Kamis, 16 Juli 2020 - 20:58 WIB

Atasi Radikalisme Melalui Pendidikan di Sekolah

Oleh : Muhammad Zakie

Kaum radikal makin ‘menggila’ bahkan tak segan memangsa anak sekolah untuk dijadikan kader barunya. Mereka beroperasi lewat dunia maya dan menciptakan imaji seolah-olah jadianggota kaum radikal itu keren dan diganjar dengan surga. Untuk mencegahnya, kita bisa membuat kurikulum baru di sekolah untuk mencegah bahaya radikalisme.

Radikalisme adalah paham yang ingin mengubah Indonesia dari negara yang berazas Pancasila menjadi kekhalifahan. Untuk mencapai tujuannya, mereka bahkan menggunakan kekerasan seperti pengeboman dan penyerangan terhadap aparat. Kaum radikal juga menggunakan internet untuk menyebarkan ajarannya dan ingin merekrut generasi muda.

Mengapa harus generasi muda? Karena mereka lebih kritis dalam memandang segala sesuatu dan masih dalam tahap mencari jati diri. jadi relatif mudah terkena rayuan kaum radikal. Untuk mencegah remaja mengikuti ajaran mereka, maka perlu ada pelajaran tentang anti radikalisme di sekolah. Jadi mereka tahu bahwa radikalisme itu terlarang.

Pendidikan anti radikalisme ini bisa diberikan mulai dari tingkat SD, bahkan TK. Yang pertama adalah dengan menanamkan nasionalisme ke dalam jiwa para murid. Caranya dengan membawa mereka ziarah ke taman makam pahlawan. Misalnya menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, di hari pahlawan, dan lain-lain.

Dalam perjalanan menuju TMP, maka murid bisa didongengi tentang kepahlawanan. Mereka juga bisa diajak pula untuk menonton film-film tentang perjuangan dan mengunjungi museum ABRI. Belajar dengan cara ini lebih efektif daripada sekadar menyimak omongan guru di kelas dan murid jadi terpantik rasa nasionalismenya.

Untuk memberikan pendidikan anti radikalisme tidak perlu dengan membuat mata pelajaran khusus, namun bisa disisipkan di pelajaran sejarah. Yang ditekankan adalah adalah cerita sebelum Indonesia merdeka. Jadi mereka tahu bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan dari banyak orang, bukan hanya dari 1 golongan atau agama.

Selain di pelajaran sejarah, maka pendidikan anti radikalisme juga bisa disisipkan di pelajaran agama. Diajarkan bahwa dalam agama tidak hanya fokus pada hubungan kepada Tuhan, tapi juga sesama manusia.

Murid harus toleran terhadap orang yang beragama lain dan saling menghormati.
Guru agama juga menekankan bahwa setiap murid yang taat harus menerapkan agama dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi toleran juga jadi cara untuk taat beragama. Indonesia adalah negara yang terdiri dari 6 agama, jadi harus saling menghormati.

Selain pelajaran tentang toleran, maka guru agama juga bisa mengajarkan tentang sejarah perang dan jihad. Di era milenial ini perlu ada pelurusan makna jihad adalah dengan berjuang, bukan dengan melawan orang lain yang tidak seagama. Jihad adalah kerja keras, bukan dijalani dengan jalan kekerasan dan pengeboman.

Begitu juga dengan istilah negara kekhalifahan. Guru menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak suku dan agama. Jadi tidak bisa diubah begitu saja menjadi negara kekhalifahan. Konsep negara kekhalifahan sangat tidak mungkin untuk diterapkan di Indonesia, karena masyarakatnya tidak hanya datang dari 1 agama saja.

Selanjutnya, dalam pelajaran anti radikalisme, juga bisa diceritakan tentang kasih sayang. Bukankah sudah dicontohkan bahwa Nabi adalah orang yang sabar dan penyayang? Beliau tidak pernah meneriaki orang yang beragama lain dengan sebutan ‘kafir’. Sudah seharusnya kita meniru beliau yang penyayang dan toleran, dan tidak pernah mengajarkan jalan kekerasan.

Pembelajaran tentang anti radikalisme di sekolah diperlukan sejak dini karena murid bisa memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Murid juga diajari tentang sejarah perjuangan para pahlawan dan jadi orang yang toleran terhadap sesama. Mereka jadi paham apa bahaya radikalisme dan tidak mudah dipengaruhi oleh kaum radikal.

Penulis aktif dalam Pustaka Institute

Artikel ini telah dibaca 547 kali

loading...
Baca Lainnya

Mewaspadai Manuver KAMI Bermuatan Politis

Oleh : Ahmad Bustomi Masyarakat dipusingkan dengan ulah anggota KAMI yang mejeng di berita TV...

29 September 2020, 03:55 WIB

Masyarakat Papua Mendukung Keberlanjutan Otsus

Oleh : Abner Wanggai Pemerintah memberikan sinyalemen untuk melanjutkan Otsus Papua. Otsus tersebut dianggap membawa...

29 September 2020, 03:48 WIB

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

Waspada KAMI Goyang Kursi Presiden

Oleh : Haris Muwahid Masyarakat makin antipati terhadap Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena mereka...

28 September 2020, 00:16 WIB

loading...