Sabtu, 20 Oktober 2018 - 15:58 WIB

Polri Bersikap Profesional Usut Tuntas Kasus Peluru Nyasar di Gedung DPR

Oleh : Erik Agus (Pemerhati Publik)

Deliknews.com – Terdapat berita mencengangkan yang terjadi di gedung nasional sebagai gedung ruang kerja DPR/MPR Indonesia yaitu penembakan di lantai 16 ruangan Anggota Fraksi Gerindra DPR Wenny Warouw dan lantai 13 ruangan Anggota Fraksi Golkar Bambang Heri Purnama di lantai 13.

Awal berita ini keluar sangat menghebohkan publik karena pertanyaan bagaimana bisa terjadi penembakan ke gedung yang dilapisi pengamanan ketat, sehingga muncul spekaluasi adanya percobaan pembunahan atau pelaksanaan teror namun setelah itu langsung di konfirmasi oleh pihak kepolisian hal tersebut bukanla terror melainkan peluru nyasar.

Pertanyaan yang saat itu terlontar adalah bagaimana pihak Kepolisian langsung menyimpulkan sebelum peluru yang ditemukan diuji balistik di laboratorium forensik. Jawabannya adalah karena saat itu Kepolisian langsung bergerak cepat melakukan Analisa melalui keadaan sekitar dan kondisi, serta berdasarkan pengalaman dinas yang sudah lama sehingga professional dalam pelaksanaan tugas dengan dasar Saat itu ada beberapa anggota Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) yang tengah berlatih di Lapangan Tembak Senayan yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari Gedung DPR.

Dari sudut kemiringan yang ditemukan dan tidak mungkin sniper membidik sasaran dari bawah, apalagi di tempat terbuka seperti Lapangan Tembak Senayan. Menurut dia, sniper biasanya membidik sasarannya dari sudut sejajar atau dari tempat yang lebih tinggi dari target sehingga pernyataan negative mengenai adanya sniper atau perencanan untuk melenyapkan sebuah target.

Namun, masih saja hal tersebut dinilai negative karena dianggap terlalu cepat menyimpulkan dan menurut saya, hal tersebut merupakan tindakan professional Polri dalam menangani suatu kasus terutama kasus tersebut berpotensi akan semakin besar dan menimbulkan terror.

Terror jika terjadi akan sangat berdampak buruk pada stabilitas negara sehingga kesimpulan cepat dan tepat diperlukan saat itu untuk mengurangi rasa khawatir masyrakat terutama penghuni gedung nusantara.
Kemudian, takut permasalahan membesar karena mengingat tahun ini tahun politik hal ini dapat dimanfaatkan atau diarahkan untuk pemanfaatan politik, sehingga menyebabkan pemilu 2019 akan tidak kondusif, damai dan aman.

Polri menunjukan tindakannya sebagai lembaga yang menjaga kondusifitas pemilu 2019 dengan professional dan tidak mengada ngada Kepolisian juga langsung menetapkan IAW dan RMY yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil(PNS) sebagai tersangka yang merupakan anggota dari Perbakin belum lama atau anggota baru. Tidak hanya sampai disitu, kepolisian juga memberikan saran untuk lapangan tembak kedepannya tidak perlu sampai di pindahkan namun diberikan penutup sehingga tidak terjadi lagi kejadian seperti ini kedepannya.

Hal tersebut terbukti bahwa setelah kasus ini komisi III DPR RI langsung menganggap ini adalah kejadian terror dan mencoba mengaitkan dengan UU Terorisme, bukankah tindakan ini tidak meredam kejahatan melainkan membesarkan bukan mencari solusi tetapi malah menyalahkan pihak pihak tertentu. Tidak hanya itu, bahkan ada yang merasa kecewa terhadap keputusan Kepolisian dalam kasus ini dianggap terlalu terburu-buru dan tidak sesuai dengan yang ada dilapangan merasa kuat bahwa itu adalah serangan dari sniper, tapi apakah mungkin seorang penembak jitu menggunakan sniper menyerang dari bawah, tempat terbuka dan tidak terkena sasaran sama sekali?.

Mengapa hal ini dapat menganggu jalannya Pemilu 2019, tentu karena fraksi berbagai partai berada di gedung tersebut sehingga dikhawatirkan akan adanya perpecahan dan saling curiga antara fraksi bahwa adanya percobaan pembunuhan dan terror sehingga dapat juga menjadi senajata kericuhan pada Pemilu 2019 nanti yang tidak hanya Presiden melainkan calon legislatif juga. Seperti yang kita ketahui juga bahwa saat ini isu sekecil apapun dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik, semakin membenarkan apa yang dikatakan dalam masyarakat bahwa politik itu kejam.

Oleh karena itu, kinerja kepolisian dalam penangan kasus penembakan di gedung DPR jangan dianggap sebelah mata melainkan suatu pencapaian yang perlu di apresiasi. Profesionalitas Polri terjaga disana dan Polri mampu menilai situasi dengan cepat, tanggap dan tepat untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekacauan situasi nasional.

 

Artikel ini telah dibaca 60 kali

loading...
Baca Lainnya

Mengapresiasi Pemerintah Susun Rencana Vaksinasi Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko Pemerintah sedang menyusun skema vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Masyarakat pun mengapresiasi...

30 September 2020, 23:19 WIB

Program Pemulihan Ekonomi Nasional Terus Dilaksanakan

Oleh : Aditya Akbar Pemerintah terus berusaha memulihkan sektor perekonomian, meskipun saat ini fokus untuk...

30 September 2020, 22:55 WIB

RUU Cipta Kerja Menambah Kesejahteraan Pekerja Kontrak

Oleh : Rita Efendi Pemerintah telah menginisiasi RUU Cipta Kerja melalui konsep Omnibus Law. Peraturan...

30 September 2020, 22:05 WIB

Omnibus Law RUU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dengan Pengaturan Upah Minimum yang Layak

Oleh : Ade Kurniawan Para pekerja deg-degan menunggu peresmian omnibus law RUU Cipta Kerja, karena...

30 September 2020, 05:35 WIB

Masyarakat Harus Disiplin Laksanakan 3 M

Oleh : Zulfikar Penambahan pasien Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk...

30 September 2020, 05:23 WIB

Waspada Manuver KAMI Politisasi Isu PKI

Oleh : Edi Jatmiko Jelang peringatan peristiwa gerakan 30 september, selalu ada isu kebangkitan PKI...

30 September 2020, 05:17 WIB

loading...