Dhimam Abror : Gejayan

- Tim

Rabu, 25 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Beberapa hari terakhir ini perang medsos pecah antara pro dan kontra gerakan mahasiswa. Tagar #GejayanMemanggil menjadi trending topic yang kemudian diikuti oleh turunnya ribuan mahasiswa di berbagai kota di Indonesia.

Jalan Gejayan di Jogja dipilih sebagai meeting point untuk aktifis mahasiswa Jogja yang ingin turun berdemonstrasi. Gejayan adalah lokasi fisik bersejarah 20 tahun lebih yang lalu saat pecah gerakan reformasi 1998. Gejayan juga menjadi “lokasi virtual” di dunia maya yang menandai perang yang tak kalah seru dari perang di dunia nyata.

Gejayan bukan hanya simbol fisik tapi juga sekaligus simbol virtual. Gejayan akan dikenang sebagai meeting point fisik pada gerakan reformasi fisik 1998 sekaligus kali ini bisa menjadi ikon perlawanan virtual 2019 ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Segera setelah tagar #GejayanMemanggil viral muncul berbagai tagar tandingan. Perang digital tak terelakkan. Segera muncul tagar #MosiTidakPercaya dan muncul tagar tandingan #SayaBersamaJokowi.

Gerakan mahasiswa kali ini membawa dimensi baru yang sangat beda dengan gerakan reformasi 1998. Ketika itu gerakan dilakukan secara fisik dan komunikasi antar aktivis masih banyak dilakukan secara analog. Efek politiknya memang dahsyat karena berhasil memaksa Suharto menundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Sekarang dimensi gerakan mahasiswa berbeda karena mobilisasi bisa dilakukan secara masif dan serentak melalui komunikasi digital. Proses mobilisasi dilakukan melalui medsos dan kemudian dilanjutkan dengan orkestrasi turun ke jalan secara fisik.

Inilah gejala yang oleh Manuel Castell (2001) disebut sebagai galaksi internet (The Internet Galaxy) dimana eksosistem masyakarat mengembang dari sebelumnya hanya ekosistem fisik menjadi ekosistem virtual. Efek jaringan (network effect) menjadi jauh lebih masif dan efektif karena semakin luasnya ekosistem digital sekarang ini.

Politik juga berubah dari partisipasi fisik menjadi partisipasi virtual. Kalau dulu warganegara menggunakan hak politik secara fisik sehingga lebih mudah terdeteksi. Sekarang para warganet cukup memainkan gajet untuk melakukan gerakan mosi tidak percaya lewat situs internet.

Anak-anak milenial yang semula dikritik karena dianggap sebagai generasi apolitik sekarang menunjukkan tajinya sebagai agent of change, agen perubahan. Dengan mobilisasi virtual yang masif mereka kemudian turun ke jalan melakukan orkestrasi untuk memprotes DPR yang dianggap tidak kompeten, dan pada akhirnya tuntutan mundur diarahkan kepada presiden.

Demokrasi sekarang berada di tangan warganet. Ketika partai politik menjadi tidak efektif karena dianggap sarat dengan kepentingan subjektif maka demokrasi warganet yang dipelopori mahasiswa menjadi alternatif. Partai politik terbukti tidak efektif dalam melakukan mobilisasi dan orkestrasi, maka muncullah aktivis politik warganet yang dipimpin mahasiswa sebagai pemecah kebuntuan.

Pola-pola penggalangan politik sudah sangat berubah. Tapi, reaksi yang diberikan oleh rezim penguasa terlihat masih standar-standar saja. Ketika rasa keadilan masyarakat terkoyak karena serangkaian undang-undang yang mengebiri demokrasi dan pemberantasan korupsi, rezim malah sibuk menuding dan mencari-cari kambing hitam, HTI, Taliban, kelompok radikal..

Beberapa hari kedepan akan menarik untuk dicermati apakah gerakan mobilisasi dan orkestrasi mahasiswa ini semakin masif atau akan kempes di tengah jalan seperti diprediksi beberapa orang yang skeptis. Tetapi, melihat gejala mobilisasi virtual yang makin masif sangat mungkin terjadi gerakan yang makin luas dan besar.

Apakah rezim ini akan menjadi korban revolusi politik digital tahun ini? You bet…(*)

Berita Terkait

Potensi Kerugian Negara, Penyaluran Bansos Kemensos Tidak Dapat Ditelusuri Rp456 Miliar
Bambang Haryo Apresiasi Kemenhub Tangani Kasus STIP
PETI Marak Lagi di Sumbar, P2NAPAS Minta Kapolri Evaluasi Kinerja Kapolda
Kemnaker Tingkatkan Kerja Sama Pengembangan SDM dengan Jepang
Posko THR Tutup, Kemnaker Terima 1.539 Aduan Dari 965 Perusahaan
Posko THR Tutup H+7 Lebaran
Halalbihalal, Menaker Minta Pegawai Tingkatkan Etos Kerja dan Pelayanan Terbaik kepada Masyarakat
Menaker : Tradisi Mudik Lebaran Tak Boleh Berhenti

Berita Terkait

Sabtu, 25 Mei 2024 - 20:34 WIB

Potensi Kerugian Negara, Penyaluran Bansos Kemensos Tidak Dapat Ditelusuri Rp456 Miliar

Jumat, 17 Mei 2024 - 10:30 WIB

Bambang Haryo Apresiasi Kemenhub Tangani Kasus STIP

Sabtu, 27 April 2024 - 21:58 WIB

PETI Marak Lagi di Sumbar, P2NAPAS Minta Kapolri Evaluasi Kinerja Kapolda

Selasa, 23 April 2024 - 21:48 WIB

Kemnaker Tingkatkan Kerja Sama Pengembangan SDM dengan Jepang

Kamis, 18 April 2024 - 21:39 WIB

Posko THR Tutup, Kemnaker Terima 1.539 Aduan Dari 965 Perusahaan

Selasa, 16 April 2024 - 18:35 WIB

Posko THR Tutup H+7 Lebaran

Selasa, 16 April 2024 - 17:17 WIB

Halalbihalal, Menaker Minta Pegawai Tingkatkan Etos Kerja dan Pelayanan Terbaik kepada Masyarakat

Minggu, 7 April 2024 - 09:53 WIB

Menaker : Tradisi Mudik Lebaran Tak Boleh Berhenti

Berita Terbaru

NTT

Siapa Paket Parmanen Pilkada Malaka Kedepan?

Sabtu, 25 Mei 2024 - 13:26 WIB

Palembang

H.Jamak Udin SH Resmi Nahkodai GRIB Jaya Kota Palembang

Sabtu, 25 Mei 2024 - 12:48 WIB

Jawa Timur

Tegas! Bambang Haryo Minta Kuota Pupuk ke Petani Tak Dikurangi

Sabtu, 25 Mei 2024 - 12:40 WIB