Kamis, 29 Agustus 2019 - 10:12 WIB

Menelusuri Sepak Terjang Pengusaha Jamban Sumadi Seng

NGANJUK – Menjadi sanitarian bukan cita-citanya. Namun, pria yang akrab disapa Sumadi Seng ini menunjukkan, pengabdian dan totalitas dalam menggauli profesi yang ibarat jatuh dari langit itu mengantarnya menuju sukses.

Melalui inovasi desain septic tank ciptaannya, Sumadi Seng berhasil menunjukkan, jamban tak sekadar ‘urusan belakang’ yang remeh. Lebih dari itu, jamban adalah kunci bagi peningkatan kualitas hidup yang lebih baik, terutama bagi masyarakat kelas bawah.

Berurusan dengan tinja sudah pasti menjijikkan. Tetapi, tidak bagi Sumadi Seng yang berprofesi sebagai sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Persoalan seputar tinja bagi sanitarian—yang bertugas melakukan pencegahan penyakit masyarakat adalah persoalan penting yang bila tidak ditangani dengan benar bisa menjadi malapetaka.

Sanitasi buruk berpengaruh terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat. ”Kalau mereka sakit-sakitan, uangnya habis dipakai berobat, ya miskin terus,” kata Sumadi Seng.

Prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan jamban, Sumadi Seng melakukan survei di Desa Begendeng, Kecamatan Jatikalen, Nganjuk.

Begendeng dipilih sebagai sasaran survei karena pola sanitasi masyarakatnya yang buruk. Desa ini terletak di muara Sungai Brantas dan Sungai Widas. ”Di dua sungai itulah masyarakat melakukan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari,” terang Sumadi Seng.

Hasil survei tak jauh dari dugaan. Dari 267 rumah di Begendeng, tercatat hanya empat rumah yang memiliki jamban dengan desain septic tank berbentuk kotak.

Saat itu biaya membuat jamban sekitar Rp 1,6 juta per unit. Sangat mahal bagi warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan buruh. Sumadi kemudian berinisiatif membuat desain septic tank dengan model silindris.

Model silindris lebih cocok digunakan di daerah seperti Jatikalen yang memiliki kontur tanah yang selalu bergerak. ”Model silindris jauh lebih kuat karena titik tekannya hanya satu, yaitu di tengah, sedangkan model kotak lebih gampang roboh,” jelas Sumadi Seng.

Dengan model septic tank silindris, Sumadi Seng mampu menekan harga pembuatan jamban hingga Rp 440.000. Meski harganya jauh lebih murah, saat diperkenalkan banyak warga yang masih ragu.

Saat itu baru 10 keluarga yang tertarik memesan jamban kepada Sumadi. ”Waktu itu saya beri jaminan, kalau dalam waktu lima tahun jambannya amblek, uang mereka kembali,” urainya.

Jaminan dan harga murah yang ditawarkan Sumadi Seng menarik minat daftar warga. Tahun 2003 pesanan jamban Sumadi terus bertambah sampai ke semua kecamatan. Kenaikan harga material hingga dua kali lipat tak membuat pesanan berkurang.

Sukses Sumadi Seng mengampanyekan penggunaan jamban terus berlanjut. Tahun 2003 desain septic tank ciptaannya diterapkan pada proyek Stimulan Jamban Dinas Kesehatan Nganjuk di lima kecamatan, yaitu Jatikalen, Patianrowo, Lengkong, Baron, dan Sukomoro, sebanyak 100 unit.

Upaya Sumadi Seng merupakan bagian dari prinsip pengabdian. Betapa tidak. Sejak lulus kuliah tahun 2004, Sumadi bertekad melebarkan sayap. Dia tak ingin hanya menjadi sanitarian. Sumadi Seng membuka perusahaan pembuatan jamban bersama dua rekannya dengan nama Karya Sanitasi.

Meski menjadi pengusaha, Sumadi Seng memegang teguh prinsip pengabdian profesi sebagai sanitarian. Misi untuk terus mengampanyekan penggunaan jamban bagi masyarakat miskin pun tetap dipelihara.

Siasat Sumadi Seng adalah dengan memberikan diskon. Harga jamban yang semula Rp 1,3 juta didiskon hingga Rp 850.000 per unit. ”Saya memangkas keuntungan. Saya kan sudah dapat gaji. Ini bagian dari tanggung jawab saya sebagai sanitarian. Tujuan utama saya, masyarakat jadi sehat,” ujarnya.

Bahkan, untuk menjangkau masyarakat sangat miskin, Sumadi meluncurkan jamban ekonomis seharga Rp 625.000 dan jamban tumbuh sehat seharga Rp 180.000-Rp 260.000. Warga juga bisa mencicil sesuai dengan kemampuan.

Strategi yang dilakukan Sumadi Seng adalah dengan memperkecil kapasitas septic tank dari yang semula 1,3 meter kubik menjadi hanya 0,7 meter kubik. ”Yang penting masyarakat pakai jamban,” tandasnya.

Hingga menjelang akhir tahun 2009, tercatat 2.600 keluarga di Kabupaten Nganjuk menggunakan jamban buatan Sumadi Seng.

Sejumlah wilayah sudah mengantre pesanan, seperti Madiun, Jombang, Kediri, Ponorogo, dan Gresik, termasuk Dinan Kesehatan Provinsi Jatim yang tertarik mengadopsi desain septic tank buatannya.

 

 

Artikel ini telah dibaca 786 kali

loading...
Baca Lainnya

Waspada provokasi KAMI Menebar Hoax

Oleh : Raavi Ramadhan KAMI adalah organisasi yang banyak dibicarakan orang, namun sayang bukan karena...

23 Oktober 2020, 03:13 WIB

UU Cipta Kerja, Upaya Pemerintah Antisipasi Bonus Demografi

Oleh : Hanafi Adnan UU Cipta Kerja yang baru disahkan Pemerintah merupakan upaya untuk mempermudah...

22 Oktober 2020, 20:57 WIB

Lewat Gerakan Sebar Konten Positif, FPMSI Ajak Warganet Milenial Bersatu Dukung Kebijakan Pemerintah Demi Kemajuan Bangsa

Generasi muda kerap dengan mudah menyebarkan sebuah informasi tanpa melakukan validasi, bahkan tanpa dibaca sekali...

22 Oktober 2020, 16:24 WIB

PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ) Tbk Dukung Penuh Upaya Pemerintah Mengembangkan Industri Sagu Nasional

Tepat pada Pekan Sagu Nusantara 2020 (20/10), PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) dan PT....

22 Oktober 2020, 14:03 WIB

Mengapresiasi Percepatan Penelitian Vaksin Covid-19

Oleh : Edi JAtmiko Pemerintah terus bekerja keras dalam meneliti dan mengembangkan Vaksin Covid-19. Kerja...

22 Oktober 2020, 02:50 WIB

Manuver KAMI Ganggu Stabilitas Politik

Oleh : Zakaria Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang dideklarasikan oleh Gatot Nurmantyo memang terkesan...

22 Oktober 2020, 02:37 WIB

loading...