Selasa, 18 September 2018 - 11:09 WIB

Waspada, PSI Partai Kolonial

Jakarta – Unggahan video Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memunculkan perdebatan di sosial media, dalam video itu PSI menyebut sawit sebagai komoditas yang menyumbang devisa terbesar, sehingga dukungan terhadap ekspor sawit bisa memperkuat nilai tukar rupiah. Harga barang impor seperti gadget pun menjadi murah.

Video itu diunggah pada Kamis (13/9) pekan lalu dan langsung menuai kritik sebagian masyarakat dan kalangan LSM di bidang lingkungan termasuk Walhi. PSI pun langsung memberikan penjelasan soal video itu dengan tajuk ‘Kami Pro “Sawit Putih’ dan Anti ‘Sawit Hitam’.

Klarifikasi itu berdasarkan keterangan Rizal Calvary Marimbo, Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis.

PSI menyebut inti video itu sejatinya adalah fokus pada upaya menstabilkan rupiah yang salah satu caranya dengan menggenjot ekspor.

“Ini semacam insentif agar defisit perdagangan kita kembali bisa diperkecil untuk memperkuat rupiah,” kata Rizal.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut PSI sebagai partai milenial yang mengusung agenda kolonial.

Walhi menilai PSI gagal paham terhadap persoalan mendasar sawit di Indonesia meski sudah menyampaikan klarifikasi kepada publik lewat akun twitter resmi partai, @psi_id.

Lewat akun resminya, @walhinasional, organisasi di bidang advokasi lingkungan hidup itu mengunggah sebuah video pendek berisi sindiran terhadap klarifikasi PSI.

“Katanya partai milenial, kok agendanya kolonial hai sis-bro PSI,” demikian sindiran dalam tayangan video Walhi.

Selain itu, Walhi menegaskan bahwa sawit sebagai penopang ekonomi bangsa Indonesia adalah mitos, termasuk pembagian PSI soal bisnis “sawit putih” dan “sawit hitam”.

“Bagi kami, tidak ada sawit “putih” atau berkelanjutan, karena karakter komoditas ini adalah monokultur dan sudah dipastikan menghancurkan hutan,” tegas Walhi.

Walhi mematahkan argumen lain PSI soal sawit. Walhi argumen bahwa sektor sawit memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional, sebagai dasar tunggal kebijakan sangatlah tidak tepat.

“Dan klaim devisa juga tidak tepat karena sebagian besar devisa hasil ekspor justru disimpan di negara suaka pajak. Sementara perkebunan kelapa sawit juga berdampak negatif besar pada hak-hak dasar dan kelangsungan hidup rakyat,” kata Walhi

“Dari sisi penerimaan pajak justru menunjukkan fakta sebaliknya. Pada tahun 2015, tercatat tingkat kepatuhan perusahaan hanya 46,34%. Negara kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar 18 triliun rupiah setiap tahunnya dari ketidakpatuhan tersebut,” lanjut Walhi mengutip laporan KPK pada 2016.

Sosiolog Tamrin Tomagola ikut melontarkan kritik terkait video PSI mengenai sawit. Di akun twitternya, @tamrintomagola, ia menyebut PSI kurang baca, kurang kajian, kurang turun ke lapangan, kurang antisipatif/pertimbangan, dan kurang paham seluk-beluk sawit.

“Tidak ada sawit putih,” kata Tamrin. “Industri sawit itu hitam, bencana: bencana bagi keragaman hayati, buruk bagi rakyat, buruk bagi negara,” ujarnya melanjutkan.

Artikel ini telah dibaca 465 kali

loading...
Baca Lainnya

Menolak Radikalisme dan Khilafah Demi Keutuhan NKRI

Oleh: Anwar Sadat Ibrahim (Ketua Forum Pegiat Media Sosial Independen Regional Kota Tangerang) Sejak 1998,...

23 Januari 2021, 11:06 WIB

UU Cipta Kerja Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Oleh : Alfisyah Dianasari UU Cipta Kerja penting sebagai landasan transformasi ekonomi dalam rangka memacu...

23 Januari 2021, 08:24 WIB

Gempar, Pasien Covid-19 Terekam CCTV Mesum di ruang Isolasi

NTB – Laman media sosial tengah viral dengan video mesum pasien Covid-19 yang terjadi di...

22 Januari 2021, 23:11 WIB

OPM Menyerang Rumah Ibadah Di Intan Jaya Papua

Oleh : Rebecca Marian OPM agaknya enggan menyerah dan terus membuat ulah. Nyawa-nyawa yang telah...

22 Januari 2021, 22:54 WIB

SIG Prioritaskan Bantuan Medis Untuk Korban Gempa di Mamuju, Sulawesi Barat

Jakarta, deliknews – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui program Corporate Social Responbility (CSR)...

22 Januari 2021, 10:55 WIB

Membumikan Nilai-Nilai Pancasila Tangkal Ancaman Radikalisme Ditengah Pandemi corona

Oleh: Azhar Idrus (Koordinator Forum Pegiat Media Sosial Independen Regional Kota Depok) Indonesia masih rawan...

22 Januari 2021, 05:40 WIB

loading...