Regional

ICAIOS Gelar Roadshow Putar Film Yang Digarap Siswa SMA

Aceh Utara. International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) bekerjasama dengan PPIM, FKPT Aceh menggelar roadshow Pemutaran dan Diskusi Film Pendek, dengan mengusung tema Pencegahan Kekerasan dan Ekstrimisme Untuk Genetasi Muda

“Kota-kota yang terpilih menjadi tuan rumah roadshow adalah Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Aceh Tenggara, dan diakhiri di SMAN I Matangkuli Kabupaten Aceh Utara, sementara acara penutupan nanti dilaksanakan di Banda Aceh,”tutur  Pelaksana Project Assisten ICAIOS, Pratitoh Arafat kepada media ini, Senin (16/07/2018).

Seraya dia menambahkan diputarnnya film yang diperankan oleh siswa/i SMA tersebut, adalah film terbaik dari hasil lomba yang dilaksanakan ICAIOS sejak bulan Januari 2018 lalu. 

Peserta lomba ini adalah siswa/i SMA diseluruh propinsi Aceh. Untuk juara 1,2 dan 3 masing – masing diraih SMAN  7 Banda Aceh dengan judul Jihadis Syurga, SMAN I Matangkuli film berjudul Bantu Doa, dan  SMAN I Ingin Jaya judul film Setangkai Mawar Merah hasil karya siswa SMAN I Ingin Jaya, 

Sedangkan peraih juara hiburan yakni SMAN Modal Bangsa (judul film Voice Note) dan Dayah Babussam Matangkuli (judul film Dayah Online).

“Film yang diputar ini, untuk menciptakan media yang ramah untuk anak muda, yakni film, untuk menyampaikan pesan – pesan terkait pencegahan ekstrimisme dan kekerasan,”ucap Pratitou Arafat.

Kegiatan yang dilakukan di Aula SMAN I Matangkuli, Aceh Utara pada hari Senin 16 Juli 2018 yang dihadiri ratusan siswa/i dengan menghadirkan para pemateri dari Polres Aceh Utara, terkait Pencegahan Kekerasan dan Ekstrimisme untuk Generasi Muda.

Dalam paparannya, Sat Binmas Polres Aceh Utara,  Brigpol Musyawir mengatakan  radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal/ekstrem dlm sebuah ideologi beragama dan berpolitik. Ciri – ciri generasi muda yang terpapar radikalisme yaitu Fanatik terhadap pendapat sendiri dan tidak mengakui pendapat orang lain, ketaatan yang mutlak terhadap pimpinan kelompok dlm setiap hari,  menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat luar, menggunakan kekerasan dalam mewujudkan keinginan.

“Karena remaja merupakan kelompok yang sangat rentan penularan paham radikal dan anti pancasila.  Adapun faktor yang mempengaruhi yaitu Ideologi, emosi keagamaan, Politik, ekonomi dan Sosial budaya,” jelasnya.

Dikatakannya.  bahwa mereka  tercuci otaknya oleh propaganda yang dilakukan para pelaku melalui media massa, medsos, buku/majalah, hubungan keluarga, kerabat, komunikasi langsung dengan  bentuk dakwah, lembaga pendidikan dan pesantren. Pencegahannya,  dengan memperkenalkan dan memahamkan masyarakat mengenai bahaya paham radikal terhadap Kamtibmas dan NKRI, para ulama/toga membantu masyarakat menyaring pandangan yang sesuai dengan ideologi bangsa, saling menjaga keharmonisan sosial dan kerukunan antar umat beragama. 

“Solusinya yaitu peran rumah/tempat ibadah, peran dan tanggung jawab orang tua, peran lembaga adat, peran tokoh masyarakat. Jadi radikal itu tidak sesuai dengan ajaran islam dan islam tidak mengajarkan radikal, Agama yang lain pun tidak mengajarkan yang nama nya radikalisme,” simpulnya.

Kepala SMAN I Matangkuli, Drs.Ridwan kepada media ini mengatakan tujuan pemutaran dan diskusi film pendek untuk dapat menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, tercegah dari kekerasan dan ekstrimisme. Peserta nampak sangat antusias mengikuti acara ini

“Melalui kegiatan ini semoga semakin banyak generasi muda yang kreatif, inovatif yang dapat membawa perubahan positif untuk Aceh,” katanya. (*)

loading...
Tags

Related Articles