Minggu, 22 Desember 2019 - 02:32 WIB

Jelang Tahun Baru Produksi Terompet Tradisional Lesu

JAKARTA – Tahun Baru 2020 sudah diambang mata. Umumnya, jauh-jauh hari menjelang pergantian tahun para pengrajin terompet tahun baru di kawasan Kota Tua, Glodok, Jakarta Barat banjir orderan. Namun tahun ini mereka mulai was-was.

Francis Cahyadi (55) misalnya. Bertahun-tahun dia menekuni kerajinan terompet tahun baru. Memang, modelnya masih tradisional dengan menggunakan bahan dasar kertas karton.

Menurutnya, dari tahun ke tahun produksi terompet tahun barunya menurun. “Makin kesini penjualannya makin lesu. Biasanya sebelum tanggal 20 itu sudah ramai yang jual, ini sudah mau Natal tapi masih sepi. Sangat jauh sekali dari sebelumnya,” tutur Francis Cahyadi, Minggu (22/12/2019).

Untuk terompet tahun baru, dulunya dia bisa memproduksi hingga 30-50 ribu terompet. Namun belakangan untuk produksi 15 ribu saja berat. “Tahun kemarin saja nggak sampai 15 ribu produksinya,” paparnya.

Padahal Francis Cahyadi mengaku sudah melebarkan sayap. “Biasanya pedagang-pedagang terompet yang ambil kan hanya dijual di sekitar Glodok. Dari tahun kemarin sudah saya coba pasarkan ke pedagang di Tangerang dan Bekasi,” jelas dia.

Namun sayangnya, terompet tradisional yang di produksi Francis Cahyadi tetap lesu penjualannya. “Kita sudah coba dengan model-model baru atau dengan menurunkan harga,” keluhnya.

Semula dia menjual ke pedagang antara Rp 4-15 ribu per terompet atau hitung ecer tergantung model. Sekarang hanya 3-12 ribu. “Itu harga grosir. Jadi pedagang bisa jual antara Rp 5-15 ribu. Pengrajin tetap untung walaupun kecil,” tambahnya.

Francis Cahyadi menduga, turunnya penjualan terompet tradisional karena kemunculan model terompet plastik yang diproduksi pabrik.

Rendi (20) salah satu pedagang terompet dadakan di Pasar Tambora Jakarta Barat mengatakan kalau penjualan terompet plastik saat ini memang lebih banyak diminati ketimbang terompet tradisional dari bahan karton.

Selain lebih awet, cara penggunaaannya yang menggunakan pompa atau pun gas membuatnya lebih steril ketimbang terompet yang harus ditiup. “Yang laku memang yang begini karena dia enggak ditiup tapi pakai pompa bunyinya. Suaranya juga lebih kencang,” Kata Randi, Minggu (22/12/2019).

Kendati harganya lebih mahal, yaitu untuk eceran Rp 20 ribu yang pompa dan Rp 50 ribu buat yang pakai gas, namun pengalaman dari tahun ke tahun penjualan terompet plastik terus meningkat.

 

Artikel ini telah dibaca 138 kali

loading...
Baca Lainnya

Komunitas GESIT Akan Gelar Podcast Warganet Ajak Masyarakat Dukung Kebijakan Pemerintah Atasi Pandemi Covid-19

Penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani dan...

23 September 2020, 09:12 WIB

Omnibus Law Cipta Kerja Menguntungkan UMKM

Oleh : Zakaria Omnibus Law Cipta Kerja didesain oleh pemerintah, tidak hanya untuk pekerja tapi...

22 September 2020, 23:58 WIB

Kalangan Media dan Milenial Harus Aktif Dukung Penanganan Covid-19

Oleh : Rahmat Soleh Pemerintah saat ini sedang fokus menangani Covid-19 yang masih terus terjadi....

22 September 2020, 23:50 WIB

Masyarakat Menolak Konsep Usang KAMI

Oleh : Putu Raditya KAMI yang diprakarsai oleh Din Syamsudin dkk berjanji akan menyelamatkan Indonesia....

22 September 2020, 04:20 WIB

Mengutuk Kekejaman KKSB Papua

Oleh : Sabby Kossay Kelompok kriminal separatis bersenjata adalah kumpulan pemberontak yang terus meneror masyarakat...

21 September 2020, 20:53 WIB

Omnibus Law Cipta Kerja Bangkitkan Perekonomian Bangsa

Oleh : Alfisyah Dianasari Pembahasan RUU Cipta Kerja terus dipercepat. Publik pun meyakini bahwa Omnibus...

21 September 2020, 19:53 WIB

loading...