Jumat, 6 Maret 2020 - 00:13 WIB

Mewaspadai Penyebaran Paham Radikal di Masyarakat

Oleh : Ahmad Pahlevi

Penyebaran paham radikal masih menjadi ancaman nyata bagi keutuhan bangsa. Setiap elemen bangsa diminta untuk tetap mewaspadai penyebaran paham tersebut karena dapat mengancam keutuhan bangsa.

Tak butuh waktu lama, untuk radikalisme menguasai wilayah inkubasinya. Penyebaran paham esktrim ini dinilai cukup getol melakukan sejumlah pergerakkan. Lambat namun pasti, radikalisme banyak diikuti oleh orang-orang yang notabene ingin mendapatkan sejumlah pengakuan. Umumnya, banyak faktor kenapa orang bisa melakukan tindakan radikal. Kemungkinan paling besar ialah ekonomi.

Ekonomi memiliki andil cukup besar dalam hal ini. Misalnya saja ketika para pelaku radikal ini ingin merekrut anggota, mereka mengiming-imingi nominal hingga jaminan kehidupan yang layak. Jika begini siapa yang tak tergiur. Sayangnya embel-embel agama menjadi pembungkusnya. Sudah bukan rahasia jika agama merupakan masalah yang sensitif. Salah sedikit saja bisa berabe. Namun tidak dengan para radikalis ini.

Mereka seolah memiliki senjata untuk digunakan sebagai media pembelokkan yang cukup mumpuni.
Doktrin-doktrin dijejalkan sesuai keyakinan, yang seharusanya salah justru menjadi pembenaran. Yang akibatnya mereka dapat menerjang segala tata aturan yang ada.

Sehingga mengembalikan mereka ke jalan yang benar membutuhkan usaha ekstra.
Sebelumnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyatakan bahwa Cara berpikir dan berperilaku yang intoleran serta radikal wajib dihilangkan untuk mencapai visi Indonesia lebih Maju.

Dirinya menuturkan untuk menghilangkan segala hambatan-hambatan termasuk radikalisme, intoleransi hingga perpecahan. Lebih rinci Wapres menegaskan bahwa radikalisme dan intoleransi dpaat tercermin dari cara berpikir dan berperilaku, bukan pada bagaimana cara orang tersebut berpakaian. Hal ini diutarakan pasca ramai larangan penggunaan atribut keagamaan seperti cadar juga celana cingkrang.

Tindakan radikalisme ini dinilai telah berevolusi. Kejadian demi kejadian banyak yang dikategorikan menjadi radikalisme. Misalnya saja ujaran kebencian hingga yang terparah ialah upaya perusakan hingga mengakibatkan luka atau mengancam nyawa orang lain. Parahnya mereka (pelaku radikal) ini merasa benar atas tindakan yang mereka lakukan.

Tujuan dari tindakan ini ialah ingin mendirikan negara sendiri secara instan hingga meruntuhkan kepemerintahan yang ada. Radikalisme terasa makin meluas dengan adanya perkembangan teknologi.

Penggunaan media sosial sedikit banyak mempengaruhi radikalisme ini. Beberapa berita, hingga adanya manipulasi gambar yang disertai aneka narasi yang memojokkan pemerintahan kerap bergulir di beranda media massa.
Seolah paling benar sendiri, hingga mengkritisi negeri. Orang-orang yang cenderung melakukan tindakan radikal ini menganut sistem yang sedikit melenceng.

Jika orang lain tak sepihak atau sependapat dengannya maka akan disingkirkan. Meski seolah tak kasat mata, kaum radikalis ini bekerja secara kelompok dengan beragam tugas yang terstruktur. Mereka bekerja secara rapi. Bahkan, banyak data yang menyebutkan ada diantaranya yang mempropaganda melalui media sosial bernama Telegram.

Melalui aplikasi ini grup-grup terselubung dibuat. Meski terkesan mandiri, mereka justru terorganisasi secara rapi. Memiliki basis kekuatan yang tersembunyi. Maka tak ayal jika dulu wacana kepulangan eks simpatisan ISIS ditolak. Bukan saja dapat memicu konflik, secara nyata orang – orang seperti ini telah berinteraksi dengan kelompoknya setiap hari. Sehingga bukan tak mungkin pemikiran-pemikiran menyimpang telah tertanam di otak mereka.

Meski upaya deradikalisasi telah diterapkan, pemerintah harus sabar dalam menuai hasilnya. Deradikalisasi yang diaplikasikan kepada eks radikalis bukan tidak efektif, namun karena mereka telah lama dicekoki pemikiran-pemikiran yang salah. Sehingga untuk kembali lagi memang membutuhkan waktu.
Peningkatan kewaspadaan terhadap penyebaran radikalisme wajib diprioritaskan. Bak rayuan maut, kaum radikal begitu lihai menggaet anggota baru.

Jika demikian, tentunya semua kembali pada pribadi masing-masing. Apapun itu semua bisa dimulai dari diri sendiri. Sebut saja sikap toleransi, meski sepele banyak yang tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya akan timbul sikap intoleran yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Orang ngomong ini salah, ngomong itu salah, seolah dirinya yang paling benar. Jika dibiarkan lambat laun akan mengganggu stabilitas nasional juga. Sikap intoleran umumnya akan menciptakan budaya individualisme. Maka dari itu mari kita mulai untuk lebih peka terhadap sesama. Jika sikap intoleransi berlebihan ini dilestarikan bisa bisa negara bakal bubar jalan.

Penulis adalah pengamat sosial politik

Artikel ini telah dibaca 39 kali

loading...
Baca Lainnya

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

Waspada KAMI Goyang Kursi Presiden

Oleh : Haris Muwahid Masyarakat makin antipati terhadap Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena mereka...

28 September 2020, 00:16 WIB

Banyak Pihak Dukung Penanganan Covid-19

Oleh : Reza Pahlevi Pandemi belum berakhir dan pemerintah berusaha keras mengatasi efek negatifnya. Caranya...

28 September 2020, 00:07 WIB

RUU Cipta Kerja Mengatur Pengupahan Agar Pekerja Lebih Sejahtera

Oleh : Edi Jatmiko RUU Cipta Kerja merupakan salah satu terobosan untuk meringkas hiper regulasi....

27 September 2020, 09:27 WIB

loading...