Rabu, 5 Agustus 2020 - 23:15 WIB

Paham Radikal Ancam Kedamaian Masyarakat

Oleh : Rahmat Siregar

Radikalisme masih menjadi ancaman bersama. Pasalnya, orang yang terpapar paham radikal dapat melakukan praktik intoleran hingga aksi terorisme yang mengancam kedamaian.
Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘Radikal’ memiliki makna amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan).

Sementara itu kata ‘Radikalisme’ menurut KBBI adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis dan sikap ekstrem dalam aliran politik.

Sementara itu, Sarlito Wirawan mengatakan dalam bukunya yang berjudul Terorisme di Indonesia dalam Tujuan Psikologi tahun 2012 mengatakan, bahwa kata ‘radikal’ merupakan bentuk afeksi atau perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrem sampai ke akar-akarnya. Sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya.

Jika kita menilik pada arti radikal menurut kedua referensi tersebut tentu tidak berbeda jauh. Keduanya sama-sama mengartikan bahwa radikalisme identik dengan kekerasan.

Radikalisme agama sendiri sejatinya sudah ada sejak abad 16-19 M. Dua agama yang paling utama mengakarinya adalah antara Islam dan Kristen yang saling berebut kejayaan di masa itu. Perang Salib merupakan sedikit kisah dari radikalisme agama yang disemai kala itu.
Di Indonesia, kelompok radikal Islam yang menyita perhatian adalah komplotan Abu Bakar Ba’asyir yang bertanggung jawab pada Bom Bali I dan II.

Sementara untuk kelompok radikal Islam di dunia yang tengah menjadi sorotan ialah militan ISIS. Bahkan kini ISIS telah tersebar sampai ke penjuru dunia dan berhasil menguasai satu kota negara tetangga, yakni kota Marawi di Filipina.

Tentu saja hal ini membuat sebagian masyarakat di dunia mempersepsikan bahwa radikalisme telah menjadi bagian dari Agama Islam.
Padahal, radikalisme sendiri tidak hanya menyebabkan perpecahan di tubuh Islam. Bahkan di agama lain, radikalisme-pun bisa memunculkan aksi saling melukai antar sesama manusia.

Di Indonesia mungkin jarang terdengar adanya kelompok radikal dari agama Hindu. Tentu saja hal ini wajar, karena mayoritas pemeluk agama Hindu di Bali terlihat hidup begitu rukun, tenteram dan damai berdampingan dengan pemeluk agama lain.

Namun hal berbeda terjadi di India, disana gerakan radikal dari kepompok Hindu juga terjadi. Dua agama yang saling berseteru disana ialah Hindu dan Islam. Hal inilah yang membuat pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam memutuskan untuk memisahkan diri dari India.

Meski demikian, pemisahan dua negara tersebut belum juga mengurangi tingkat ketegangan agama di sana. Buktinya pada tahun 2015 lalu, seorang pria Muslim berusia 50 tahun dibunuh oleh kelompok hindu, hal ini dikarenakan rumor yang beredar bahwa keluarganya telah menyimpan dan mengonsumsi daging sapi di rumah.

Perlu diketahui juga bahwa Hindu merupakan agama yang dominan dengan 828 juta pengikut atau 80,5% populasi. Sementara sisanya adalah Muslim 13% dan Kristen sebanyak 2,3%.

Aksi kekerasan juga terjadi terhadap pemeluk agama Kristen di India yang merupakan kelompok minoritas. Tentu saja kelompok-kelompok masal disana wajib bertanggunghawab pada kekerasan yang berlandaskan agama di India adalah kelompok radikal atau ekstrimis Hindu di negri mahabarata tersebut.

Apa yang terjadi di India tentu dapat kita petik pelajaran, bahwa radikalisme agama dapat muncul pada kelompok mayoritas yang merasa superior dan bisa memerintah kelompok minoritas agar mengikuti aturannya termasuk mengikuti keyakinan. Sementara itu kelompok minoritas bagaimanapun berusaha bertahan pada keyakinannya dan tidak mau ditindas.

Apalagi dipaksa mengikuti aturan yang belum tentu sejalan pada keyakinan agamanya.
Berbagai buku sejarah di Indonesia telah menuliskan banyak catatan konflik yang terjadi di berbagai daerah yang mengatasnamakan suku dan agama. Seperti konflik yang terjadi di Poso antara Islam dan Kristen.

Tentu saja kita sepakat bahwa konflik antar agama tidak ingin terjadi, sikap intoleransi haruslah dikubur dalam-dalam karena Indonesia terdiri dari beragam budaya, Suku dan Agama.

Kita-pun sepakat bahwa aksi radikal atau kekerasan bukanlah ajaran agama, melainkan ego individu atau kelompok yang merasa harus berkuasa.

Hidup ditengah konflik tentu saja merupakan siksaan yang berat, kita semua memiliki peran untuk membentengi diri dari segenap paham radikal yang menyebar diberbagai platform.

Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Artikel ini telah dibaca 242 kali

loading...
Baca Lainnya

Wasapda Manuver KKSB Jelang Kelanjutan Otsus Papua Jilid 2

Oleh : Rebecca Marian Jelang otonomi khusus jilid 2, kewaspadaan di Papua makin ditingkatkan untuk...

24 September 2020, 01:26 WIB

Mewaspadai Provokasi KAMI Manfaatkan Situasi Pandemi Covid-19

Oleh : Raavi Ramadhan Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) telah tersebar di berbagai daerah,...

24 September 2020, 00:40 WIB

Komunitas GESIT Akan Gelar Podcast Warganet Ajak Masyarakat Dukung Kebijakan Pemerintah Atasi Pandemi Covid-19

Penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani dan...

23 September 2020, 09:12 WIB

Omnibus Law Cipta Kerja Menguntungkan UMKM

Oleh : Zakaria Omnibus Law Cipta Kerja didesain oleh pemerintah, tidak hanya untuk pekerja tapi...

22 September 2020, 23:58 WIB

Kalangan Media dan Milenial Harus Aktif Dukung Penanganan Covid-19

Oleh : Rahmat Soleh Pemerintah saat ini sedang fokus menangani Covid-19 yang masih terus terjadi....

22 September 2020, 23:50 WIB

Masyarakat Menolak Konsep Usang KAMI

Oleh : Putu Raditya KAMI yang diprakarsai oleh Din Syamsudin dkk berjanji akan menyelamatkan Indonesia....

22 September 2020, 04:20 WIB

loading...