Sabtu, 15 Februari 2020 - 14:00 WIB

Duh, Komisi III DPR Sebut Kasus Perkosaan di Cisoka Sangat Keji

TANGERANG – Kasus pemerkosaan yang terjadi di wilayah Cisoka, Kabupaten Tangerang menjadi sorotan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR–RI). Dimana, pada kasus itu, seorang kakek berinisial RA, 50 tahun memperkosa seorang anak berusia 13 tahun.

Tidak tanggung–tanggung perlakuan bejat RA itu pun dilakukan sebanyak dua kali pada hari yang sama dilokasi yang berbeda.

Menurut Anggota Komisi III DPR–RI, Rano Alfat, perilaku RA sangatlah keji. Pasalnya, RA tega memperkosa dan mengancam seorang anak yang masih berusia 13 tahun. Selain itu, tindakan RA sudah merusak masa depan anak tersebut.

“Tindakan yang bapak lakukan jahat. Tega menyetubuhi anak 13 tahun yang dilakukan dalam satu waktu,” kata Rano kepada wartawan di Polsek Cisoka Polresta Tangerang Polda Banten, Jumat (14/2/2020).

Rano juga berharap agar kakek RA segera bertobat dan tidak mengulangi hal yang serupa karena dapat merusak masa depan generasi muda.

“Ini menjadi perhatian untuk seluruh masyarakat karena kejadian ini teriadi di lingkungan sekitar, di perumahan,” ujarnya.

Sebelumnya Satuan Reserse Kriminal Polsek Cisoka Polresta Tangerang Polda Banten mengamankan seorang kakek berinisial RHM (50).

RHM terbukti melakukan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur. Dan korban merupakan anak yang menderita keterbelakangan mental.

RHM diamankan setelah sempat menjadi sasaran amukan warga yang memergokinya disebuah rumah kosong, di Perumahan Bukit Cikasugka, Cisoka, Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, RHM mengaku sudah lebih dari satu kali melakukan tindakan asusila tersebut. Dan saat ini, RHM masih menjalani pemeriksaan di Polsek Cisoka.

Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi menjelaskan RA sempat mengancam akan membunuh korban agar memberitahukn kejadian tersebit kepada orang lain.

“RA melakukannya sebanyak dua kali di rumah kosong yang berbeda. Pada saat melakukan persetubuhan pelaku mengancam akan mencekik korban jika korban teriak,” jelasnya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, RA dijerat Pasal 81 Jo Pasal 76D dab atau Pasal 82 Jo Pasal 76E UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dan terancam hukuman 15 tahun penjara.

Artikel ini telah dibaca 13991 kali

loading...
Baca Lainnya

Masyarakat Mendukung Penanganan Covid-19 di Indonesia

Oleh : Raavi Ramadhan Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung dan belum ada tanda-tanda kapan akan...

2 Oktober 2020, 00:41 WIB

Mengapresiasi Upaya Pemerintah Menjaga Daya Tahan Ekonomi Keluarga di Masa Pandemi

Oleh : Alfisyah Dianasari Salah satu faktor keberhasilan dari sebuah keluarga adalah dilihat dari ekonominya....

2 Oktober 2020, 00:15 WIB

Mengapresiasi Pemerintah Susun Rencana Vaksinasi Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko Pemerintah sedang menyusun skema vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Masyarakat pun mengapresiasi...

30 September 2020, 23:19 WIB

Program Pemulihan Ekonomi Nasional Terus Dilaksanakan

Oleh : Aditya Akbar Pemerintah terus berusaha memulihkan sektor perekonomian, meskipun saat ini fokus untuk...

30 September 2020, 22:55 WIB

RUU Cipta Kerja Menambah Kesejahteraan Pekerja Kontrak

Oleh : Rita Efendi Pemerintah telah menginisiasi RUU Cipta Kerja melalui konsep Omnibus Law. Peraturan...

30 September 2020, 22:05 WIB

Omnibus Law RUU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dengan Pengaturan Upah Minimum yang Layak

Oleh : Ade Kurniawan Para pekerja deg-degan menunggu peresmian omnibus law RUU Cipta Kerja, karena...

30 September 2020, 05:35 WIB

loading...