Politik

Oposisi Menang di Malaysia, Waspada di Import ke Indonesia

Jakarta – Pemelihan pemimpin Malaysia telah finish, politisi senior memenangkan pemilihan raya tersebut. Ya, Mahathir Mohammad keluar sebagai pemenang mengalahkan Tun Najib Rajak.

Kemenangan Mahathir membuat, Koalisi oposisi Pakatan Harapan secara mengejutkan mengakhiri lebih dari separuh abad kekuasaan Barisan Nasional dalam pemilihan umum Malaysia.

Untuk pertamakali dalam sejarah Barisan Nasional gagal berkuasa. Kekalahan PM Najib Razak dalam pemilu kali ini menempatkan seorang veteran politik sebagai pahlawan kejutan, Mahathir Mohammad.

Menjelang matahari terbit, penghitungan suara sementara akhirnya mengumumkan Pakatan Harapan memperoleh mayoritas sederhana dengan 112 kursi dari 222 kursi di parlemen.

Dengan begitu Mahathir Mohammad berpeluang kembali memimpin Malaysia setelah 15 tahun menikmati masa pensiun.

Kemenangan oposisi di Malaysia, juga menjadi ancaman besar bagi partai yang berada dalam lingkaran Pemerintah, mengingat jika oposisi Malaysia di import ke Indonesia, maka oposisi bisa saja menjadi pemenang Pilpres.

Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi memprediksi, Pemilu Presiden 2019 hanya mengulangi drama yang sama pada Pilpres 2014 yakni Joko Widodo melawan Prabowo Subianto.

“Menurut saya, dalam menghadapi Pilpres 2019, yang bertarung hanya dua paket yakni pasangan Joko Widodo dan Prabowo Subianto,” kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Jumad terkait peluang paket yang bertarung pada Pilpres 2019 mendatang.

Prediksi ini setelah melihat perkembangan koalisi partai pendukung Pilpres 2019, dimana gerbang besar telah merapat ke Jokowi.

“Fakta politik menunjukkan bahwa gerbong besar telah merapat ke Jokowi, dan praktis hanya tersisa Partai Keadilan Sejahtera dan Gerindra dan juga mungkin PAN,” katanya.

Polarisasi ini telah terbentuk sehingga muncul paket calon Presiden-Wakil Presiden sangat mungkin tidak akan terealisasi, katanya.

Selain foktor polarisasi parpol pendukung, juga belum muncul figur calon presiden yang benar-benar menarik minat partai untuk membelah diri.

Dengan demikian, sudah pasti yang akan bertarung pada 2019 akan drama yang sama pada tahun 2014 antara Jokowi vs Prabowo.

Mengenai poros baru, dia mengatakan, poros baru yang digagas Partai Demokrat masih sebatas wacana.

“Kalau poros baru masih wacana karena tidak punya figur yang setara dengan Jokowi dan Prabowo,” katanya.

Dia menambahkan, jika dua calon ini berhadapan kembali dalam Pilpres 2019, maka peluang kemenangan tetap berada di tangan Jokowi.

Sebagaimana hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga, Jokowi selalu ditempatkan pada posisi teratas, namun hal itu bisa juga berbeda saat pilpres dimulai.

Related Articles