Rabu, 18 Desember 2019 - 12:28 WIB

Waketum Gerindra : Importir Migas, Orang Dekat Kekuasaan Jokowi

Jakarta Pengimpor Migas Pasti Orang orang Dekat Kekuasaan Kangmas Joko Widodo dan yang Pasti bisa punya pengaruh yang kuat untuk ngatur Pertamina, karena yang beli Migas Impor mereka kan cuma Pertamina, yang merupakan satu satunya yang punya hak mendistribusikan BBM Dan LPG di Indonesia.

Nah coba Kangmas sebut aja nama Pengusahanya dan perusahaan nya yang suka Impor Migas supaya Masyarakat jadi enga pada bingung. Dan Masyarakat mengerti kalau merekalah semua inilah sebagai salah satu yang menyebabkan neraca perdagangan kita defisit serta nilai kurs rupiah yang enga pernah mencapai 10 ribu /USD seperti yang pernah kangmas targetkan lima tahun yang lalu. Demikian tulis Arief Puyono, Waketum Gerindra

Lanjutnya, Dan mereka pula yang menyebabkan ekonomi kita berbiaya tinggi yang akhirnya para pengusaha keberatan kalau untuk naikan Upah Buruh pada taraf sejahtera

Kasi tahu aja kangmas ke saya nanti saya minta kawan kawan buruh dipelabuhan untuk lakukan pemboikotan pembongkaran Impor Migas . Biar enga bisa bongkar Impor Migas mereka.

Dan Kok bisa bisanya mereka menghalang halangi pembangunan industri pengelolaan batu bara jadi LPG yang akan membuat jauh lebih murah harganya dibandingkan LPG yang dihasilkan dari Hasil penyulingan minyak bumi, Pasti yang menghalangi punya power yang kuat alias orang seputaran Kekuasaan kangmas sendiri

Sebab dengan harga LPG yang murah maka industri manufacturing dan UMKM kita yang mengunakan bahan bakar LPG akan jauh lebih efisien dalam menjalankan usahanya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menerus menghantam soal besarnya impor minyak dan gas (migas) yang dilakukan oleh Indonesia. Dia menyatakan sudah tahu siapa pihak-pihak yang gemar mengimpor minyak dan gas tau LPG.

“Saya cari, sudah ketemu siapa yang seneng impor sudah mengerti saya. Saya ingatkan bolak balik kamu hati-hati, saya ikuti kamu, jangan halangi orang ingin membikin batu bara jadi gas. Gara gara kamu senang impor gas. Kalau ini bisa dibikin sudah nggak ada impor gas lagi. Saya kerja apa Pak? Ya terserah kamu. Kamu sudah lama menikmati ini,” tutur Jokowi dalam acara pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/12/2019).

Jokowi menyampaikan hal ini terkait senangnya Indonesia mengimpor LPG, padahal LPG ini bisa dibuat dari batu bara yang melimpah.

Soal batu bara menjadi LPG ini, bisa dilakukan lewat fasilitas pengolahan dimethyl ether (DME), gas dari batu bara yang menggantikan liquid petroleum gas (LPG).

DME diolah dari batu bara, yang mana produksinya memang jauh lebih murah daripada lifting minyak dan gas alam. Bahkan, batu bara yang akan dipakai merupakan batu bara berkalori paling rendah yang “kurang menguntungkan” jika dijual di pasar batu bara dunia.

Sebelumnya, PT Bukit Asam Tbk dan PT Pertamina serta perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Air Product and Chemicals Inc pernah meneken nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) untuk membangun fasilitas hilirisasi batu bara tersebut di Sumatera. Namun progresnya tidak jelas sampai seperti apa saat ini tuh kangmas!!

Nah kangmas sudah check belum kalau industri 4.0 seperti transportasi online karyanya mAs nAdiem itu juga sudah menyebabkan kenaikan komsumsi BBM juga loh yaitu bertambhnya mobil dan motor di Indonesia.. Tapi baguslah yang penting rakyat bisa bekerja dan bisa naikan angka pertumbuhan ekonomi nasional kok jadi enga di bawah 5 persen

Nah terkait 5 kilang minyak yang direncanakan dibangun tapi sudah lima tahun enga kunjung kelihatan ujudnya . Kangmas juga harus check tuh apakah pemenang tender nya itu yang berpartner dengan pertamina punya duit atau hanya sekedar broker

Nah kangmas, memang banyak sih sumur sumur Dan ladang minyak kita yang masih bisa dioptimalkan lifting minyak nya namun , kangmas tahu enga sumur sumur itu udah tidak ekonomis lagi kalau di eksploitasi maklum tinggallan penjajah belanda. Dan kayaknya Pertamina Dan Pemerintah perlu mencari sumber sumber minyak baru dah.. Dan ini enga pernah tuh di Lakukan karena biaya risetnya Mahal banget loh katanya.

Untuk info aja ya kangmas.. dan semakin melebar hingga 2018 seiring meningkatnya konsumsi domestik serta penurunan produksi. Pada 2018, defisit neraca minyak nasional meningkat 13,79% menjadi 977 ribu barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya. Melebarnya defisit minyak tersebut dipicu oleh kenaikan konsumsi minyak sebesar 5,24% menjadi 1,79 juta barel per hari diikuti turunnya produksi sebesar 3,52% menjadi 808 ribu barel per hari. Ini yang membuat neraca perdagangan migas defisit pada tahun lalu akibat besarnya impor hasil minyak.

Jadi kangmas itu semua gampang kok untuk nangani semua itu.. Dan enga perlu jengkel jengkelan kangmas.. Saya siap kok membantu kangmas demi bangsa Dan negara kita

Maju terus sikat mafia Impor migas… Tapi kalau berani ya..

Artikel ini telah dibaca 342 kali

loading...
Baca Lainnya

Pilbup Sidoarjo, Cabup Bambang Haryo Siapkan Ahli untuk Rebranding UMKM

Sidoarjo – Inovasi model agar tidak ketinggalan zaman yang menjadi kebutuhan UMKM mebel menjadi perhatian...

Bambang Haryo - Taufiqulbar

29 Oktober 2020, 00:41 WIB

Masyakarakat Mendukung Keberlanjutan Otsus Papua

Oleh : Saby kossay Otsus Papua menjadi salah satu bentuk perhatian negara untuk memajukan Papua....

28 Oktober 2020, 21:31 WIB

Pemerintah Optimis Mampu Atasi Covid-19

Oleh : Rizki Aditya Pemerintah Indonesia mengklaim optimis dalam upaya penanganan Covid-19 di Tanah Air....

28 Oktober 2020, 20:02 WIB

Mewaspadai Gerakan Provokatif KAMI

Oleh : Ahmad Burhanudin Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) menjadi kelompok yang terus menciptakan gejolak...

28 Oktober 2020, 18:57 WIB

Demo Mahasiswa Rentan Menularkan Covid

Oleh : Raditya Rahman     Tanggal 28 oktober, dalam rangka memperingati sumpah pemuda, akan...

28 Oktober 2020, 10:23 WIB

Lihat! Tagih Janji, Warga Tangerang Utara Kembali Geruduk Kantor BPN

TANGERANG – Kantor Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Negara (ATR/BPN) Kabupaten Tangerang di Jalan...

28 Oktober 2020, 10:14 WIB

loading...