Jumat, 6 Maret 2020 - 09:05 WIB

Tadarus HMI Komisariat Ilmu Budaya Unand “Islam dan Jurnalistik”

Padang, – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ilmu Budaya Universitas Andalas (Kom. IB Unand) melaksanaka  Tadarus Intelektual di Masjid Al-Munir FIB Unand, Kamis (5/3).

Kegiatan ini mengusung tema “Islam dan Jurnalistik” dan didukung oleh Komunitas Lapak Baca Pojok Harapan. Pemateri yang dihadirkan adalah Adjie Surya Kelana, seorang mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unand yang aktif menulis di beberapa koran lokal juga merupakan Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Padang.

Asril Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah FIB Unand selaku ketua pelaksana menyampaikan kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperkenalkan kembali HMI di lingkungan kampus terutama di lingkungan FIB Unand, meningkatkan nilai-nilai keislaman mahasiswa, dan menambah pengetahuan mahasiswa tentang dunia jurnalistik.

“Saya berharap peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya dan dapat menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Baca juga : Disurati Soal Dugaan Temuan, Bupati Pasaman Tidak Membalas

Pemateri Adjie Surya Kelana menjelaskan setiap orang adalah jurnalis karena secara teori jurnalistik diartikan sebagai sebuah aktivitas yang diawali dengan proses pencarian data/informasi, melakukan pengelolaan data, dan penyebarluasan data dengan berpegang pada unsur what, who, when, where, why (5W) dan how (1H). 

Dikatakan Adjie Surya Kelana, dunia jurnalistik jika dikaitkan dengan Islam adalah suatu bentuk proses pencarian, pengelolaan dan penyebaran data/informasi dengan tetap bersandar pada kebenaran dan selalu mengedepankan prinsip memanusiakan manusia karena sejatinya islam adalah agama yang memerdekakan manusia dan agama yang membawa kedamaian.

“Islam adalah agama yang sempurna. Segala hal diatur dalam islam termasuk persoalan jurnalistik. Ayat yang berhubungan dengan jurnalistik itu sendiri diatur dalam Surah An-Nur ayat 11 yang menjelaskan tentang pelarangan untuk menyebarkan berita bohong. Ayat ini kemudian juga didukung oleh Surah Al-‘Ashr ayat 3 tentang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran,” ujarnya. 

Menurut Adjie Surya Kelana, sejarah sudah mencatat banyak orang-orang yang terjebak dalam informasi palsu. Jika dilihat pada zaman rasulullah saw, rasulullah senantiasa selalu melakukan tabayun ketika menerima sebuah informasi. Tabayun adalah suatu proses pencarian dan penggalian informasi secara mendalam hingga jelas benar keadaannya.

“Jika kita lihat dari sejarah islam, pernah ada suatu kejadian tentang Aisyah (istri rasulullah) yang berujung pada fitnah. Pada saat itu, Aisyah sedang melakukan perjalanan dengan sebuah rombongan. Di tengah perjalanan ia pergi ke kamar kecil. Ketika akan kembali pada rombongan, Aisyah teringat bahwa ia melupakan kalungnya dan kembali untuk menjemput kalung tersebut. Akhirnya ia tertinggal rombongan. Tak lama, ada seorang tentara yang diutus rombongan untuk menjemput Aisyah. Setelah kejadian itu, banyak berita negatif yang beredar tentang Aisyah dan sang tentara. Kendatipun demikian, rasulullah tidak langsung percaya begitu saja dengan informasi negatif yang ada. Beliau senantiasa melakukan tabayun sebelum mengambil tindakan,” paparnya.

Adjie Surya Kelana memaparkan  bahwa selain unsur 5W dan 1H, ada unsur 3E yang harus ada dalam dunia jurnalistik hari ini yakni enlightenment, educated, dan enforcement. Lanjutnya, produk jurnalistik yang dibuat harus mampu memberikan pencerahan, pendidikan, dan membuat publik bergerak ke arah yang cenderung pada kebenaran.

“Jika diperhatikan, ada beberapa teman-teman wartawan hari ini yang menyajikan produk juranlistik hanya untuk memenuhi persoalan kaidah objektif jurnalistik. Artinya adalah penyajian data yang hanya bersandarkan pada unsur 5W dan 1H. Mereka melupakan esensi lain yang menurut saya juga penting yakni kaidah moral dan etika jurnalistik,” terangnya.

“Berbicara mengenai persoalan kaidah moral dan etika jurnalistik, saya ingin mengambil contoh tentang mahasiswa Unand yang diduga terkena virus korona beberapa hari yang lalu. Secara kaidah objektif jurnalistik, sah-sah saja jika kita ingin mempublikasikan hal ini kepada khalayak ramai. Akan tetapi, tentu harus dengan bahasa yang baik dan tidak menyinggung pihak manapun. Namun, jika sudah berbicara ranah moral dan etika jurnalistik, layak tidak jika kita menyebarluaskan informasi ini? Nah, coba bayangkan jika sang korban adalah keluarga dekat kita. Bahkan, saya juga menyayangkan jika ada oknum yang menyebarluaskan di media sosial untuk tidak bersentuhan dengan mahasiswa Unand akibat kasus ini. Sementara faktanya, hanya satu mahasiswa Unand yang diduga terkena virus ini  dan itu pun sudah diisolasi. Untuk itu, dalam perenungan mendalam sebelum menyebarkan informasi ini lah kaidah etika dan moral jurnalistik bekerja,” tambahnya.

