntut dikembalikannya tanah dan rumah yang kini berada di Israel.

Israel menolak tuntutan itu karena khawatir akan negara mereka akan terlalu banyak orang non-Yahudi. Usulan alternatif seperti memberikan tanah ganti di wilayah negara Palestina pada masa depan sudah dibicarakan sejak tahun 1993, namun hingga kini selalu menemui jalan buntu.

Dalam sebuah tenda di Khan Younis, seorang perempuan bernama Taheyah Qdeih mengisi botol-botol kosong dengan air untuk dibagikan kepada pengunjuk rasa yang menginap di dalam tenda sepanjang perbatasan.

Perempuan yang sudah berusia 49 tahun, yang keluarganya sempat punya rumah di Jaffa tidak jauh dari Tel Aviv itu, berjanji akan terus melakukannya hingga demonstrasi usai.

“Saat masih muda dulu, saya biasa melempar batu ke arah para tentara. Saya berasal dari Jaffa dan saya masih menaruh harapan untuk kembali. Apakah saya gila? Tidak,” kata dia.

Seorang ibu lain berusia 48 tahun bernama Jehad Abu Muhsen membawa 15 ban dengan dokar. Dia mengumpulkannya dari bengkel-bengkel mobil.

“Saya melakukannya tiga atau empat hari dalam satu pekan. Ini adalah apa yang bisa saya lakukan untuk membantu,” kata dia kepada Reuters.

Sementara itu, Sharouq Abu Musameh, mahasiswi keperawatan, bersama 15 temannya memutuskan untuk secara sukarela menjadi petugas kesehatan di perbatasan tersebut.

“Saya ingin menyumbang dalam tuntutan untuk kembali ini,” kata dia sambil mengenakan seragam serba putih dengan bercak darah.

Related Articles