Ekonomi & Bisnis

Ekonomi Malut tumbuh 6,9 persen

Ternate – Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara (Malut) menyatakan, ekonomi provinsi ini pada triwulan I tahun 2018 tumbuh sebesar 7,54 persen, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 6,9 persen.

“Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh pertumbuhan di sektor administrasi pemerintahan, sektor pertambangan dan sektor konstruksi, karena salah satu realisasi pemerintah Malut salah satu yang terbaik di Indonesia, bahkan paling terbaik di Kawasan Timur Indonesia (KTI),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malut, Dwi Tugas Waluyanto di Ternate, Jumat.

Menurut Dwi, meskipun inflasi triwulan I 2018 meningkat lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya, namun masih terjaga pada level yang lebih rendah. Inflasi tersebut terutama dipicu kenaian tarif listrik dan efek lanjutan dari kenaikan cukai rokok pada awal tahun 2017 yang lalu.

Dia mengatakan, pada triwulan I 2018 realisasi belanja pemerintah menunjukan angka yang cukup baik, karena hal tersebut terindikasi mendorong peningkatan sektor konstruksi dan sektor perdagangan, sebab telah berlangsun proyek irigasi dan pembangunan jalan di Halamahera.

Sedangkan untuk indikator kesejahteraan, meskipun presentase penduduk miskin dan pengangguran tingkat terbuka semakin meningkat, tapi secara umum masih terendah di KTI.

Namun demikian Pemerintah diharapkan melakukan langkah tambahan antisipatif agar jumlah tersebut tidak semakin meningkat, karena salah satunya melalui peningkatan nilai tambah pada sektor-sektor primer Malut diantaranya perkebunan, perikanan, pertambangan dan sektor tersier Malut seperti jasa perdagangan dan pariwisata.

Selain itu, pada triwulan berjalan, pertumbuhan ekonomi Malut diproyeksikan akan mengalami sedikit perlambatan, dibandingkan triwulan I 2017 dan hal tersebut disebabkan pertumbuhan sektor pertambangan, sektor industri pengolahan dan sektor administrasi pemerintahan yang tidak setinggi pada triwulan sebelumnya.

Apalagi, dengan adanya inflasi akan mengalami tantangan cukup berat, sebab selain memasuki bulan ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, harga sejumlah sembako mulai naik.

Related Articles