Minggu, 8 September 2019 - 10:16 WIB

Dhimam Abror : Esemka

Mobil Esemka akhirnya dilaunching juga. Pesiden Jokowi meresmikannya di pabrik Boyolali dekat kampung halamannya.

Reaksi masyarakat, seperti sudah diduga sebelumnya, terbelah, ada yang mendukung ada yang membully. Biasalah. Masyarakat kita memang menjadi masyarakat yang terbelah. Selalu, pro dan kontra.

Proyek mobil nasional (mobnas) Esemka menjadi utang politik Jokowi yang selalu ditagih-tagih di pelbagai kesempatan. Dari mobil Esemka inilah nama Jokowi ketika masih menjadi tokoh lokal sebagai walikota Solo melambung ke level nasional.

Terkesan agak tergesa-gesa Jokowi minggu ini membayar utang politiknya itu. Para haters tak kehabisan bahan, dalam hitungan detik sudah muncul ratusan serangan bahwa Esemka ternyara menjiplak produk Cina. Pihak Jokowi agak terdesak juga oleh serbuan ini.

Dalam dunia sepakbola aunching Esemka ibarat sebuah umpan lambung ke mulut gawang untuk mengecoh pertahanan lawan. Pemain bertahan yang kurang berpengalaman akan terkecoh fokusnya melibat ke arah bola sehingga lupa mengantisipasi pergerakan lawan tanpa bola. Pemain bertahan yang jago tidak gampang terkecoh oleh arah bola, sebaliknya tetap fokus memperhatikan gerakan tanpa bola yang justru lebih berbahaya.

Mobil Esemka ibarat bola lambung yang banyak menyita perhatian lawan, tapi diam-diam ada pergerakan tanpa bola yang bisa saja lupa diantisipasi.

Ketika Jokowi habis-habisan dihajar oleh isu Papua, tim pemain bertahan tidak boleh defensif saja, harus ada gerakan tanpa bola, maka Esemka pun dilambungkan untuk mengecoh pertahanan lawan.

Isu Papua sudah dikacaukan oleh isu pemindahan ibukota ke Kalimantan Timur. Tapi, rupanya isu hijrah ibukota itu short-lived, berumur pendek, tidak cukup kuat menahan gempuran isu Papua. Kekhawatiran akan lepasnya Papua dari NKRI masih tetap sangat kuat. Trauma lepasnya Timor Timur dari Indonesia, tentu, masih menjadi mimpi buruk.

Ada yang menyebut Timtim hanya ekor, Papua adalah kepalanya. Timtim lepas ibarat kehilangan ekor, Papua lepas ibarat kepala lepas bisa-bisa nyawa NKRI melayang.

Isu hijrah ibukota cukup kuat gaungnya, tapi belum cukup kuat untuk menahan gelombang isu Papua. Maka Esemka diharap bisa menjasi distraksi sambil para skondan inti Jokowi melakukan pergerakan tanpa bola, seperti yang dilakukan Hendropriyono yang bertemu dengan Prabowo Subianto. Dua seteru politik bertemu. Membicarakan apa? Spekulasi politik pun beredar lagi. Prabowo capres 2024? Berapa pos menteri yang didapat Gerindra?

Nah, tambah ruwet kan, rek?

Artikel ini telah dibaca 272 kali

loading...
Baca Lainnya

UU Cipta Kerja Mempermudah Perizinan Usaha

Oleh : Angga Gumilar DPR baru saja mengesahkan Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) sebagai salah...

31 Oktober 2020, 16:51 WIB

Pilbup Sidoarjo, Bakal Wujudkan Swasembada Pangan, Cabup Bambang Haryo Serius Perhatikan Nasib Petani

Sidoarjo – Calon Bupati Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) terus melakukan safari politiknya dengan terjun...

31 Oktober 2020, 02:44 WIB

Dukung Otsus untuk Masa Depan Pemuda Papua

Oleh : Abner Wanggai Otonomi khusus akan diperpanjang selama 20 tahun ke depan. Seluruh warga...

30 Oktober 2020, 22:10 WIB

Mewaspadai Klaster Keluarga Selama Libur Panjang

Oleh : Rahmat Siregar Di akhir bulan Oktober, masyarakat Indonesia menikmati libur panjang sejak 28...

30 Oktober 2020, 21:21 WIB

Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ignatius Sigit Wafat, Sahabat Polisi Berduka

Jakarta – Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Irjen Ignatius Sigit Widiatmono meninggal dunia akibat...

Ketum Sahabat Polisi, Fonda Tangguh

30 Oktober 2020, 20:31 WIB

UU Cipta Kerja Mampu Memulihkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Oleh : Aldia Putra UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan oktober ini menjadi tumpuan...

30 Oktober 2020, 02:40 WIB

loading...