Senin, 13 Januari 2020 - 14:48 WIB

Pahami Penyebab dan Mitigasi Bencana di Pasaman Sumbar

Sumbar, – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat mencatat bencana yang mendominasi di Kabupaten Pasaman yaitu banjir dan tanah longsor hingga pohon tumbang.

Selama tahun 2019, banjir 14 kali, tanah longsor 9 kali dan pohon tumbang 33 kali.

Baca berita terkait : Ini Bencana Mendominasi Selama 3 Tahun Terakhir di Pasaman

Tak hanya itu, menurut Badan Penaggulangan Bencana Nasional (BNPB) wilayah Kabupaten Pasaman diprediksi berpotensi akan terjadi bencana gempa bumi, kebakaran hutan hingga kekeringan.

Risiko kerugian paling tinggi diakibatkan bencana banjir di Kabupaten Pasaman bila dibandingkan dengan jenis bencana lain, sebab masyarakat Pasaman mayoritas bekerja sebagai petani.

Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman mencatat selama tahun 2019 lalu, lahan pertanian masyarakat Pasaman yang rusak akibat banjir mencapai 43, 5 Ha terdiri dari 40 Ha lahan persawahan (padi) dan 3,5 Ha lahan tanaman jagung.

Disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Pasaman, Ricky Riswandi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK), Yasrul, dalam pengurangan risiko bencana pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, pembentukan kelompok Siaga Bencana di 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman, mitigasi pengurangan risiko bencana disekolah dan nagari/desa, baik struktural maupun tidak.

GEMPA BUMI

Menurut Yasrul, sesuai data yang diberikan oleh BNPB, Kabupaten Pasaman diprediksi akan terjadi gempa, namun kapan waktunya tidak bisa diketahui.

Dikatakan Yasrul, ada daerah sesar atau patahan di Kabupaten Pasaman, tepatnya sepanjang aliran sungai dari Kecamatan Rao – Rao Selatan – Padang Gelugur – Panti – Lubuk Sikaping – Bonjol hingga batas Kabupaten Pasaman dengan Kabupaten Agam.

Peta risiko bencana gempa bumi di Kabupaten Pasaman, (warna hijau risiko rendah, kuning risiko sedang dan merah risiko tinggi). (Sumber Peta : BNPB)

Sesar atau patahan adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan. Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi.

Baca juga : Soal Penyetoran Bunga, Kelalaian Petugas Bank Nagari ?

“Jika gempa sering terjadi dengan dibawah 3.9 Skala Richter, akan jarang menimbulkan kerusakan, seperti yang terjadi di Kabupaten Pasaman, November 2019 lalu. Namun apabila nanti terjadi diatas 4.0 Skala Richter, maka akan ada kerusakan,” ujar Yasrul.

Yasrul menghimbau, jika terjadi gempa pada saat kita diruangan, segera berlindung dibawah meja atau didekat tiang bangunan, kalau diluar ruangan hindari bangunan tinggi, dan kalau sedang dikenderaan, segera keluar dari kenderaan.

BANJIR

Kemudian soal bencana banjir, merupakan bencana paling banyak merugikan masyarakat. Banjir diakibatkan curah hujan yang tinggi.

Kepada masyarakat, yang tinggal disekitar aliran sungai, apabila terjadi banjir segera menjauh atau mengungsi. Sama halnya dengan bencana tanah longsor, segera menjauh dari lokasi longsor.

Baca juga : Bermasalah, Kantor BPBD Sumbar Harus Dibongkar ?

Menurut catatan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Pasaman, lokasi paling rawan banjir disepanjang aliran sungai di Kecamatan Panti, Padang Gelugur, Rao Selatan dan Rao.

Adapun aliran sungai yang sering menyebabkan banjir yaitu Batang Sumpu dan Batang Asik.

Disampaikan Kabid Yasrul, aliran sungai itu sangat perlu di normalisasi untuk mengurangi risiko bencana banjir.

Peta risiko bencana banjir di Kabupaten Pasaman, (warna hijau risiko rendah, kuning risiko sedang dan merah risiko tinggi). (Sumber Peta : BNPB)

“Aliran sungai sepanjang 4 kecamatan itu perlu dinormalisasi untuk pengurangan risiko banjir. Sudah pernah dimohonkan Dinas PUTR ke pemerintah pusat, namun belum berhasil,” ungkap Kabid PK, Yasul, kepada Deliknews, Senin (13/01).

Menilai penyampaian Kabid PK diatas, pemerintah daerah mesti bersinergi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam hal pengurangan risiko banjir dengan menormalisasi aliran sungai.

LONGSOR

Menurut Kabid Yasrul, longsor di Kabupaten Pasaman salah satunya disebabkan oleh penggundulan hutan.

“Longsor hampir di seluruh kecamatan, penyebabnya karena tinggi curah hujan dan penggundulan hutan, apalagi banyak bertanam serai wangi,” jelas Yasrul.

Disarankannya, hanya tanah kemiringan dibawah 45° derajat yang bagus diolah dan lebih dari itu tidak baik digundulkan, untuk mengurangi tanah longsor.

Peta risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Pasaman, (warna hijau risiko rendah, kuning risiko sedang dan merah risiko tinggi). (Sumber Peta : BNPB)

“Tahun 2019 masuk cuaca paling ekstrim, diperediksi akan berlangsung sampai awal Maret, 2020” katanya.

Menilai saran Kabid PK tersebut, masyarakat mesti ikut aktif mengurangi risiko bencana khususnya dengan tidak mengolah atau menggundulkan tanah diatas kemiringan 45°, namun hal itu tidak terlepas juga dari peran pemerintah daerah mesti bisa membuat kebijakan maupun mensosialisasikannya kepada masyarakat.

