Rabu, 11 Maret 2020 - 21:28 WIB

Ibu Kota Negara Baru Pintu Gerbang Membangun Kejayaan Bangsa

Oleh : Ahmad Kurniawan

Keputusan Presiden Joko Widodo untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan sudah sepatutnya di apresiasi. Pemindahan tersebut telah membuktikan bahwa Jokowi merupakan seorang pemimpin yang visioner guna membangun kejayaan bangsa.

Pemindahan Ibu kota negara telah melakukan kajian mendalam dan diproyeksikan untuk jangka panjang. Setidaknya Jokowi tidak hanya memikirkan bangsa Indonesia 5 tahun kedepan, tetapi juga memikirkan jangka panjang. Dimana generasi bangsa akan menuai manfaat dengan adanya pembangunan Ibukota Negara Baru.

Mantan Walikota Surakarta tersebut telah menunjukkan keberaniannya dan memiliki komitmen terhadap perubahan.
Sebelumnya, Jokowi pernah menyampaikan bahwa beban DKI Jakarta dan Pulau Jawa sudah begitu berat. Ia menginginkan adanya pemerataan pembangunan nasional yang bersifat Indonesia sentris.

Dirinya juga mengatakan, pemindahan ibu kota tersebut dapat menjadi momentum bagi Indonesia dalam memberikan kado indah kepada dunia. Oleh karena itu, Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut berharap agar kelak ibu kota baru ini tidak hanya sekedar memindahkan pusat pemerintahan.

Hal ini tentu harus disadari oleh seluruh pihak, bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar. Tidak hanya pulau jawa saja, tetapi mencakup dari sabang sampai merauke.
Perpindahan ibukota juga diyakini akan menurunkan kesenjangan antarwilayah.

Pemindahan ibukota ke luar pulau jawa juga akan mendorong perdagangan antarwilayah, terutama perdagangan antara pulau jawa, serta antarwilayah di luar pulau jawa.
Generasi bangsa juga harus menyadari, bahwa membangun Ibukota Negara tidak hanya membangun gedung-gedung pemerintahan, tetapi mengembangkan tatanan kehidupan baru.

Sementara itu hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas), pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur akan memberikan dampak ekonomi secara positif melalui jalur investasi. Dampak ini akan dirasakan tidak hanya jangka pendek, tetapi juga pada jangka panjang.

Bambang Brodjonegoro selaku Kepala Bappenas menuturkan, dalam masa konstruksi atau jangka pendek, investasi infrastruktur untuk membangun ibu kota baru akan menciptakan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan dan sekitarnya.

Bappenas memproyeksikan peningkatan investasi riil di Kalimantan Timur akan mencapai 47,7 persen, peningkatan investasi riil di Pulau Kalimantan sebesar 34,5 persen, sedangkan peningkatan investasi riil di Indonesia tercatat 4,7 persen.

Investasi pembangunan di wilayah Ibukota baru tentu secara otomatis akan mendorong peningkatan output sektor lain di Kalimantan Timur dan juga provinsi lain.

Di Kalimantan Timur, output tertinggi selama masa konstruksi akan terjadi di sektor konstruksi, kesehatan, restoran, semen, perdagangan dan lainnya.

Sementara di wilayah Sulawesi Selatan yang paling terdampak positif akan mengalami peningkatan pada sektor semen, pertambangan dan juga ternak untuk mensuplai kebutuhan pangan di Kalimantan Timur.

Dalam jangka pendek, pemindahan ibu kota negara juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Peningkatan pertumbuhan ekonomi riil di kalimantan timur bisa mencapai 7,3 persen, di Pulau Kalimantan 4,7 persen, sementara di Indonesia 0,6 persen. Sedangkan peningkatan kesempatan kerja di Pulau Kalimantan mencapai 10,5 persen dan nasional 1,0 persen.

Progres pemindahan Ibu kota menjadi sebuah momentum bagi para pengusaha jasa konstruksi untuk membuktikan bahwa Indonesia juga mampu membangun infrastruktur dalam waktu relatif singkat.

Setelah berakhirnya masa konstruksi, operasionalisasi ibu kota baru yang disertai dengan konektivitas antara Kalimantan Timur dengan wilayah lainnya di Indonesia akan memberi dampak ekonomi yang lebih besar.

Sedangkan jangka panjang dari pemindahan ibu kota tersebut adalah, ketimpangan pendapatan yang akan menurun seiring dengan meningkatna kesempatan kerja, dimana kesempatan kerja di Kalimantan Timur akan meningkat 10,9 persen dan Pulau Kalimantan 5 persen.

Kesenjangan antar wilayah di Indonesia haruslah diberantas cepat atau lambat, hal ini tentu saja sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam pancasila.

Tentu kita sudah tahu bahwa pulau Jawa masih terlalu dominan untuk perekonomian Indonesia. Pemindahan ibukota juga dilakukan untuk mengubah mindset dari jawasentris menjadi Indonesiasentris.

Nantinya Ibukota baru akan dicanangkan untuk dapat merepresentasikan identitas bangsa, meningkatkan pengelolaan pemerintahan yang efektif dan efisien serta menerapkan ibukota yang smart, green and beautiful city. Tentu saja hal tersebut akan menjadi warisan bagi generasi bangsa di masa depan.

Penulis adalah warganet tinggal di Tangerang

Artikel ini telah dibaca 44 kali

loading...
Baca Lainnya

Masyarakat Apresiasi Pembangunan Jalan Trans Papua

Oleh : Rebecca Marian Pembangunan di Papua sangat diapresiasi oleh masyarakat. Mereka merasa lebih maju...

25 November 2020, 20:04 WIB

Masyarakat Menolak Safari Habib Rizieq di Daerah

Oleh : Abdul Rahman Terjadi banyak penolakan terhadap safari ceramah yang akan dihadiri oleh Habib...

25 November 2020, 15:09 WIB

Hoax UU Cipta Kerja Hambat Pemulihan Ekonomi

Oleh : Alfisyah Dianasari UU Cipta Kerja lahir dengan banyak penolakan dari buruh dan masyarakat...

25 November 2020, 14:57 WIB

Pemerintah Pastikan Vaksin Covid-19 Halal

Oleh : Edi Jatmiko Sebentar lagi vaksin covid-19 akan diluncurkan di indonesia. Masyarakat tak perlu...

25 November 2020, 14:43 WIB

UU Cipta Kerja Bantu Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi

Oleh : Alfisyah Dianasari Pemulihan ekonomi menjadi fokus pemerintah di masa pandemi. Memang tak hanya...

24 November 2020, 23:25 WIB

PT LIB Bertemu Kabaharkam Polri, Liga 1 dan 2 Siap Digelar Februari 2021

JAKARTA – Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol Agus Andrianto, menerima audiensi dari...

24 November 2020, 22:42 WIB

loading...