Jumat, 15 Mei 2020 - 18:56 WIB

Petani Desa Fagoe Menerapkan Program TPJS Meski Belum Dapat Sosialisasi Dari Dinas Pertanian Malaka

Malaka- para petani di Desa Fafoe Kabupaten Malaka sudah melakukan menanam jagung dengan sistim doubel trayek juga panen ayam dan babi, meski belum mendapatkan sosialisasi program Tanam Jagung Panen Sapi (TPJS) dari Dinas Pertanian kabupaten Malaka.

Kelompok Tani “Kembang Melati” di desa Fagoe beranggotakan 15 orang yang diketuai oleh Odilia Meak. Di prakarsai oleh Syuriadi sebagai PPL untuk mbentuk kelompok tani ini pada tahun 2005 silam. Keberadaan kelompok tani Kembang Melati masih eksis sampai sekarang.

Ketua kelompok Kembang Melati, Odilia Meak saat di temui di rumahnya, Jumat (15/5) mengatakan, sejauh ini pola penarapan tanam bibit jagung  hibrida, pada kelompok tani, dengan sistem dobel trayek. Sesuai apa yang dianjurkan oleh Syuriadi (alm) sebagai PPL di desa kami, bahwa menanam  jagung yang benar dan tepat itu harus jaraknya berukuran 20 x 40 cm.

“Budidaya komoditi jagung hibrida pada kelompok kami, dengan pola penanaman sistem doubel trayek. Dengan sistim ini hasil panen pertanian terus meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun jagung tidak disirami dengan pupuk” ungkap Odilia Meak

Lanjutnya, hasil panen jagung tahun 2019 lalu sampai 20 ton dan tahun 2020 ini, hasil panennya mendekati 30 ton jagung. Sangat disayangkan, karena sitem pemasarannya masih secara lokal dan hanya seputar Kabupaten Malaka dengan harga jagung Rp. 3000/kg.

Masih menurutnya, kelompok kembang melati sangat mendukung Program Gubernur Nusa Tenggara Timur, Victor Laiskodat Bungtillu melalui program Tanam Jagung Panen Sapi (TPJS) tahun 2019 lalu. Kami sudah mendengar program dari pak Gubenur itu meski kami dengar dari kelompok lain.

Ia menambahkan, setelah kami mendapatkan gambaran dengan program TPJS, maka kami formulasi Tanam Jagung Panen Ternak.  Program itu disesuai dengan kemampuan para anggota kelompok di desa ini, meski sebatas pada ternak Ayam dan Babi. Untuk program Gubernur NTT itu sangat bermanfaat karena kita jual jagung dengan harga standar Rp.3000/kg. Dengan harga segitu memang sangat rugi. Bila dijadikan pakan ternak Babi pedaging dalam jangka waktu 6 bulan atau 1 tahun nilai jualnya mencapai Rp.4- 5 jt. ” tegasnya.’

Harapan kami sebagai petani, agar program dari Gubernur NTT dapat disosialisai ke petani di pelosok NTT oleh pihak Dinas Pertanian sehingga pendapatan para petani bisa meningkat, pungkasnya.( Dami Atok/jat)

Artikel ini telah dibaca 366 kali

loading...
Baca Lainnya

Tata Cara dan Etika Penagihan Pinjaman Online yang Benar

Seperti yang kita ketahui, pinjaman online adalah salah satu layanan peminjaman uang dan diperuntukan bagi...

Financial manager using smartphone at her workplace, view from the top

17 September 2020, 16:24 WIB

Dampak Covid-19, Warga Barsel Masih Enggan Mengunjungi Tempat Wisata Banyu Habang

Buntok – pandemi covid-19 sangat berdampak sekali terhadap sepinya pengunjung ke tempat Wisata Banyu Habang....

16 Agustus 2020, 01:39 WIB

UMKM Klaster Unggas Binaan SIG, Terus Berkembang Ditengah Pandemi Covid-19

Tuban – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) terus berupaya meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM mitra...

13 Agustus 2020, 14:41 WIB

Penenun Kain Tradisional Desa Lakulo Alami Kendala Pemasaran

Malaka – produksi dari penenun kain tradisional di desa Lakulo kecamatan Weliman masih memiliki kendala...

11 Mei 2020, 15:12 WIB

Dampak Covid19, Pedagang Aneka Kue Khas Romadhan Di Aceh Singkil Terancam Gulung Tikar

Singkil – Para pedagang kue untuk berbuka puasa di lokasi Jln. Sudirman yang musiman di...

5 Mei 2020, 19:20 WIB

Rupiah Melemah, Pemerintah Diminta Tingkatkan Cadangan Emas

JAKARTA – Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amirika Serikat (AS) yang saat...

18 Maret 2020, 22:11 WIB

loading...