Rabu, 25 Desember 2019 - 21:46 WIB

Natal Memperkuat Toleransi dan Kerukunan Masyarakat

Oleh : Edi Jatmiko

Perayaan Natal menjadi momentum yang spesial bagi Umat Kristiani. Bahkan momentum Natal juga sering dijadikan sebagai momentum silaturahmi antar masyarakat dari berbagai latar belakang. Natal 2019 diharapkan mampu menguatkan toleransi dan kerukunan masyarakat Indonesia.

Indonesia terkenal dengan negara multi agama, sehingga sikap toleransi antar umat beragama ini sangatlah penting. Karena, setiap agama memiliki kebiasaan serta aturan yang berbeda-beda, termasuk hari besar (perayaan) keagamaan. Kita sebagai mahkluk sosial tentunya wajib berinteraksi dengan manusia lain dalam pemenuhan kebutuhan. Tak mungkin bukan, jika semuanya kita lakukan sendiri.

Mengingat, dalam suatu masyarakat juga terdiri dari beragam kepercayaan yang dianut. Jika tak menjalin kerukunan dengan manusia lainnya, mau jadi apa?

Sekilas kita ingat kembali dalam pembukaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2, disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya masing-masing”.

Sehingga kita sebagai warga Negara sudah sewajarnya membiasakan diri untuk saling menghormati antara hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi menjaga keutuhan Negara serta menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama.

Sebagai contoh; toleransi antarumat beragama antara pemeluk Agama Islam dan Kristen di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah, di wilayah Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah. yang telah tercipta sejak dahulu.

Perbedaan keyakinan diantara mereka tidak menyurutkan semangat pemeluk Kristen dan Islam setempat untuk saling menjaga kerukunan, menghormati dan mengembangkan sikap toleransi. Hal ini juga tercermin saat pelaksanaan Idul Fitri yang jatuh pada hari Minggu tahun sebelumnya.

Kemudian Pengelola gereja langsung menelepon pengurus masjid untuk menanyakan soal kepastian perayaan Idul Fitri. Yang akhirnya pengurus gereja merubah jadwal ibadah paginya pada Minggu menjadi siang hari, agar tidak mengganggu umat Islam yang sedang menjalankan shalat Idul Fitri.

Contoh lainnya yang terlihat ialah saat pengurus masjid selalu memperbolehkan halaman Masjid untuk parkir kendaraan bagi umat kristiani GKJ Joyoningratan ketika ibadah Paskah maupun Natal sedang berlangsung. Hal ini bukankah suatu pemandangan yang luar biasa. Agama akan saling menguatkan serta menciptakan kerukunan.

Jika kita membantu orang lain yang berbeda agama bukan berarti kita setuju dan mengikuti agama tersebut, namun mendukung terciptanya toleransi umat beragama yang dinilai lebih penting. Bukan malah bertingkah fanatik dan meremehkan agama lainnya. Meski sepele kenyataanya toleransi ini sangat perlu ditingkatkan kehadirannya. Sehingga Bukan hanya di bibir saja, namun ada dalam hati dan mampu menyadarinya.

Jika di suatu Negara memiliki tingkat toleransi yang minim maka akan timbul berbagai ancaman yang bisa dengan mudah menghancurkan bangsa Indonesia.

Yang paling menonjol saat ini ialah ketika urusan agama dicampuradukan dengan urusan politik. Ini adalah hal yang sangat fatal, serta membuat individu saling bermusuhan dengan individu lainnya karena perbedaan pandangan. Akibatnya akan memecah belah kesatuan dan kedaulatan Negara Indonesia ini dari dalam.

Sikap toleransi bisa ditunjukkan dengan berbagai bentuk. Seperti; saling tolong-menolong, mengasihi, dan yang paling penting ialah mampu menghormati agama dan iman agama lain. Termasuk menghormati ibadah, hari hari besar serta menjaga tempat beribadah umat beragama lain.

Peran kita sebagai penerus bangsa adalah menjunjung tinggi nilai nilai toleransi agar mampu menjaga kesatuan dan kedaulatan Negara Indonesia ini dari segala intervensi dan perpecahan yang kemungkinan datang akibat distoleransi.

Banyak faktor yang mampu menggoyang toleransi antar umat beragama di Nusantara kita. Sikap fanatik yang berlebihan hingga mengunggulkan agama sendiri dan meremehkan agama lain juga termasuk didalamnya.

Apalagi menjelang perayaan natal seperti ini kerap kali menjadi momentum rawan yang dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Memang ada kalanya manusia akan berselisih pendapat, beda pandangan hingga segala yang berhubungan dengan kehidupan. Namun, semua dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

Toleransi ini sebetulnya memiliki arti yang sangat luas, melalui metode toleransi yang diterapkan dengan baik maka, tak menutup kemungkinan segala masalah akan mampu terselesaikan. Sehingga kerukunan, persatuan dan kesatuan dapat diwujudkan dengan lebih mudah. Mari hargai mereka dengan keragaman yang dimilikinya, sehingga kita akan terus berada dalam hidup yang aman, nyaman, dan damai.

Penulis adalah pengamat sosial politik

Artikel ini telah dibaca 78 kali

loading...
Baca Lainnya

Mengapresiasi Pemerintah Susun Rencana Vaksinasi Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko Pemerintah sedang menyusun skema vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Masyarakat pun mengapresiasi...

30 September 2020, 23:19 WIB

Program Pemulihan Ekonomi Nasional Terus Dilaksanakan

Oleh : Aditya Akbar Pemerintah terus berusaha memulihkan sektor perekonomian, meskipun saat ini fokus untuk...

30 September 2020, 22:55 WIB

RUU Cipta Kerja Menambah Kesejahteraan Pekerja Kontrak

Oleh : Rita Efendi Pemerintah telah menginisiasi RUU Cipta Kerja melalui konsep Omnibus Law. Peraturan...

30 September 2020, 22:05 WIB

Omnibus Law RUU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dengan Pengaturan Upah Minimum yang Layak

Oleh : Ade Kurniawan Para pekerja deg-degan menunggu peresmian omnibus law RUU Cipta Kerja, karena...

30 September 2020, 05:35 WIB

Masyarakat Harus Disiplin Laksanakan 3 M

Oleh : Zulfikar Penambahan pasien Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk...

30 September 2020, 05:23 WIB

Waspada Manuver KAMI Politisasi Isu PKI

Oleh : Edi Jatmiko Jelang peringatan peristiwa gerakan 30 september, selalu ada isu kebangkitan PKI...

30 September 2020, 05:17 WIB

loading...