Terlalu Boros, Badung Minim Ongkos Hadapi Corona

  • Whatsapp
Aktivis LSM Manikaya Kauci, I Nyoman Mardika. (Foto: istimewa)

Badung – Kebijakan selama ini dilakukan Giri Prasta sebagai Bupati Kabupaten Badung, Bali dianggap terlalu boros oleh aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Manikaya Kauci. Sebagai aktivis I Nyoman Mardika mengatakan, minimnya anggaran Badung dalam penanganan pandemi Covid-19 merupakan efek dari kebijakan eksekutif dilakukan tahun sebelumnya.

“Bahkan sebelum ada pandemi Badung sudah mengalami defisit. Bayangkan, kabupaten memiliki pendapatan daerah tertinggi kedua di Indonesia dan pertama di Bali kini gagap terhadap ongkos guna tangani Corona. Ini kan memprihatinkan dan tentu ada kesalahan. ‘Bares’ tapi tidak beres,” singgung Mardika, Kamis (28/5)

Bacaan Lainnya

Hegemoni dikatakan aktivis ini begitu kuat dari eksekutif, membuat anggota dewan Badung pun minim yang bersuara kritis (jika tidak bisa disebut tidak ada). Keadaan yang kesannya kondusif ini bukan berarti tidak ada pewacanaan kritik dari masyarakat dan juga legislatif.

“Kalau fraksi PDI Perjuangan diam kita bisa maklumi karena yang berkuasa. Tapi kalau fraksi-fraksi yang lain ikut diam ini menjadi pertanyaan besar. Dalam demokrasi check and balance itu merupakan suatu keharusan agar masyarakat bisa terdidik secara politik. Bisa memahami tentang akuntabilitas dan pola penganggaran. Bukan berarti sebatas mau menerima begitu saja,” tuturnya.

“Sebenarnya bagus untuk pembangunan yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Tapi kalau itu digunakan sebagai pencitraan politik dengan gaya jor-joran menguras anggaran tentu tidak baik. Misalnya pura yang masih bagus atau situs situs peninggalan sejarah punya legenda dan sejarah dibongkar. Sedangkan hal penting justru diabaikan,” cetus Mardika.

Sementara Wakil Ketua 1, DPRD Badung I Wayan Suyasa dari fraksi Partai Golkar mengatakan bahwa selama ini pemerintah eksekutif Badung dinilai terlena dengan pendapatan daerah yang besar. “Kemarin-kemarinnya terlalu terlena dengan pendapatan yang begitu besar. Pariwisata itu sangat riskan dengan masalah-masalah keamanan dan kesehatan, seperti kondisi saat ini (Covid-19, red),” terang Suyasa.

 

Pos terkait

loading...