Jumat, 24 Juli 2020 - 17:09 WIB

Vaksin Covid-19 Masuk Uji Klinis, Masyarakat Agar Disiplin Patuhi Protokol Kesehatan

Oleh : Raavi Ramadhan

Uji Klinis vaksin Covid-19 dikabarkan akan selesai pada Januari 2021 mendatang. Setelah itu pemerintah melalui PT Bio Farma (Persero) akan mengedarkannya. Namun demikian, masyarakat tidak boleh terlena dan diharapkan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan bahwa uji klinis terhadap vaksin Covid-19 tersebut baru bisa beredar awal tahun depan. Ia pun meminta kepada masyarakat agar kabar positif ini jangan sampai membuat masyarakat justru tidak mengindahkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

Erick menilai, protokol kesehatan yang harus tetap dilakukan yaitu dengan menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan tata laksana lainnya dalam protokol kesehatan.

Dirinya juga memastikan bahwa Bio Farma yang merupakan bagian dari BUMN di sektor farmasi, akan turut serta terlibat dalam uji klinis dan produksi vaksin tersebut. Selain itu, Bio Farma juga akan memproduksi obat untuk terapi kesembuhan pasien Covid-19.

Perlu diketahui juga bahwa pemerintah Indonesua akan menguji klinis calon vaksin Covid-19 yang merupakan hasil kerja sama dengan perusahaan biofarmasi asal China, Sinovac Biotech Ltd. Calon vaksin tersebut telah tiba dari China pada tanggal 19 Juli 2020 lalu.

Saat ini vaksin tersebut telah diserahkan kepada Bio Farma. Uji Klinis tahap III untuk kandidat vaksin itu akan dilakukan di Bandung provinsi Jawa Barat dengan estimasi uji klinis tersebut akan selesai pada Januari 2021.

Dalam uji klinis tersebut Bio Farma akan bekerja sama dengan badan penelitian dan pengembangan kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan, Universitas Padjajaran, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut rencana, pengujian klinis tahap III ini akan melibatkan 1.620 sampel.

Merujuk pada Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), vaksin harus melalui uji yang ketat sebelum diberi lisensi dan diedarkan ke masyarakat. Pengujian terdiri dari uji keamanan, imunogenitas dan efikasinya di laboratorium, pada hewan percobaan dan dalam tiga fase uji klinis pada manusia.

WHO juga menjelaskan bahwa uji klinis merupakan studi sistematik pada intervensi medis yang dilakukan kepada subjek manusia, termasuk pasien dan relawan.
Uji klinis juga bertujuan untuk menemukan atau memastikan efek dari dan/atau identifikasi reaksi efek samping dari intervensi.

Proses uji klinis ini akan dilakukan di 6 tempat, yaitu di Rumah Sakit Pendidikan Unpad. Kampus unpad dipati dan 4 puskesmas di kota bandung. Lama pemantauan para relawan tersebut akan berlangsung selama 7 bulan.

Ketua Tim riset FK Unpad Kusnandi Rusmil mengatakan, bahwa para sukarelawan yang terlibat dalam uji klinis adalah orang yang sehat. Dirinya menuturkan bahwa relawan tersebut akan dites kondisinya sebelum menerima vaksin.

Pihaknya secara berkala akan melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap setiap relawan. Kusnandi memastikan uji klinis ini akan tetap memperhatikan keselapatan relawan yang terlibat.

Selain itu, Kusnandi juga menjelaskan bahwa relawan tersebut akan menerima asuransi sebagai salah satu langkah preventif.

Ia juga menjelaskan bahwa vaksin ini dibuat dari mikroorganisme patogen virus corona. Metode tersebut dinilai lebih murah dan mudah dibandingkan dengan pengembangan vaksin dari virus atau RNA-nya.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuty Lukito mengatakan, pihaknya akan menjamin validitas protokol uji klinis vaksin Covid-19.

Di sisi lain, Epidemiolog Pandu Riono dari Universitas Indonesia UI, meminta kepada masyarakat agar tidak terleda dengan uji klinis yang dilakukan terhadap relawan kandidat vaksin Covid-19. Justru masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Ia pun menilai bahwa pemerintah harus terus mempromosikan penerapan protokol kesehatan tersebut. Selain itu, pemerintah juga harus terus meningkatkan kapasitas tes dan penelusuran orang yang terduga terinfeksi.

Uji klinis terhadap vaksin Covid-19 tentu patut diapresiasi, namun proses ini masih membutuhkan waktu hingga sekira awal Januari 2021, oleh karena itu sembari menunggu vaksin diedarkan secara resmi, tentu kita harus bersiap dalam memasuki New Normal dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Pakuan Bogor

Artikel ini telah dibaca 215 kali

loading...
Baca Lainnya

Mengapresiasi Pemerintah Susun Rencana Vaksinasi Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko Pemerintah sedang menyusun skema vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Masyarakat pun mengapresiasi...

30 September 2020, 23:19 WIB

Program Pemulihan Ekonomi Nasional Terus Dilaksanakan

Oleh : Aditya Akbar Pemerintah terus berusaha memulihkan sektor perekonomian, meskipun saat ini fokus untuk...

30 September 2020, 22:55 WIB

RUU Cipta Kerja Menambah Kesejahteraan Pekerja Kontrak

Oleh : Rita Efendi Pemerintah telah menginisiasi RUU Cipta Kerja melalui konsep Omnibus Law. Peraturan...

30 September 2020, 22:05 WIB

Omnibus Law RUU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dengan Pengaturan Upah Minimum yang Layak

Oleh : Ade Kurniawan Para pekerja deg-degan menunggu peresmian omnibus law RUU Cipta Kerja, karena...

30 September 2020, 05:35 WIB

Masyarakat Harus Disiplin Laksanakan 3 M

Oleh : Zulfikar Penambahan pasien Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk...

30 September 2020, 05:23 WIB

Waspada Manuver KAMI Politisasi Isu PKI

Oleh : Edi Jatmiko Jelang peringatan peristiwa gerakan 30 september, selalu ada isu kebangkitan PKI...

30 September 2020, 05:17 WIB

loading...