Tak Ada Progres Pembangunan, Pembeli Apartemen The Cityland Jatibening Bekasi Tuntut Uang Dikembalikan

  • Whatsapp

Bekasi – Abner Simamora (45) warga Perumahan Puri Gading, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, mengaku merasa dirugikan karena telah mengeluarkan uang Rp346 juta untuk pembelian satu unit apartemen The Cityland Jatibening seharga Rp530 juta pada 2015 lalu. Namun sampai batas penyerahan kunci pada Desember 2017, unit apartemen yang dijanjikan tidak kunjung dibangun oleh pihak pengembang.

“Saya menuntut uang saya dikembalikan sebesar Rp571 juta dengan rincian Rp346 juta yang telah dibayarkan ke pihak pengembang, Rp200 juta kerugiaan materil yang mengacu pada bunga bank dan investasi serta uang sewa rumah karena unit belum jadi sebesar Rp25 juta. Pembelian unit apartemen tipe 1 KT ini dibayar secara tunai bertahap dengan tanda jadi Rp10 juta, uang muka Rp106 juta dan angsuran 20 kali sebesar Rp11.500.000 setiap bulannya,”ucapnya, Kamis (6/8/2018).

Menurut dia, pihak pengembang sudah berjanji melalui surat pernyataan bahwa serah terima kunci akan dilaksanakan pada akhir 2017. Namun sampai sekarang, tidak ada progres pembangunan di lokasi proyek.

Bahkan dirinya telah melayangkan gugatan ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bekasi di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, dan mengikuti persidangan tahap ke tiga pada Kamis (6/9/2018). Setelah dua kali tidak memenuhi panggilan BPSK, pihak pengembang PT Desindo Wijaya Tama akhirnya mengutus kuasa hukumnya bernama Maulana.

Dalam persidangan itu, Majelis Hakim berkali-kali mencecar pertanyaan soal penyebab tidak dibangunnya apartemen yang terletak di Jalan Caman Nomor 75, Jatibening, Pondokgede, Kota Bekasi, tersebut. Apalagi gugatan serupa kepada Desindo Wijaya Tama di BPSK Kota Bekasi cukup banyak.

“Meski sedang mengalami kesulitan finansial, kami akan tetap membangun unit apartemen tersebut dengan mencari rekanan baru,”ucap Maulana dalam sidang

Kepada Ketua Majelis Ferry Lumban Gaol, Maulana meminta agar kasus tersebut diselesaikan dalam tahap arbitrase. Pasalnya, tahapan mediasi dan konsolidasi yang dilakukan pengembang dengan Abner tidak kunjung menemui kesepakatan.

“Berdasarkan putusan dari manajemen, kami meminta agar penyelesaian dilakukan melalui tahapan arbitrase karena mediasi dan konsolidasi sudah pernah dilakukan dengan saudara Abner,”tutup Maulana.

Pos terkait

loading...