Adjie Surya Kelana menegaskan bahwa media sejatinya adalah wadah untuk belajar bukan tempat untuk mencari kebenaran. Kebenaran tidak bisa didapatkan dari satu sumber saja melainkan harus ada sumber pembanding yang lain. Kebenaran yang paling cepat didapatkan adalah kebenaran dari diri sendiri dengan melakukan pergulatan panjang dari sumber-sumber yang kredibel.

Lebih jauh, Adjie Surya Kelana mengatakan bahwa media adalah wadah perjuangan. Menurutnya, hari ini banyak orang mengaitkan diksi perjuangan dengan konotasi anarkis, represif, radikal, serta makna negatif lainnya. Namun, jika kembali pada definisi perjuangan itu sendiri, perjuangan bermakna sebuah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan tujuannya.

“Untuk itu, kita harus senantiasa memikirkan agar media bisa menjadi wadah bagi kita untuk terus berproses dengan sungguh-sungguh tentang siapa pihak-pihak yang patut kita perjuangkan hak-haknya. Jangan berpikir bahwa jurnalistik itu hanya berfungsi sebagai pemenuh faktor materil semata. Jika seorang jurnalis masih berpikir demikian berarti dia belum sampai pada hakikat dan nilai seorang jurnalis yang sebenarnya.

Seorang jurnalis jika paham dengan hakikatnya, maka menulis adalah ladang amal jariyah baginya karena ia memberikan informasi yang bermanfaat bagi orang lain,” terangnya.

Baca juga : Ombudsman Sumbar Tegaskan Tak Ada Kewenangan Komite Lakukan Pungutan

Disamping itu, Adjie Surya Kelana juga menekankan bahwa setiap jurnalis harus memegang teguh prinsip bahwa hal yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar, dari sumber yang benar dan melakukan atau menyampaikan data/informasi dengan cara yang benar pula.

Adjie Surya Kelana juga mengajak para peserta kegiatan Tadarus Intelektual untuk senantiasa selalu berpijak kepada kebenaran dalam melakukan sesuatu.

“Jika Aktor intelektual sudah jenuh dengan kegiatan intelektual untuk menemukan kebenaran kita tunggu saja terbenamnya Negara Indonesia ini,” ujarnya.

Usai Adjie Surya Kelana memaparkan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terkait materi, penyerahan sertifikat penghargaan kepada pemateri, dan foto bersama. Diskusi antara pemateri dan peserta berlangsung dengan hangat. Hal ini terlihat dari besarnya antusiasme peserta dalam bertanya seputar materi yang disampaikan.

Alif Maulana selaku Ketua Umum HMI Komisariat Ilmu Budaya Unand berharap agar kegiatan Tadarus Intelektual ini dapat dilakukan secara rutin dan makin banyak peserta yang berpartisipaasi.

“Terakhir, saya juga berharap agar banyak mahasiswa yang pada akhirnya menjatuhkan hati pada HMI sebagai salah satu organisasi yang akan mereka geluti,” ungkapnya.

(Mita)

Artikel ini telah dibaca 47 kali

loading...
Baca Lainnya

Mahasiswa PSDKU unsiyah Kampus Blangnangka Orasi Damai Ke DPRK Gayo Lues.

Sebanyak 20 Orang Perwakilan  Mahasiswa PSDKU Universitas Siyah Kuala Kampus Belang Nangka Kabupaten Gayo Lues...

30 September 2020, 02:10 WIB

Kapolresta Tangerang Pimpin Operasi Yustisi, 72 Pelanggar Disanksi Masuk Ambulan

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi memimpin Operasi Yustisi bersama Pemkab...

29 September 2020, 23:21 WIB

Kapolresta Tangerang Bina Komunitas Jadi Pelopor Pelaksanaan Protokol Kesehatan

TANGERANG – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi kembali melaksanakan pembinaan komunitas untuk...

29 September 2020, 23:14 WIB

Beli Sabu Pakai Uang Pensiunan Orang Tua, Residivis Dibekuk Polresta Tangerang

TANGERANG – Satuan Reserse Narkoba Polresta Tangerang Polda Banten meringkus seorang pria berinisial BA lantaran...

29 September 2020, 23:04 WIB

Polresta Tangerang Beri Tambahan Masker dan Suplemen untuk Anggota

TANGERANG – Guna meningkatkan kunerja anggota di masa pandemi, Polresta Tangerang Polda Banten memberi tambahan...

29 September 2020, 22:51 WIB

Jumlah Pasien Covid-19 Meningkat, Kapolres Kembali Tinjau Kesiapan RSUDMAK

Gayo Lues-Menindak lanjuti Instruksi Kapolda Aceh untuk melihat kondisi  RS dalam penanganan Pasien Covid-19 dan...

28 September 2020, 23:07 WIB

loading...