Regional

Sabtu, 2 Februari 2019 - 17:06 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Jokowi Kaitkan Propaganda Rusia di Pilpres

Surabaya – Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo berpendapat, ada tim sukses (Timses) yang mengampanyekan capres-cawapres dukungannya dengan mengedepankan propaganda Rusia. Di mana, kampanye tersebut dilakukan dengan cara-cara menebar fitnah, dusta, dan hoaks. Dia pun mengajak kaum intelektual, khususnya Forum Alumni Jatim, menangkal sebaran fitnah dan berita bohong tersebut.

“Ada tim sukses yang menyiapkan sebuah propaganda yang namanya propaganda Rusia. Setiap saat selalu mengekuarkan semburan-semburan fitnah, semburan-semburan dusta, semburan-semburan hoaks. Ini yang harus segera diluruskan oleh bapak ibu sekalian, sebagai intelektual,” kata Jokowi saat menghadiri deklarasi dukungan dari Forum Alumni Jatim, di Tugu Pahlawan Surabaya, Sabtu (2/2).

Jokowi pun merinci beberapa hoaks dan fitnah yang tidak jarang dialamatkan kepadanya. Seperti contoh, ada orang yang mengaku-ngaku mukanya bonyok dan lebam lantaran dianiaya, padahal aslinya karena operasi plastik. Prilaku yang dimaksud Jokowi adalah apa yang dipraktikan Ratna Sarumpaet, yang beberapa waktu lalu mengaku mukanya lebam lantaran dianiaya, padahal telah menjalani operasi plastik.

“Mau diarahkan ke mana sebetulnya itu, saya tahu mau di arahkan ke saya. Bahwa yang menganiaya itu adalah kelompoknya 01 gitu, tahu kok. Untung tidak mendapat ridho dari Allah SWT. Tidak usah kita buka, sudah kebuka sendiri,” ujar Jokowi.

Selain itu, ada pula fitnah yang menyebutnya seorang PKI. Maka dari itu, Jokowi pun memberi penjelasan yang diharapkan bisa meluruskan fitnah tersebut. Jokowi mengatakan, dirinya dilahirkan pada Tahun 1961, sementara PKI dibubarkan di tahun 1965-1966. Artinya saat PKI dibubarkan, usianya masih di bawah lima tahun.

“Logikanya gak dipake ini, masa ada PKI Balita. Kalau Cak Lontong bilang, mikir. Dipikir masyarakat itu bodoh-bodoh. Masyarakat itu udah pintar-pintar,” kata Jokowi.

Mantan wali kota Solo itu juga menyanggah isu yang menyebut dirinya antiulama dan antiIslam. Jokowi menyatakan, hampir setiap pekan dirinya berkunjung ke pesantren-pesantren. Bahkan hampir setiap hari dirinya berdampingan dengan ulama. Artinya, dia merasa sangat mencintai Islam dan mencintai ulama.

“Lho setiap minggu saya keluar masuk pondok pesantren. Hampir setiap hari saya dengan ulama. Yang tanda tangan Hari Santri itu siapa? Mikir,” kata Jokowi.

Artikel ini telah dibaca 47 kali

Baca Lainnya
loading…