Nasional

Dewan Pers : Media Tidak Terverifikasi salahgunakan kebebasan

Jakarta – Dewan Pers menyatakan dalam masa 20 tahun setelah reformasi, masih ada media abal-abal yang menyalahgunakan kebebasan pers dengan memeras perorangan atau lembaga.

“Masiha ada yang menyalahgunaan kebebasan pers untuk membuat media dan praktiknya abal-abal, memeras menggunakan nama-nama lembaga,” ujar Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo di Jakarta, Rabu.

Dari 47 ribu media yang ada di Indonesia, kata dia, hanya sekitar dua ribu yang terverifikasi.

Yosep mengatakan media abal-abal yang menyebarkan berita bohong dan memojokkan orang harus bersama diperangi pewarta media arus utama, salah satunya dengan tetap menjaga profesionalismenya.

Dengan menjalankan fungsi secara benar, pewarta media arus utama akan meraih kepercayaan masyarakat sehingga ruang media abal-abal semakin sempit.

Apalagi, berdasarkan survei The Economist, ucap Yosep, sebanyak 87 masyarakat Indonesia percaya kepada media arus utama.

“Di Indonesia, orang percaya pemerintah, lebih tinggi lagi pada media, media masih dianggap benar meskipun media terbelah juga dalam beberapa kubu saat pemiliknya masuk ke partai-partai politik,” tutur dia.

Untuk itu, marwah jurnalisme profesional harus dijaga demi menjaga kepercayaan masyarakat.

Menurut Yosep, kini media besar yang masih independen, pemiliknya tidak bergabung dengan politik dan mempraktekkan “good journalism” masih ada.

“Itu yang menjadi teladan di saat ada pemilik media yang nimbrung jadi pemilik partai atau nyaleg, tunjukkan yang setia umurnya panjang,” ucap Yosep.

Related Articles