Nasional

Kamis, 10 Januari 2019 - 11:00 WIB

6 bulan yang lalu

logo

KH Ma’ruf Amin, Bapak Perbankan Syariah

Penulis: Linda Gustiana (Mahasiswa Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah)

KH Ma’ruf Amin memang dikenal sebagai salah satu ulama yang paling berpengaruh di Indonesia dalam melahirkan kebijakan yang sesuai dengan prinsip dan ajaran agama Islam.

Selama ini, orang-orang memang fokus pada sosok Ma’ruf Amin dalam kapasitasnya sebagai seorang ulama sehingga publik tidak menyadari bahwa Ma’ruf Amin juga merupakan seorang ekonom.

KH Ma’ruf Amin adalah salah satu sosok yang ikut membidani lahirnya bank-bank syariah di Indonesia. Tak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak Perbankan Syariah atas jasa-jasanya.

Jauh sebelum maju sebagai Cawapres mendampingi Presiden Jokowi, Ma’ruf Amin sebenarnya sudah malang melintang dalam bidang ekonomi. Beliau merupakan Lulusan S1 Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Kholdun, Jakarta tahun 1967.

Beliau juga menerima gelar Doktor Honoris Causa pada bidang Hukum Ekonomi Syariah dari Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012. Sebagai Profesor Ekonomi Islam, Ma’ruf Amin berperan penting dalam pembentukan perbankan syariah seperti Bank Muammalat, Bank BNI Syariah, Bank Mega Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan lain-lain.

Dalam pandangannya, Ma’ruf Amin menyoroti bunga perbankan yang dianggap riba yang kemudian memunculkan ide gagasan sektor ekonomi syariah. Atas pemikiran beliau, pemerintah menerbitkan beberapa peraturan seperti Undang-Undang Surat Berharga Syariah Negara (2008) dan Undang-Undang Perbankan Syariah (2008).

Ma’ruf Amin juga menyambut pengembangan ekonomi syariah sebagai bagian dari peningkatkan ekonomi nasional. Di luar instrumen keuangan syariah, Ma’ruf Amin juga mengembangkan sektor ekonomi syariah lainnya, misalnya pada sektor bisnis syariah dan pariwisata syariah.

Selain itu, Ma’ruf Amin menyoroti pendekatan ekonomi yang bottom-up. Artinya basis ekonomi ditopang oleh masyrakat (umat), sehingga tidak dimonopoli oleh segelintir konglomerat. Jika hal itu bisa dilakukan, dalam pandangan Ma’ruf, maka Indonesia bisa menjadi pemain kunci dalam mengembangkan ekonomi syariah dalam dunia internasional.

Keahlian Ma’ruf di bidang ekonomi syariah tentu saja menjadi nilai positif tersendiri. Saat ini, ekonomi syariah merupakan sebuah arus perekonomian baru yang berpotensi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi global. Potensi tersebut dapat dilihat dari dua hal.

Pertama, semakin meningkatnnya pertumbuhan populasi muslim dunia yang diperkirakan akan mencapai 27,5 persen dari total populasi dunia pada tahun 2030. Konsep Ekonomi syariah kini memang berkembang pesat di dunia internasional.

Perkembangan ini nampak pada peningkatan volume produk halal global yang pada tahun 2018 mampu mencapai US$ 3,5 triliun (Rp 51 ribu triliun) dan diperkirakan akan terus tumbuh mencapai US$ 6,3 triliun (Rp 91 ribu triliun) pada 2021.

Selain itu, ekonomi syariah bukan konsep eksklusif untuk umat Islam saja, tetapi konsep inklusif yang secara aktif melibatkan seluruh masyarakat dalam roda perekonomian. Hal ini memicu berbagai negara di dunia untuk berlomba memanfaatkan peluang yang ada dan jadi pemain utama di industri halal global.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada negara dengan penduduk mayoritas muslim, tapi juga di negara lain seperti Inggris, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan dan Thailand.
Indonesia sendiri memiliki potensi besar sebagai pemain kunci dalam ekonomi global.

Sampai dengan tahun 2019, Indonesia masih menjadi importir produk makanan industri halal terbesar keempat di dunia, dan jadi pasar produk wisata, obat, kosmetik halal dan fashion syariah global. Jika masih bergantung pada impor, maka akan memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan posisi neraca pembayaran.

Melihat data-data di atas, ekonomi syariah memiliki prospek yang cerah ke depannya. Tentu saja hal ini membutuhkan sosok Ma’ruf Amin sebagai ahli dalam bidang tersebut. Keahliannya akan membawa dampak kemajuan ekonomi nasional.

 

Artikel ini telah dibaca 143 kali

Baca Lainnya
loading…