Nasional

Senin, 28 Januari 2019 - 09:32 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Soal Jilbab Syar’i, Khofifah Resah

Jakarta – Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nadhlatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa membagikan pengalamannya ketika dituding tak mengenakan jilbab syar’i oleh anggotanya sendiri. Jilbab syar’i ini merujuk pada penggunaan jilbab berukuran panjang yang menutup dada.

Mantan Menteri Sosial ini mengaku prihatin dengan munculnya ‘pengkotak-kotakan’ definisi syar’i dan tidak syar’i.

“Saya bukan ditegur, tapi dikasih tahu pengurus cabang Muslimat NU, ‘Ibu kenapa tidak pakai kerudung syar’i?’. Bahasa itu sudah saya dengar sendiri,” ujar Khofifah saat memberikan sambutan dalam pembukaan rapat koordinasi nasional Muslimat NU di Jakarta, Minggu (27/1).

Menurutnya, perlu dilakukan pemahaman yang ia sebut sebagai konsolidasi pemikiran atas makna syar’i itu di internal muslimat NU.

“Perspektif dan terminologi tentang syar’i yang mengikuti ajaran Islam di internal muslimat NU ini harus kami rapikan. Ini akan menjadi telaah kami,” katanya.

Khofifah mengaku telah berkomunikasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berkonsultasi tentang penggunaan jilbab syar’i tersebut. Menurutnya, perbedaan pemahaman makna syar’i itu diakui Khofifah cukup mengganggu.

“Saya tanya kerudung saya begini apa benar tidak syar’i? Sudah saya sampaikan ke Komisi Fatwa MUI, karena ini mulai mengganggu kami,” katanya.

Ia tak menampik bahwa kondisi yang terjadi belakangan ini semakin mengusik identitas yang ada pada diri tiap individu. Dari hasil penelitian UIN Syarif Hidayatullah, kata dia, pada siswa SMP dan SMA di 34 provinsi di Indonesia bahkan menunjukkan terjadinya kecenderungan intoleransi yang semakin meningkat.

Hasil tersebut, kata Khofifah, juga dilengkapi dengan penelitian dari LIPI yang menunjukkan bahwa 94 persen mahasiswa S1, S2, dan S3 memiliki kecenderungan kristalisasi politik identitas yang bukan hanya merepresentasikan suatu kelompok. Sementara enam persen sisanya adalah mahasiswa S0 atau setara diploma.

“Ternyata yang terbentuk adalah kristalisasi eksklusivitas. Di sinilah kita kemudian ada di suasana yang mulai mengusik identitas. Dalam konteks ini, harus didialogkan agar tidak ada perasaan ‘Ini syar’i yang ini tidak syar’i,” tuturnya.

Artikel ini telah dibaca 3490 kali

loading…


Baca Lainnya