Jumat, 1 Juni 2018 - 09:56 WIB

Minta Presiden Mundur, 15 tewas

Nikaragua – Sedikitnya 15 orang tewas dan 200 orang lebih cedera pada Rabu (30/5), dalam kerusuhan paling parah sejak protes terhadap Presiden Nikaragua Daniel Ortega dimulai lebih dari satu bulan lalu, kata polisi pada Kamis.

Pertumpahan darah tersebut dikutuk oleh Konferensi Uskup Katholik di negara Amerika Tengah itu, yang menyebutnya “agresi yang sistematis dan teratur” dan menghentikan pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan pada Kamis dengan pemerintah.

Beberapa saksi mata mengatakan kelompok bersenjata pro-pemerintah melepaskan tembakan terhadap peserta pawai selama demonstrasi pada Rabu, Hari Ibu Nikaragua. Pawai tersebut diadakan untuk mengenang anak-anak yang termasuk di antara 80 orang yang tewas sejak protes dimulai.

“Jumlah orang yang tewas akibat aksi kelompok penjahat yang beroperasi sambil memakai topeng ialah 15,” kata Wakil Direktur Polisi Nasional Francisco Diaz, sebagaimana dikutip Reuters –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang. Ia mengatakan tujuh di antara korban tewas meninggal di Ibu Kota Nikaragua, Managua. Ia menyatakan 218 orang lagi cedera.

Militer menyatakan sedang merawat sebagian orang yang cedera, termasuk beberapa perwira polisi.

Organisasi hak asasi manusia setempat, CENIDH, di dalam satu pernyataan, mengatakan peristiwa Rabu telah menewaskan 16 orang, dan 100 orang telah tewas sejak protes dimulai.

Pemerintah membantah tuduhan kelompok hak asasi bahwa para penyerang adalah pendukung pemerintah dan mengatakan pemerintah tidak bertanggung-jawab atas kerusuhan sejak protes pimpinan mahasiswa dimulai pada April, yang dipicu oleh perubahan yang diusulkan bagi sistem keamanan sosial.

Parlemen Eropa pada Kamis mengutuk apa yang disebutnya “penindasan brutal” di Nikaragua dan menyerukan pemilihan umum. Parlemen Eropa mengumandangkan seruan agar Daniel Ortega menyelenggarakan pemilihan presiden 2021 lebih dini.

Dalam satu tanda bahwa Ortega menanggapi tekanan internasional, pemerintah dan Organisasi Negara Amerika mengeluarkan pernyataan yang mengatakan kepala komisi pemilihan umum –Roberto Rivas– telah mundur.

Pada Desember, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi atas Rivas, dengan tuduhan ia mengumpulkan kekayaan di luar penghasilannya termasuk kapal pesiar dan jet pribadi, dan menuduh dia melakukan kecurangan pemilihan umum.

The post Minta Presiden Mundur, 15 tewas appeared first on Metro Surabaya.

Artikel ini telah dibaca 59 kali

loading...
Baca Lainnya

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

Waspada KAMI Goyang Kursi Presiden

Oleh : Haris Muwahid Masyarakat makin antipati terhadap Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena mereka...

28 September 2020, 00:16 WIB

Banyak Pihak Dukung Penanganan Covid-19

Oleh : Reza Pahlevi Pandemi belum berakhir dan pemerintah berusaha keras mengatasi efek negatifnya. Caranya...

28 September 2020, 00:07 WIB

RUU Cipta Kerja Mengatur Pengupahan Agar Pekerja Lebih Sejahtera

Oleh : Edi Jatmiko RUU Cipta Kerja merupakan salah satu terobosan untuk meringkas hiper regulasi....

27 September 2020, 09:27 WIB

loading...