Nasional

Persekusi Susi Ferawati, Praktisi Hukum: Polisi Harus Menindak Tegas

JAKARTA – Susi Ferawati, korban intimidasi dan persekusi di tengah massa berkaus #2019GantiPresiden saat Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia Jakarta resmi melapor ke Polda Metro jaya.

Laporan pertama Fera tertuang dalam nomor laporan TBL/2374/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tanggal 30 April 2018. Pelaku yang dilaporkan masih dalam penyelidikan.

Perkara yang dilaporkan adalah perlindungan anak dan perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman kekerasan dan pengeroyokan sesuai pasal 77 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 335 KUHP dan Pasal 170 KUHP.

Laporan yang kedua teregister dengan nomor TBL/2376/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tanggal 30 April 2018. Pelaku yang dilaporkan dalam kasus ini adalah akun Twitter @NetizenTofa.

Perkara yang dilaporkan adalah pengancaman melalui media elektronik sesuai Pasal 27 (4) juncto Pasal 45 (4) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Praktisi Hukum M Zakir Rasyidin mengatakan, dugaan tindakan intimidasi dan persekusi yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut, tentu menurunkan kualitas diri mereka dalam memahami demokrasi yang Sehat.

“Sebab korban persekusi ini adalah anak kecil bersama Ibunya,” ujar Zakir di Jakarta, Selasa (8/5).

Menurutnya, dalam negara demokrasi siapapun tidak dilarang untuk berekspresi. “Mau menggunakan tagar Ganti Presiden, atau apa aja, tidak dilarang. Tapi Jangan sampai kebebasan berdemokrasi justru berubah menjadi tindak pidana,” tegas Zakir.

“Karena bukan tidak mungkin korban persekusi tersebut akan menggunakan hak hukumnya sebagai warga negara yang ingin bebas dari Intimidasi dan pengekangan,” tambahnya.

Karenanya, lanjut Zakir, dia berharap Kepolisian menindak tegas pelaku persekusi ini. “Agar supaya dapat menjadi pelajaran ke depannya, bahwa kebebasan berdemokrasi tidak boleh dimaknai secara bebas, termaksud bebas mencederai orang lain,” tutup Ketua Umum Majelis Advokat Muda Nasional Indonesia (Madani) ini.

Seperti diketahui, Susi Ferawati dan anaknya pada Minggu 29 April 2018 sedang berada di acara CFD di kawasan Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.

Fera yang kala itu mengenakan kaos bertuliskan #DiaSibukKerja, tiba-tiba mendapatkan intimidasi dari sekelompok orang yang memakai kaus #2019GantiPresiden.

“Secara psikologis kita di-bully, dikatain, ‘Cebong, lu.’ Terus apa lagi, nasi bungkus. Saya kayak diarak seperti itu,” kata Fera usai melapor di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (30/4).

Mendengar hal itu, anak Fera langsung menangis dan memeluk ibundanya. Namun, menurut Fera, intimidasi terus berlanjut, bahkan sekelompok orang itu menyodorkan makanan secara paksa ke mulut Fera.

“Lalu anak saya nangis di pelukan saya, terus saya tetap disawer-sawer (uang) ke muka saya, ke wajah saya. Ada yang ngata-ngatain saya. Dijejelin ke mulut saya lontong, makanan. Saya tangkis. Saya hanya kuatkan. Saya lawan mereka. Saya pelototin mereka,” ujar Fera.

Fera memberanikan diri melawan intimidasi itu. Dia bertahan demi anaknya yang merasa ketakutan. “Harus (berani), demi anak saya. Saya wanita sendiri di situ. Keadaan saya sendiri dikerumuni banyak orang, lebih dari 50 orang. Laki-laki semua. Coba bayangkan keadaan yang ada di situ,” pungkasnya.

Tags

Related Articles