Minggu, 1 September 2019 - 11:41 WIB

Mengapa Kita Harus Bersama Dan Dukung Jokowi Melawan Para Monster

Oleh: Anggi Triagusti (Mahasiswa Universitas Bakrie, Juara 3 Lomba Artikel FPMSI)

Sejak Jokowi berkuasa diperiode pertama dan akan memmasuki periode kedua , Jokowi terus ‘diserang monster’ entah secara langsung atau tidak langsung dengan kegaduhan yang terus-menerus terjadi di tanah air. Hal tersebut salah satunya pasti karena berbagai kebijakan Jokowi yang pro rakyat dan berdampak terhadap terganggunya kenyamanan berbagai pihak yang selama ini leluasa menghisap kekayaan dan fasilitas di negeri ini baik dari dalam maupun dari luar. Maka seperti yang dapat diduga akan muncul monster- monster yang merupakan momok negeri ini selama ini. Monster itu bernama Hoax, Radikalisme dan Sparatisme.

Terlihat jelas setidaknya membangunkan dan menggerakan monster-monster tersebut dengan bahan bakar ISU SARA yang selama ini ampuh dan efektif membuat gaduh dan bahkan terbakar emosi bangsa ini.

Berbagai rentetetan peristiwa yaitu mulai Isu salib yang dianggap berisi ‘jin kapir’ dan pelecehan kata Haleluya juga sempat membuat sebagian hati umat Nasrani terbakar. Saat kedua hal itu mulai surut, video lawas Ahok digoreng kembali dan diungkap dijagad lini media sosial untuk membangkitkan emosi umat kembali sehingga diharapkan dapat memicu dan membuat kegaduhan. Dan teranyar muncul Isu rasisme menyeruak ke publik lewat Insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua oleh sejumlah oknum orang di Surabaya, serta dugaan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Malang, mengakibatkan aksi protes di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat, Bahkan, aksi demonstrasi tersebut berujung aksi kerusuhan dan berbelok terhadap adanya tuntutan referendum serta Papua merdeka.

Ada apa? Untuk apa?

Jokowi sudah menang. Sebentar lagi dilantik. Lalu semua ‘gerakan monster’ itu untuk apa?

Apakah ‘move’ itu dilakukan oleh mereka yang belum atau tidak bisa ‘move on’? Siapa yang bisa tahu pikiran masing-masing orang, termasuk provokator atau dalangnya yang selama ini berang dan berusaha terus ingin menjatuhkan Jokowi dengan berbagai tipu daya lewat daya energi Monster tersebut.

Yang kita tahu secara terang benderang adalah para monster itu menjadi buas karena diberi asupan ISU SARA oleh dalang dan provokator yang diolah dengan kemasan hoaks dan ujaran kebencian yang bisa merusak tatanan kesantunan berbangsa dan bernegara. Tujuannya jelas agar pemerintahan Jokowi gagal dan akhirnya bangsa ini.diharapkan terpecah sehingga semua agenda besar dqlang dan provokator bisa terlaksana. Ingat Indonesia kaya akan segalanya, sebab jika tidak kaya tidak mumgkin di target oleh para dalang dan provokator.

Bisa saja Jokowi melawan para monster itu, ibarat amunisi yang tadinya ingin ia ledakan sekuat tenaga menghabisi para monster tersebut, namun urung ia lakukan. Karena waktunya sendiri akan tersita habis melawan para monster itu dan itu artinya tidak banyak waktu lagi mengurusi dan melayani kebutuhan rakyat yang ingin Jokowi penuhi. Janjinya hanya pada rakyat, untuk rakyat. Oleh karena itu Jokowi butuh kita semua untuk melawan para monster itu.

Kita semua juga punya kewajiban yang sama dalam upaya mengembalikan keharmonisan sosial pasca monster itu menyerang. Jangan sampai, isu-isu SARA bak monster seperti rasial memancing kerusuhan yang lebih luas di masyarakat karena berhembusnya kabar-kabar hoax provokatif yang semakin mengeruhkan suasana. Sebab, isu-isu provokatif bernuansa SARA menjadi sangat membahayakan jika dibiarkan di tengah ingar bingar era medsos sekarang.

Lawan dengan bijak ber-sosmed dan selektif menerima Informasi

Dengan lebih bijak, terutama dalam beraktivitas di media sosial. Dapat mencegah kita menjadi bagian dari rantai provokasi di ruang maya, yang kemudian memantik aksi-aksi berbuntut kericuhan. Dalam menyikapi setiap kabar yang berhembus terkait isu-isu SARA , kita semua mesti mengedepankan sikap kritis dan bijaksana. Sikap kritis mendorong kita selalu mempertanyakan kredibilitas sumber suatu berita atau informasi, sehingga bisa membekali kita kecerdasan menilai kabar-kabar provokatif, bahkan hoaks. Dengan begitu, kita akan mampu melakukan filter dan terhindar dari pengaruh provokasi yang dihembuskan di dalamnya.

Lewat media sosial, kita bisa berkontribusi membantu Jokowi melawan para monster itu dengan mengembalikan situasi agar kembali kondusif lewat postingan-postingan konten-konten positip yang menyejukan dan bersifat persatuan, yang mendepankan prinsip-prinsip perdamaian dan kemajemukan. Kita juga harus mendukung pihak berwenang mengungkap dan menindak tegas siapaun yang melanggar hukum negeri ini, terutama para dalang dan provokator baik dalam maupun luar karena kedaulatan bangsa ini harga mati bagi semua anak bangsa negeri ini.

Jangan biarkan Jokowi melawan para monster sendirian, sudah saatnya kita bersama Jokowi melawan para monster itu!!

Artikel ini telah dibaca 1919 kali

loading...
Baca Lainnya

Vaksin Apa Saja yang Cocok Untuk Orang Dewasa?

Semakin beranjak dewasa, sistem kekebalan tubuh manusia akan lebih optimal. Namun, jika gaya hidup Anda...

27 Oktober 2020, 17:00 WIB

UU Cipta Kerja Mudahkan Penyerapan Tenaga Kerja

Oleh : Hanafi Putra Banyaknya pengangguran adalah permasalahan terbesar di Indonesia. Untuk mengatasinya, maka pemerintah...

27 Oktober 2020, 09:57 WIB

Mendukung Otonomi Khusus Papua Jilid II Demi Pemerataan Pembangunan

Oleh : Abner Wanggai Pemerintah berencana memperpanjang Otsus Papua. Masyarakat pun mendukung keberlanjutan Otsus Papua...

26 Oktober 2020, 23:29 WIB

Waspadai Klaster Covid-19 Saat Libur Panjang

Oleh : Aditya Akbar Libur panjang karena ada cuti bersama yang diiringi dengan akhir pekan,...

26 Oktober 2020, 23:19 WIB

Cabup Sidoarjo Bambang Haryo Sebut Bakal Bikin Pasar Nyaman, Begini Konsepnya

Sidoarjo – Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono dan M...

26 Oktober 2020, 22:36 WIB

Begini Langkah Terbaik Indonesia untuk Perdamain Azerbaijan dan Armenia

Konflik yang telah terjadi selama puluhan tahun yang melanda Armenia dan Azerbaijan masih terus terjadi...

26 Oktober 2020, 18:43 WIB

loading...