Kamis, 7 Februari 2019 - 20:31 WIB

Cerita Bandara Kertajati Kebangaan Jokowi yang Dikritik Bambang Haryo

Jakarta – Presiden Joko Widodo, mengawali ground breaking Bandara Kertajati pada Januari 2016, Jokowi menyebutkan bahwa Bandara Kertajati ini adalah Bandara kedua terbesar RI.

Dimulainya penggarapan mega proyek ini ditandai dengan terbitnya Perpres no 3 tahun 20016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Kemudian konsep pendanaan Bandara Kertajati ini mulai di ajukan.

Yang  mana pendanaannya melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) antara pemerintah daerah dan investor. RDPT adalah salah satu alternatif investasi yang menjadi wadah untuk menghimpun pemodal profesional.

Dana yang terhimpun selanjutnya  diinvestasikan oleh manajer investasi, baik melalui portofolio efek maupun portofolio yang berkaitan dengan proyek. Dalam RDPT, biasanya pihak yang berinvestasi tidak boleh lebih dari 50 pihak.

Nilai investasi sisi darat Bandara Kertajati adalah Rp 2,6 triliun. Nilai tersebut termasuk pembangunan terminal utama dan fasilitas pendukungnya Rp 2,2 triliun, sisanya untuk modal kerja dan untuk kelengkapan fasilitas lainnya.

“Jadi, total 2,6 triliun itu dipenuhi dengan 70 persennya melalui equity dan 30 persennya melalui pinjaman,” ujar Direktur Utama PT Bandara Internasional Jawa Barat Virda Dimas Ekaputra, dikutip kompas.com, Kamis (7/2)

Untuk dana pinjaman, pihak PT BIJB sudah mendapatkan dari sindikasi perbankan syariah. Sementara untuk ekuitas sebesar 70 persen didapatkan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, reksadana penyertaan terbatas (RDPT), dan dari PT Angkasa Pura II.

Kritik Anggota DPR-RI

Bambang Haryo Soekartono, anggota komisi V DPR-RI

Modal besar yang dikeluarkan untuk Bandara Internasional Jawa Barat ini, ternyata tak berbanding dengan asas manfaatnya, Anggota komisi V DPR-RI, Bambang Haryo Soekartono mengkritik daripada manfaat penggunaan Bandara Kertajati ini.

“Bayangin, itu Bandara telah memakan biaya Rp2,6 Triliun dari Pusat dan ditambah fasilitas pendukungnya dari Pemda Rp2,2 Triliun, totalnya Rp4,8 Triliun, tapi manfaatnya enggak ada,” ujar Bambang,Kamis (7/2)

Bambang menilai Bandara tersebut terlalu dipaksakan untuk beroperasi, padahal pembangunannya sendiri dibangun asal-asalan. Bahkan Instrumen landing system di Bandara Kertajati belum di install, padahal, itu sangat penting, terlebih terkait keselamatan penumpang dan penerbangan.

“Saya penasaran dan mencoba ke sana. itu pas landing, kita semua terkejut. Kok kasar begini? eh ternayata benar, Instrumen landing system belum di install. Ini kan sangat bahaya,” akunya.

Conveyor bagasi di Bandara itu, kata Bambang, juga hanya ada 1, kemudian X-Ray masih menggunakan milik Bandara Soetta, yang belum dikalibrasi selama 3 tahun. Di lantai dua tempat restoran gitu, masih sepi. dan lantainya pun belum di tekel, masih semen. Sedang, penempatan X-Ray yang masih asal-asalan, karena tidak ada sterilisasi, termasuk juga system pemadaman juga membahayakan, jika bandara ini kebakaran maka satu Bandara bisa habis.

“Bandara ini tidak layak, dan ini adalah satu penipuan yang dilakukan Pemerintah dalam menginformasikan bahwa Bandara ini adalah Bandara Terbesar,” tegas Bambang.

Dilanjutkan Bambang, Bandara Kertajati baru didarati awal kali pada 8 juni 2018 dan hanya satu maskapai yaitu Citilink tapi maskapai pelat merah itu mengalami kerugian lantaran sepi penumpang. Sehingga pesawat dengan jumlah180 seat, itu paling banyak cuma dapat 40 penumpang, siapa yang mau rugi?. Anehnya, kenapa kemudian ada akal akalan dibuat rute penerbangan dari Yogyakarta ke Majalengka harus lewat Surabaya, transit lagi ke Balikpapan dan baru ke Kertajati otomatis jadi mahal.

“Tahu enggak? dari Yogyakarta ke Bandara Kertajati itu tarifnya mahal diatas Rp5 juta,” kata Bambang dengan ekspresi keheranan.

Bahkan, Anggota dewan fraksi Gerindra dapil I Jawa Timur itu mencoba intip di agen penjualan tiket online Traveloka, ternyata benar, harga tiket Yogyakarta menuju Bandara Kertajati mencapai Rp5.897.600 dengan durasi waktu 17 jam 45 menit. Itu artinya perjalanan Yogya-Majalengka melebihi perjalanan ke luar negeri.

“Dengan durasi waktu dan harga segitu, siapa yang mau naik pesawat. Katanya ini Bandara termegah dan besar. Tapi nipu rakyat,” tandas Bambang.

Artikel ini telah dibaca 131 kali

loading...
Baca Lainnya

UU Cipta Kerja Mampu Memulihkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Oleh : Aldia Putra UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan oktober ini menjadi tumpuan...

30 Oktober 2020, 02:40 WIB

Mewaspadai Klaster Covid Saat Musim Liburan

Oleh: Deka Prawira Akhir oktober ini ada liburan panjang di akhir pekan, selama lebih dari...

30 Oktober 2020, 00:30 WIB

Masyarakat Mendukung Keberadaan Lumbung Pangan Nasional

Oleh : Raditya Rahman Presiden Joko Widodo terus mengawal pembangunan lumbung pangan di beberapa daerah...

30 Oktober 2020, 00:17 WIB

Pilbup Sidoarjo, Cabup Bambang Haryo Siapkan Ahli untuk Rebranding UMKM

Sidoarjo – Inovasi model agar tidak ketinggalan zaman yang menjadi kebutuhan UMKM mebel menjadi perhatian...

Bambang Haryo - Taufiqulbar

29 Oktober 2020, 00:41 WIB

Masyakarakat Mendukung Keberlanjutan Otsus Papua

Oleh : Saby kossay Otsus Papua menjadi salah satu bentuk perhatian negara untuk memajukan Papua....

28 Oktober 2020, 21:31 WIB

Pemerintah Optimis Mampu Atasi Covid-19

Oleh : Rizki Aditya Pemerintah Indonesia mengklaim optimis dalam upaya penanganan Covid-19 di Tanah Air....

28 Oktober 2020, 20:02 WIB

loading...