Jumat, 10 April 2020 - 23:28 WIB

Teganya Pandemi Covid-19 Dimanfaatkan Kepentingan Politik

Oleh : Nur Alim

Segelintir elit politik tega memanfaatkan Pandemi Covid-19 sebagai ajang pencitraan. Salah satu kecenderungan tersebut terlihat dengan adanya surat pembagian sembako Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tanggal 9 April 2020 yang dianggap hanya mencari sensasi untuk kepentingan politik.

Masyarakat Indonesia saat ini tengah di sibukkan oleh berbagai upaya untuk memerangi Covid-19. Namun di tengah penderitaan rakyat tersebut, masih saja ada yang mempolitisasi keadaan. Tidak dapat disangkal jika sebentar lagi memang beberapa daerah di Indonesia bakal melaksanakan Pilkada 2020, sehingga gimik politik perlu untuk ditingkatkan

Anies Baswedan merupakan salah satu tokoh yang disinyalir mengeksploitasi krisis Covid-19 demi kepentingan pribadinya. Sinyalemen itu muncul saat Anies mengirimkan sepucuk surat agar masyarakat tetap kuat dan mau menerima paket sembako. Dalam surat tertanggal 9 April 2020, Anies juga seakan mendramatisir suasana dan seolah menempatkan hanya dirinya saja yang bekerja dan memberi bantuan.

Bukan kali pertama Anies berupaya mencari perhatian masyarakat. Sebelumnya, Anies Baswedan berupaya mencari pengaruh dengan mengirim surat untuk para petugas medis. Disebutkan surat-surat tersebut berada di masing-masing kamar hotel. Surat Perhatian tersebut dinilai sejumlah pihak adalah bagian dari manuver Anies, karena begitu kental dengan aroma politik.

Sebelumnya politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean juga mengkritik tindakan Anies ini sarat politik dan berlebihan. Dirinya menilai sang Gubernur tengah mencari simpati di tengah pandemi. Sebetulnya memang tak ada yang istimewa di dalam surat tersebut. Namun, kiranya tak usahlah hal ini dilakukan.

Toh semua orang sudah tahu, kini COVID-19 tengah melanda negeri, serta petugas medislah yang banyak berkontribusi. Sudah sedari awal kan kita tahu memang petugas medis ini yang berperan sebagai garda terdepan buat negeri tercinta. Lalu kenapa perhatiannya baru ditunjukkan sekarang? Emang kemarin kemana pak?

Akhir-akhir ini memang sering ditemukan indikasi-indikasi yang sedikit nyeleneh dari para tokoh politik termasuk Anies Baswedan. Perhatian demi perhatian yang diluncurkan justru seolah sengaja diumbar.

Tapi, hal ini tentu bukanlah tindakan yang baik dan dibenarkan. Ucapan terimakasih secara resmi dan terang-terangan agaknya lebih bijak.
Kalau caranya terimakasih begini tentu saja seperti menyimpan sesuatu. Sepertinya Anies ingin menegaskan jika “dia sendiri” peduli dengan petugas medis atau masyarakat, dan yang lain tidak ada yang peduli.

Dia sendiri yang kasih perhatian lebih dengan mengurai tinta hitam diatas putih sementara yang lain tidak. Tapi, setidaknya ucapan melalui sepucuk surat yang di letakkan pada tiap kamar ini sangat berlebihan atau bahasa gaulnya “lebay”!
Andai saja pak Gubernur berpikir, bukan hanya petugas medis saja yang berperan aktif.

Bahkan banyak lho relawan-relawan COVID-19 yang bersedia membantu tanpa bayaran. Ada lho putera-puteri daerah yang memiliki inisiatif menyumbangkan tenaganya khusus dalam melawan pandemi ini. Lalu, apa bang Anies juga mau suratin mereka?

Sudah lumrah terjadi jika suatu kondisi dipolitisasi. Apa tak takut bila hal ini kemudian akan menjadi Boomerang bagi Anies sendiri. Sama seperti sebelumnya, Anies yang pandai berorator ini sering melakukan tindakan kontroversial dan unik. Kendati demikian harusnya hal-hal semacam ini mampu ditahan mengingat dirinya ialah seorang gubernur. Tak baik bermanuver politik di tengah wabah yang bikin hati bergidik.

Bisa jadi di momentum ini dianggap lebih mudah mencari perhatian atau sekadar meningkatkan kepercayaan. Maklumlah sejumlah kasus yang pernah membelenggu Gubernur DKI ini cukup dapat menjatuhkan namanya. Kemungkinan saat inilah waktu yang tepat untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik.

Masyarakat yang sedang menghadapi polemik virus Corona dianggap lebih mudah untuk digaet. Khususnya dengan diberi sedikit perhatian saja rakyat bakalan “meleleh”hatinya yang kemudian berpotensi memuja kepada sang pemberi perhatian. Tapi, apa harus sedemikian rupa, hingga untuk mempertahankan citra baik gubernur harus dengan cara seperti ini?

Janganlah, mempolitisasi keadaan yang sudah carut marut ini. Sudah cukup kesemrawutan yang ada, tak usahlah diembel-embeli kepalsuan hanya untuk meminta imbalan lebih. Yakni, kesetiaan juga pengikut. Bukankah kini yang terpenting ialah dukungan dan kontribusi nyata untuk melawan Corona dan bukan janji-janji manis. Karena rakyat butuh tindakan nyata, dan bukan kata-kata.

Penulis adalah warganet tinggal di Cikini

Artikel ini telah dibaca 965 kali

loading...
Baca Lainnya

Mewaspadai Manuver KAMI Bermuatan Politis

Oleh : Ahmad Bustomi Masyarakat dipusingkan dengan ulah anggota KAMI yang mejeng di berita TV...

29 September 2020, 03:55 WIB

Masyarakat Papua Mendukung Keberlanjutan Otsus

Oleh : Abner Wanggai Pemerintah memberikan sinyalemen untuk melanjutkan Otsus Papua. Otsus tersebut dianggap membawa...

29 September 2020, 03:48 WIB

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

Waspada KAMI Goyang Kursi Presiden

Oleh : Haris Muwahid Masyarakat makin antipati terhadap Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena mereka...

28 September 2020, 00:16 WIB

loading...