Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dan nilai tukar rupiah akan membaik pada akhir tahun ini, sejalan dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah.

“Saat ini ada masalah rupiah, tapi nanti akan bisa dibereskan beberapa bulan ke depan. Mungkin empat bulan dari sekarang. Ini paling tidak menahan rupiah di sekitar Rp14 ribu dan mungkin secara bertahap bisa turun ke bawah lagi,” ujar Luhut di Jakarta, Kamis (2/8).

Ia menjelaskan upaya yang dilakukan pemerintah fokus pada tiga sektor yang menyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Dengan demikian, CAD bisa membaik dan berdampak pada penguatan rupiah.

Pertama, meningkatkan ekspor kelapa sawit dengan menjaga harga dan meningkatkan produksi. Pemerintah, katanya, telah bekerja sama dengan Malaysia, sesama negara terbesar penghasil kelapa sawit untuk terus menjaga harga. Caranya, dengan meningkatkan produksi Biodiesel 20.

“Dengan biodiesel itu harga sawit bisa naik di kisaran US$750-800 per ton. Itu akan membuat kemakmuran pada masyarakat dan masalah kemiskinan yang dikatakan bekas pemimpin itu (SBY) bisa berkurang dengan cepat,” katanya.

Selanjutnya dari sisi produksi, pemerintah akan meremajakan (replanting) sekitar 2,8 juta hektar lahan sawit milik petani kecil, sehingga lahan lebih subur dan jumlah produksi membengkak.

Ia memperkirakan produksi kelapa sawit bisa meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar 37 juta ton per tahun saat ini menjadi 60 juta ton per tahun. “Ini nanti revenue (pendapatan) negara dari sawit bisa meningkat, padahal belum kami bicara hilirnya,” terangnya.