Minggu, 9 September 2018 - 18:07 WIB

Alasan Nelayan Bali tetap tangkap Lobster

Denpasar – Berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, lobster ukuran di bawah 200 gram dilarang untuk ditangkap. Terlepas dari aturan ini, nelayan Bali daerah Tabanan dan Jembrana tetap menangkap lobster di bawah batas berat minimum diperbolehkan.

Pihak nelayan beralasan, penangkapan lobster di bawah 200 geram tidak membuat populasi lobster berkurang di perairan wilayah Bali serta dikabarkan sudah berkordinasi dengan dinas setempat. Selain itu dikatakan lobster jenis pasir ditangkap nelayan merupakan spesies punya ukuran dewasa paling kecil dikelasnya.

“Banyak lobster pasir bertelur di bawah 200 geram, berbeda dengan jenis mutiara bertelor di atas berat 300 geram. Ini menandakan lobster pasir perairan Bali dibawah 200 geram sudah dewasa. Jika ini disamakan seperti di daerah lain, jelas tidak adil,” terang seorang nelayan, Minggu (09/09)

Ketua Kelompok Nelayan Desa Yeh Gangga Tabanan Dewa Putu Tulus membenarkan, selama ini dikatakan banyak nelayan mengeluh lantaran tidak diperbolehkan melakukan penangkapan di bawah setandar dan merasa terintimidasi dengan aturan.

Setelah ada berita diberi kelonggaran penangkapan di bawah 200 geram bisa dipasarkan untuk kalangan lokal, belakangan para nelayan mulai melaut. “Namun pasar lokal sifatnya terbatas, ketika musim datang pihak pengepul belum tentu bisa menampung, ” ujarnya.

Menurutnya letak geografis struktur karang sebagai abitat lobster di perairan Bali sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Pihaknya tidak memungkiri, pada kedalaman tertentu banyak ditemukan lobster berbagai jenis di atas 200 geram. Sedangkan untuk menangkapnya selain punya keberanian dikatakan diperlukan biaya cukup tinggi dan praserana keamanan harus memadai.

“Sementara nelayan di sini hanya mengandalkan jaring dan bubu sebagai sarana alat tangkap ramah lingkungan. Semua tahu hasil tangkapannya lebih banyak jenis pasir berat 100-200 geram. Jika aturan dipaksakan hanya 20 persen tangkapan lobster Bali bisa dijual. Tentu nelayan kecewa dan berhenti melaut,” pungkasnya.

Disinggung terkait sosialisasi pemerintah untuk membuat keramba penangkaran dikatakan tidak berjalan mulus seperti daerah lain. Arus kuat serta gelombang tinggi pantai selatan Bali menjadi faktor kendala. Bahkan disebut-sebut banyak nelayan mengalami kerugian lantaran tempat penangkaran hilang tergerus arus.

“Kami nelayan Bali pernah mengalami tarauma mendalam dan putus asa, kalau diceritakan pristiwanya miris untuk didengar. Bahkan saat itu Deputi Sumber Daya Alam Kemenko, Dr. Melani menangis melihat nasib kita,” ceritanya.

Pernyataan senada juga disampaikan Zulkarnain selaku Ketua Kelompok Nelayan Silam Getek Lobster Medewi Jembrana, diakui pada dasarnya nelayan lobster sudah pasrah dan menyerah. Adanya didengar tentang kelonggaran penangkapan diperkirakan membawa angin segar bagi nelayan.

Namun pihaknya mengaku bingung lantaran dinas belum menerbitkan surat rekomendasi dan terkesan saru geremeng alias tidak pasti. Dilain pihak aparat keamananan sering mengadakan razia dan kunjungan ke nelayan dan pengepul. Dijelaskan kesadaran nelayan untuk tidak menangkap lobster yang bertelur sudah cukup tinggi. Lobster masa reproduksi jika terkena alat tangkap dipastikan langsung dilepas.

Menurutnya jika ditemukan ada lobster bertelor di pasaran, dituduhkan merupakan ulah oknum berkedok nelayan yang hanya mementingkan keuntungan pribadi. “Jika seorang nelayan murni, pasti tahu setiap ekor lobster bertelur menghasilkan 17 ribu sampai 18 ribu larva, masak kita menghancurkan ladang sendiri,” tegasnya.

Ia berharap pihak terkait memperhatikan kondisi di lapangan serta melakukan kajian mendalam terkait letak giografis, ekonomi, sosial dan budaya. Selama ini para nelayan mengaku dalam bayang ketakutan dan merasa tertekan. ” Sudah kondisi ekonomi kurang tambah ditekan dan ditakut takuti, menyedihkan kita sebagai rakyat kecil,” keluhnya.

Artikel ini telah dibaca 246 kali

loading...
Baca Lainnya

Wabup Barsel Aty Djoedir Rayakan Ultah Ke-64 Tahun

Buntok – Wakil Bupati Kabupaten Barito Selatan, Satya Titik Atyani Djoedir merayakan ulang tahunnya yang...

19 September 2020, 06:16 WIB

3 Pilar Tangerang Gelar Operasi Yustisi di Pasar Sentiong Balaraja

TANGERANG – Tiga pilar Kabupaten Tangerang yakni Polresta Tangerang, Pemkab Tangerang, dan Kodim 0510 Tigaraksa...

18 September 2020, 21:33 WIB

Polsek Cisoka Edukasi Komunitas Pedagang Terkait Protokol Kesehatan

TANGERANG – Jajaran Polsek Cisoka Polresta Tangerang Polda Banten menggelar sosialisasi dan edukasi terkait penerapan...

18 September 2020, 21:19 WIB

Disiplinkan Masyarakat Terapkan Prokes, Polsek Tigaraksa Bagi-bagi Masker

TANGERANG – Jajaran Polsek Tigaraksa Polresta Tangerang Polda Banten membagikan ratusan masker kepada santri Pondok...

18 September 2020, 21:15 WIB

Operasi Prokes, Polsek Kronjo Temukan Puluhan Masyarakat Tak Pakai Masker

TANGERANG – Jajaran Polsek Kronjo Polresta Tangerang menggelar operasi Yustisi Protokol Kesehatan di Pasar Baru...

18 September 2020, 21:00 WIB

Kapolresta Tangerang Cek Pelaksanaan Protokol Kesehatan di PT. Pemi Balaraja

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi mengecek pelaksanaan protokol kesehatan di...

18 September 2020, 20:55 WIB

loading...