Kamis, 7 Juni 2018 - 09:33 WIB

Di Negara Ini ada Wisata Seks Anak

Bogota – Anak-anak di seluruh dunia semakin rentan menjadi korban kekerasan seksual oleh warga negara sendiri dibanding wisatawan asing yang sengaja mencari aktivitas seks ilegal, kata sejumlah pakar perdagangan manusia pada Rabu.

Gambaran umum predator seksual kini bukan lagi seorang kulit putih setengah baya yang kaya dari negara Barat, melainkan para pelancong usaha, pekerja migran, dan turis lokal di negara atau kawasan sendiri, kata para pakar dalam konferensi internasional untuk perlindungan anak dalam pariwisata di Bogota.

Pada level global, sekitar 1,2 juta anak diperkirakan menjadi korban kekerasan seksual dan kerja paksa, demikian catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO).

Wisata seks anak semakin merebak akibat biaya perjalanan yang semakin murah dan teknologi internet seperti aplikasi pengirim pesan instan yang memudahkan para predator untuk mencari anak-anak yang rentan melalui identitas anonim, kata para pembicara dalam konferensi di Bogota.

“Monster yang kita hadapi tidak lagi sama seperti yang kita kenal beberapa tahun lalu. Profil mereka berubah sangat banyak sehingga kita harus semakin waspada,” kata Sandra Howard, wakil menteri pariwisata Kolombia.

Tumbuh pesatnya industri pariwisata beriringan dengan semakin besarnya resiko dan kerentanan anak terhadap para predator seksual, kata Howard kepada Thomson Reuters Foundation.

“Sebagian pelaku memang berasal dari kawasan asing, namun sebagian besar adalah para pelancong domestik dan regional,” kata Dorothy Rozga, kepala lembaga anti-perdagangan manusia ECPAT International.

Profil pelaku kini bukan lagi seorang mantan narapidana pedofilia dari negara-negara Barat yang melarikan diri ke kawasan baru untuk mencari korban baru, melainkan para oportunis yang yakin mereka bisa lolos dari jeratan hukum, demikian laporan ECPAT pada 2016 lalu.

Kejahatan seksual terhadap anak juga diperparah oleh toleransi sosial dan impunitas yang dihasilkan dari tingkat hukuman yang rendah, kata Najat Maala M’jid, yang mengepalai sebuah satuan tugas global untuk menghapus eksploitasi anak di bidang perjalanan dan wisata.

“Toleransi terhadap kejahatan ini terus naik,” kata dia dalam konferensi yang sama.

“Selama saya bekerja, saya telah mengunjungi banyak negara dan apa yang membuat saya marah adalah, tindakan ini dianggap normal,” kata M’jid, seorang mantan pakar PBB dalam bidang perdagangan anak, prostitusi anak, dan pornografi.

Warga lokal yang mengetahui tempat-tempat wisata seks bisa membantu dengan melaporkan kejahatan ini, kata Karen Abudinen, kepala badan perlindungan anak Kolombia (ICBF).

Sepanjang dua tahun terakhir, ICBF telah membantu 662 anak, sebagian besar di antaranya adalah remaja putri, yang menjadi korban eksploitasi seks komersial di Kolombia.

The post Di Negara Ini ada Wisata Seks Anak appeared first on Metro Surabaya.

Artikel ini telah dibaca 77 kali

loading...
Baca Lainnya

Pemerintah Mempercepat Aturan Turunan UU Cipta Kerja

Oleh : Putu Prawira Pemerintah merancang aturan turunan UU Cipta Kerja berupa rancangan peraturan presiden...

27 November 2020, 07:24 WIB

Hadiri Launching Wakepo, Kapolresta Tangerang Dukung Penguatan Ini

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi menghadiri launching program Wakepo besutan...

26 November 2020, 23:46 WIB

Kerumunan Habib Rizieq Timbulkan Cluster Baru Covid-19

Oleh : Deka Prawira Cluster covid-19 di Jakarta terbentuk lagi, dari 2 acara yang dihadiri...

26 November 2020, 23:32 WIB

RUU BPIP Memperkuat Pancasila

Oleh : Putu Raditya Kehadiran RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) memang sempat menuai kritik. Regulasi...

26 November 2020, 23:23 WIB

Masyarakat Apresiasi Pembangunan Jalan Trans Papua

Oleh : Rebecca Marian Pembangunan di Papua sangat diapresiasi oleh masyarakat. Mereka merasa lebih maju...

25 November 2020, 20:04 WIB

Masyarakat Menolak Safari Habib Rizieq di Daerah

Oleh : Abdul Rahman Terjadi banyak penolakan terhadap safari ceramah yang akan dihadiri oleh Habib...

25 November 2020, 15:09 WIB

loading...