Selasa, 26 November 2019 - 18:31 WIB

Bupati: Perubahan Adalah Hal Yang Sulit Penuh Ketidaknyamanan

Gayo Lues-Perubahan tidak bisa dimulai dari atas. Semua berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah, ambilah langkah pertama.

“Besok di mana pun anda berada, lakukanlah perubahan kecil di kelas anda. Ajaklah kelas berdiskusi, hanya mengajar. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Cetuskan proyek bakti sosial yang melintas seluruh kelas,” kata Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru, saat memimpin Upacara HUT PGRI Ke-74, Senin (25/11/2019) di Lapangan Pancasila, Blangkejeren.

Pesan Bupati, temukan satu bakat di dalam diri murid yang kurang percaya diri dan tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukan secara serentak, kapal besar bernama Indonesia, pasti akan bergerak.

“Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia,” ungkap Bupati,  yang membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dikatakan Bupati, untuk kali ini akan mengubah tradisi peringatan hari guru yang dipenuhi kata kata inspiratif dan retorik. Dengan berbicara apa adanya dari hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia.

Walau tugas guru adalah tugas yang mulia, sekaligus yang tersulit karena ditugaskan untuk membentuk masa depan bangsa, akan tetapi guru lebih sering diberi aturan daripada pertolongan. Semua guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi faktanya waktu guru malah habis mengerjakan administratif tanpa manfaat yang jelas.

“Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan itu,” ujarnya.

Dijelaskannya, para guru frustasi karena guru tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Guru tahu betul bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi, dan guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi guru tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi(Ali Sadikin)

Artikel ini telah dibaca 265 kali

loading...
Baca Lainnya

Operasi Yustisi, Puluhan Masyarakat Tidak Bermasker Disanksi Polsek Balaraja

TANGERANG – Upaya pendisiplinan masyarakat untuk mematuhi Protokol Kesehatan terkait COVID-19 gencar dilakukan jajaran Polsek...

27 September 2020, 20:33 WIB

Cerita Polsek Balaraja Sanksi 33 Pengendara Tidak Kenakan Masker

TANGERANG – Jajaran Polsek Balaraja Polres Kota Tangerang Polda Banten gencar melaksanakan kegiatan pendisiplinan masyarakat...

27 September 2020, 20:28 WIB

Kapolresta Tangerang Pimpin Operasi Yustisi Malam Minggu, Ini Hasilnya

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi kembali memimpin Operasi Yustisi bersama...

27 September 2020, 20:07 WIB

Datangi Kediaman KH. Uci, Kapolresta Tangerang Pastikan Tidak Ada Penyerangan

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi mendatangi kediaman KH. Uci Turtusi...

27 September 2020, 19:56 WIB

PKN Minta Polda Aceh Usut Dugaan Korupsi Pembangunan Jembatan Dusun Durin

Gayo Lues-Polda Provinsi Aceh diminta untuk mengusut dugaan korupsi pembangunan jembatan Dusun Durin, Kecamatan Rikit...

26 September 2020, 12:31 WIB

Bhayangkari Daerah Banten dan Cabang Kota Tangerang Beri Bantuan untuk Anggota Nakes

TANGERANG – Pengurus Bhayangkari Daerah Banten dan Pengurus Bhayangkari Cabang Kota Tangerang memberikan bantuan tali...

25 September 2020, 22:35 WIB

loading...