Jumat, 17 April 2020 - 15:28 WIB

Tidak Mudik Memutus Rantai Penyebaran Corona

Oleh : Andri Saputro

Mudik menjadi tradisi tahunan yang banyak dilakukan mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya menjelang Idul Fitri maupun momentum keagamaan lainnya.

Namun, mudik di tengah pandemi Covid-19 sangat membahayakan karena para perantau memiliki resiko menulari keluarga yang ada di kampung. Masyarakat pun diimbau untuk menahan hasrat mudik guna memutus mata rantai penularan Corona dan menyelamatkan keluarga tersayang.

Dalam kurun waktu yang seratus tahun ini, wabah Corona disebut-sebut lebih mematikan ketimbang virus lainnya. Bahkan menurut para ahli virus ini 10 kali lipat lebih ganas daripada flu babi. Maka, tak heran jika serangan virus ini membuat warga hampir di seluruh dunia ketakutan. Berbagai macam langkah antisipasi dilakukan, beragam penelitian dikembangkan. Untuk mendapatkan vaksin penangkal virus yang telah mengobrak-abrik dunia.

Butuh waktu setidaknya 18 bulan untuk mengetahui seluk beluk mahkluk tak kasat mata ini. Bayangan saja, baru satu bulan saja orang-orang di seluruh dunia sudah kocar-kacir. Belum lagi keadaan ekonomi seolah terjun bebas dan hancur.

Bukan hanya di Indonesia saja, kemungkinan negara-negara adidaya seperti Amerika, Italia, Rusia, atau negara besar lainnya pun mengalami keterpurukan akibat ekonomi ini.
Penanganan Virus Corona yang terus menyebar ini butuh konsen yang tinggi. Oleh karena itu, imbauan “jangan mudik” masih terus digalakkan.

Potensi penularan akibat mudik ini dirasa lebih besar. Karena sebagaimana kita tahu, kendati kita tak terpapar virus Corona. Kita tetap dapat menularkan karena sifat “Carrier” ini dapat disandang siapa saja.
Wabah Corona yang mendunia ini kini tengah menjadi fokus Indonesia.

Jumlah terbaru dilaporkan sudah mendekati angka lima ribu kasus. Dan kebanyakan yang terjangkit ini adalah yang memiliki imunitas rendah.

Nah, jika aktivitas mudik “ngeyel” dilakuan sudah pasti mereka tak sayang keluarga kan? Padahal, aktivitas pulang kampung ini umumnya dari kota-kota besar seperti Jakarta, Jawa barat atau kota lain yang telah menunjukkan kasus positif Corona.

Bukankah antisipasi itu datangnya dari niat kita sendiri. Bukan berarti Jika tak pulang kita tak sayang. Justru saat pandemi ini sedang terjadi kita harus melindungi diri dan juga keluarga kita di kampung.

Lingkungan sekitar, atau orang-orang terdekat. Meski sudah diterapkan karantina mandiri, lantas kita tak bisa seenaknya sendiri dan berlaku konyol.
Sebelumnya pemerintah juga menghendaki mudik ini ditiadakan dulu.

Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia. Bahkan, penerapan pembatasan sosial secara besar-besaran turut dilakukan. Bedanya PSBB kali ini dilengkapi dengan dasar hukum untuk menguatkan. Tak lain agar masyarakat taat dengan kebijakan pemerintah.

Seluruh elemen sudah cukup lelah, semua kehabisan energi hingga garda terdepan kita tenaga medis sudah sangat kewalahan. Bukankah ini saatnya mengumpulkan empati kita. Meski kita tak mampu menyumbang apapun. setidaknya aware lah dengan kondisi saat ini.

Jangan membebani lagi mereka-mereka ini yang berjuang di garis terdepan negeri. Yakni tetap tinggal di wilayah hunian sendiri-sendiri. Terapkan physical distancing juga pemakaian masker. Termasuk sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, sebelum dan sesudah beraktifitas.
Hampir seluruh dunia juga menerapkan hal ini.

Kendati lockdown mandiri dirasa bisa membantu hal ini akan percuma saja bagi yang masih nekat untuk melakukan mudik. Mereka seolah kebal dan tak takut tertular. Mereka merasa imun mereka bagus. Lalu pertanyaannya ialah, bagaimana dengan mereka yang dirumah (kampung). Apakah juga mempunyai anggota keluarga dengan usia tua atau bayi juga anak-anak.

Sudah banyak terjadi jika orang yang dalam keadaan sehat pun nyatanya telah terpapar Corona. Nah, inilah yang dikhawatirkan. Bisa jadi yang begini akan menularkan kepada orang lain dengan imunitas rendah. Bayangkan saja jika hal itu menimpa Anda, atau orang tersayang Anda? Pastinya juga tak mau kan? Makanya, kita semua dituntut untuk sadar diri dan lebih hati-hati.

Kita perlu bersabar demi orang-orang tersayang, pihak lain hingga negeri kita tercinta ini. Jika Corona mampu ditekan bahkan dihentikan dengan tidak mudik dulu, kenapa kita tidak melakukannya? Sudah waktunya berkontribusi, mari bersama-sama lawan COVID-19!

Penulis adalah anggota Ikatan Mahasiswa Gunung Kidul

Artikel ini telah dibaca 1071 kali

loading...
Baca Lainnya

Mengapresiasi Pemerintah Susun Rencana Vaksinasi Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko Pemerintah sedang menyusun skema vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Masyarakat pun mengapresiasi...

30 September 2020, 23:19 WIB

Program Pemulihan Ekonomi Nasional Terus Dilaksanakan

Oleh : Aditya Akbar Pemerintah terus berusaha memulihkan sektor perekonomian, meskipun saat ini fokus untuk...

30 September 2020, 22:55 WIB

RUU Cipta Kerja Menambah Kesejahteraan Pekerja Kontrak

Oleh : Rita Efendi Pemerintah telah menginisiasi RUU Cipta Kerja melalui konsep Omnibus Law. Peraturan...

30 September 2020, 22:05 WIB

Omnibus Law RUU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dengan Pengaturan Upah Minimum yang Layak

Oleh : Ade Kurniawan Para pekerja deg-degan menunggu peresmian omnibus law RUU Cipta Kerja, karena...

30 September 2020, 05:35 WIB

Masyarakat Harus Disiplin Laksanakan 3 M

Oleh : Zulfikar Penambahan pasien Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk...

30 September 2020, 05:23 WIB

Waspada Manuver KAMI Politisasi Isu PKI

Oleh : Edi Jatmiko Jelang peringatan peristiwa gerakan 30 september, selalu ada isu kebangkitan PKI...

30 September 2020, 05:17 WIB

loading...