POHON TUMBANG

Bahaya pohon tumbang yang sering terjadi, dikatakan Yasrul, itu menjadi bagian tugas Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup.

“Mengantisipasi kayu yang diduga membahayakan kepada masyarakat akan ditebang. Biasanya seperti itu,” kata Yasul mengakhiri.

DISHUT SUMBAR

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Kadishut Pemprov Sumbar) Yozarwardi Usama Putra, langkah pengurangan risiko bencana pohon tumbang yang sering terjadi dipinggir jalan Cagar Alam atau Hutan Wisata Rimbo Panti, dengan mengidentifikasi semua pohon yang terdapat disepanjang pinggir jalan, jenis pohon, diameter dan tinggi. Kemudian lakukan pengamatan kondisi fisik pohon tersebut dengan cara pendekatan usia pohon.

Langkah berikutnya, tandai pohon yang berisiko tumbang, melakukan pemangkasan, siagakan sinso dan alat berat untuk mitigasi pohon tumbang dan melakukan pemangkasan sesuai tupoksinya ada di BPBD.

BMKG

Menurut Kepala BMKG Minangkabau Sakimin, S.Si, saat ini memasuki musim penghujan, dan didaerah Kabupaten Pasaman intensitas curah hujan cukup tinggi dan bisa diiringi dengan angin kencang. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.

Kemudian terkait banyaknya pohon tumbang, bisa terjadi karena pohon yang sudah tua dan daunnya sangat rimbun sehingga bila diterpa angin kencang akan sangat berat menahan beban dan curah hujan tinggi, tanahnya sangat lembek/gembur, sehingga tidak kuat untuk menahan akar-akar dari pohon tersebut.

Sementara berdasarkan keterangan dari Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yudha Nugraha, bencana alam hidrometeorologi diakibatkan kondisi atmosfer dan lingkungan.

“Pasaman sebagai daerah yang terletak dekat equator dengan sifat kelembaban tinggi akan memiliki curah hujan yang selalu tinggi setiap bulannya, dengan demikian besar peluang kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, maupun petir/kilat juga tinggi di daerah Pasaman,” jelasnya.

Ditegaskan Yudha Nugraha, untuk penanggulangan kejadian bencana merupakan kewenangan BPBD daerah. “Pohon tumbang memang kami melihat dampak adanya angin kencang, peluang pohon dengan kondisi yang sudah lapuk dan lebar akan semakin tinggi sehingga diperlukan perhatian dari dinas pertamanan maupun BPBD setempat,” tegasnya.

WALHI SUMBAR

Menurut Dirtektur Walhi Sumbar, Uslaini, hal dilakukan untuk menghadapi ancaman bencana ekologis di Pasaman khususnya terkait banjir, longsor dan pohon tumbang, pemerintah, masyarakat dan stakeholder harus memahami ancaman kerentanan dan kapasitasnya sehingga bisa menyusun rencana kesiapsiagaan, mitigasi dan penangggulangan yang tepat.

“Mesti ada peta dimana saja wilayah yang memiliki ancaman bencana tertentu dan masyarakatnya paham mau melakukan apa dan kapan akan dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko yang mungkin akan dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Selain itu penting untuk menjaga kawasan hutan, lingkungan dan daerah aliran sungai tetap dalam kondisi baik. Memberikan edukasi kepada masyarakat itu penting agar tidak ikut serta merusak lingkungan. Jika ada perusahaan dan perorangan yang melakukan tindakan perusakan lingkungan mesti ditindak tegas dan dilakukan penegakan hukum.

“Mesti bisa menganalisis ancaman risiko bersama, kesiapsiagaan dan upaya mitigasi termasuk menjaga lingkungan,” kata Uslaini mengakhiri.

(Darlin)

Artikel ini telah dibaca 113 kali

loading...
Baca Lainnya

Jual ‘Canang’ ! Wanita Dianiaya Bos Villa Kubu Dituduh Gelapkan Rp 7,1 M

Denpasar – Dikatakan telah dilaporkan menggelapkan uang perusahaan mencapai Rp 7,1 miliar dalam pemberitaan, seorang...

Made Widyastuti Pramesti saat membuat canang. (Deliknews.com)

4 Juli 2020, 21:09 WIB

Ormas Islam dan LKAAM Pasaman Tolak RUU HIP

Pasaman, – Pimpinan Ormas lslam dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Pasaman Provinsi...

 Pimpinan Ormas Islam dan LKAAM Pasaman sampaikan pernyataan penolakan terhadap RUU HIP di halaman Masjid Raya Pauh, Lubuk Sikaping, Jum'at 3 Juli 2020.

4 Juli 2020, 20:00 WIB

Sembako PDAM Badung untuk Warga Terdampak Banjir Akhirnya Terealisasi

Denpasar – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mangutama, Kabupaten Badung (PDAM Badung) akhirnya merealisasikan bantuan...

Penyerahan bantuan paket sembako PDAM Badung untuk warga. (Deliknews.com)

4 Juli 2020, 08:16 WIB

Ketua DPRD Nisel : 1 Bendera Dibakar, Sejuta Bendera Berkibar

Nias Selatan, Deliknews.com – Insiden Pembakaran bendera PDI Perjuangan beberapa waktu lalu, 1 (satu) bendera...

3 Juli 2020, 19:00 WIB

Safari Jum’at, Kapolsek Sikakap Silaturrahmi dan Sosialisasi

Kepulauan Mentawai, – Kapolsek Sikakap AKP Tirto Edhi, SH melakukan safari Jum’at di Masjid Raya...

3 Juli 2020, 13:59 WIB

Dukcapil Pasaman Wujudkan Masyarakat Tertib Administrasi

Pasaman, – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Pasaman terus bersinergi dalam mewujudkan masyarakat...

3 Juli 2020, 13:14 WIB

loading...