Minggu, 10 Mei 2020 - 00:34 WIB

Tetap Waspada dan Siaga Akan Bahaya Radikalisme di Medsos Saat Pandemi

Oleh: Reka Agustina (Ketua Gerakan Literasi Terbit Regional Jakarta)

Pemerintah Indonesia telah menetapkan pandemi Covid-19 menjadi bencana nasional sehingga membutuhkan Gugus Tugas untuk Percepatan Penanganan. Namun kebijakan komprehensif pemerintah tampaknya masih menuai kritik bahkan resistensi dari berbagai elemen masyarakat, yang cenderung menuntut agar tegas menyikapi ancaman serius lain, yakni radikalisme.

Dampak pandemi Covid-19 ini, menyebabkan beralihnya fokus aparat keamanan dimanfaatkan oleh kelompok lain yang berkepentingan seperti kelompok anti pemerintah untuk memperburuk situasi dan kondisi. Di sisi lain, hal itu dijadikan peluang bagi gerakan radikalisme membangun dan memperkuat sentimen negatif atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah.

Tentunya dengan menebar berita-berita hoax terkait kegagalan negara dalam penanganan Covid-19. Hoax dibuat seakan-akan nyata dengan bukti-bukti yang juga terlihat nyata. Kelihaian dan pencitraan memutarbalikkan fakta sangat cantik sehingga masyarakat terpikat dengan berita hoax tersebut. Padahal semuanya hanya ilusi semata.

Tidak hanya masalah Covid-19, semua masalah yang bisa dibuat bahwa itu adalah kesalahan dari pemerintah atau sistem pemerintahan Indonesia, pasti dijadikan kambing hitam oleh kelompok yang tak bertanggungjawab, terutama kelompok radikal dan teroris.

Mereka menginginkan berdirinya sistem pemerintahan Islam di Indonesia. Padahal Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan kearifan lokal tinggi. Kuatnya persatuan Indonesia menjadikan kelompok radikal mengembangkan pola dan sistem propaganda serta rekrutmen anggota. Pengembangan tersebut juga menyasar media sosial sehingga perlu pagar kuat untuk membentengi diri dari hoax.

Pemerintah telah berusaha sangat keras membendung perebaran hoax di dunia maya, berbagai kebijakan penghapusan maupun downgrading akun-akun penyebar hoax. Namun itu tidak cukup. Pemerintah bersama masyarakat harus bersatu dan bekerjasama untuk segera menangani ancaman penyebaran dan dampaknya.

Peneliti Senior Badan Litbang Kementerian Agama, Abdul Jamil Wahab mengatakan, motif gerakan terorisme adalah motif keagamaan dan balas dendam. Mereka akan terus berjuang hingga sistem Khilafah Islamiyyah berhasil mereka dapatkan.

Situasi Covid-19 ini, pasalnya, para oknum paham radikal menganggap seperti peristiwa perang, Oleh karena itu warganet bersama masyarakat dan pemerintah harus bersatu dan bekerja bersama mempublikasikan narasi positif dan
optimisme guna mengangkat isu persatuan dan toleransi.

Optimisme masyarakat akan terus tumbuh bila terjalin hubungan baik antara masyarakat dan pemerintah. Literasi masyarakat juga lerlu ditingkatkan guna aktif berpartisiapsi mendukung pemerintah dalam melawan hoax radikalisme dan intoleransi yang dapat menganggu eksistensi kedaulatan di tengah Pandemi Covid19.

Mari melawan Virus Radikalisme yang Memprovokasi dan Menghambat Upaya Penanganan Pandemi Covid-19 ini dengan menghindari Provokasi dan Propaganda Radikalisme Dengan Tingkatkan Rasa Patriotisme dan Nasionalisme Demi Indonesia yang Damai dan Maju.

Artikel ini telah dibaca 172 kali

loading...
Baca Lainnya

Menengok Harta Kekayaan Cabup Sidoarjo, Ternyata Cabup Ini Paling Terkaya

Sidoarjo – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah umumkan laporan harta kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) para...

29 September 2020, 21:33 WIB

Mewaspadai Manuver KAMI Bermuatan Politis

Oleh : Ahmad Bustomi Masyarakat dipusingkan dengan ulah anggota KAMI yang mejeng di berita TV...

29 September 2020, 03:55 WIB

Masyarakat Papua Mendukung Keberlanjutan Otsus

Oleh : Abner Wanggai Pemerintah memberikan sinyalemen untuk melanjutkan Otsus Papua. Otsus tersebut dianggap membawa...

29 September 2020, 03:48 WIB

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

loading...