Selasa, 18 Agustus 2020 - 02:20 WIB

Manuver KAMI Hambat Kinerja Pemerintah Tuntaskan Covid-19

Oleh : Putu Prawira

Dibentuknya KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) oleh para tokoh nasional seperti Din Syamsudin bisa mengganjal langkah pemerintah. Terutama dalam usaha menuntaskan pandemi Covid-19 yang tidak saja berdampak pada sektor kesehatan namun juga ekonomi. Keberadaan mereka pun dianggap meresahkan publik karena hanya memperkeruh situasi yang saat ini terkuras menangani wabah penyakit menular.

Keberadaan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) membuat masyarakat melotot karena banyak tokoh nasional yang disatukan dalam satu organisasi. Misalnya Din Syamsudin, Rocky Gerung, Said Didu, dll. Tujuannya bukan membuat partai politik, namun mengaku berkumpul untuk menyelamatkan Indonesia dari pemerintahan yang mereka anggap zolim.

Selain itu, KAMI ingin mengawasi pemerintah dan mereka menganggap peran DPR tidak terlalu bisa mengendalikan presiden. Karena hanya sedikit anggota legislasi yang berasal dari partai oposisi. Jadi, versi mereka, Indonesia berjalan ke tujuan yang salah. Padahal presiden sudah bekerja keras untuk mengembalikan finansial Indonesia agar bangkit lagi saat pandemi.

Para tokoh yang bergabung dalam KAMI merupakan mantan pejabat yang cukup punya nama di Indonesia. Pemerintah memang tidak pernah melarang dibentuknya koalisi dan sebagai negara demokrasi, semua warga negara bebas berpendapat. Namun yang dikhawatirkan adalah pengaruh dari para tokoh KAMI yang bisa mengubah jalan pikiran masyarakat.

Jika KAMI terus mengkritik pemerintah dan tidak puas dengan kerja presiden, maka masyarakat bisa ikut membelot dan tidak mau menaati peraturan.

Hal ini menyulitkan pemerintah, karena peraturan itu ditujukan untuk keselamatan bersama. Misalnya dengan menaati protokol kesehatan, taat bayar pajak, siaga covid-19 di kampung, dan sebagainya. Dengan demikian, keberadaan KAMI dapat menghambat upaya Pemerintah menangani Covid-19 yang dikhawatirkan malah memperburuk keadaan.

Orang awam akan seenaknya mengambil jenazah pasien corona karena mereka menganggap covid-19 hanya merupakan konspirasi dari pemerintah. Mereka juga malas pakai masker karena merasa dikecewakan presiden. Pengaruh KAMI secara tidak langsung akan ‘mencuci otak’ banyak orang untuk ikut membenci pemerintah dan selalu melanggar aturan.

Ujaran kebencian dari koalisi aksi yang memiliki modus ingin menyelamatkan Indonesia bisa memiliki efek domino seperti ini. Indonesia lebih butuh tindakan langsung, bukan kritikan kepada pemerintah. Alangkah baiknya mereka menghormati masa pandemi dan melakukan donasi. Bukannya memanas-manasi rakyat untuk membenci pejabat, presiden, dan pemerintahannya.

Efek buruk seperti ini yang seharusnya diwaspadai oleh pemerintah. Boleh saja memberi masukan kepada presiden dan pejabat pemerintahan, tapi jangan sampai memprovokasi masyarakat untuk mem-bully-nya. Kelompok oposisi boleh mengkritik asal dengan cara yang santun. Demokrasi bisa berjalan asal tidak ada pihak yang suka melempar fitnah dan hoax.

Roby Nurhadi, pengamat politik dari Unas menyatakan bahwa kemunculan KAMI jangan sampai menambah masalah baru di Indonesia. Tokoh-tokoh di KAMI adalah senior yang berpengalaman. Seharusnya mereka lebih bijak dalam menyikapi problematika di Indonesia. Dalam artian, jangan hanya cari perhatian dan mengolok-olok demi menambah popularitas.

Apalagi pemerintah masih fokus dalam menangani pandemi covid-19. Seharusnya mereka ikut melakukan aksi sosial jika benar-benar ingin menyelamatkan Indonesia. Jangan malah menghalangi langkah pemerintah untuk menertibkan masyarakat dan menegakkan aturan protokol kesehatan. Serta mengacaukan suasana di tengan pandemi dengan membuat isu baru.

Jika KAMI ingin menyelamatkan Indonesia, maka seharusnya mereka ikut membantu juga dalam menangani efek pandemi covid-19. Misalnya dengan membantu permodalan UMKM dan pedagang kecil, mengadakan pasar murah, membantu penelitian vakson corona, dan lain-lain. Bukan hanya menjual omongan dan kritikan tanpa ada solusi nyata.

Koalisi aksi menyelamatkan Indonesia seharusnya benar-benar menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis dan memberi bantuan kepada mereka yang kena efek badai corona. Jangan malah menghalangi langkah pemerintah untuk mengatasi pandemi dengan memprovokasi, mengeluarkan ujaran kebencian, dan mengkritik tindakan presiden.

Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Artikel ini telah dibaca 161 kali

loading...
Baca Lainnya

Lihat, Ketum BPI KPNPA Sebut KPK Lamban

Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, menyebut dan mengapresiasi atas kinerja...

Ketua BPI KPNPA RI TB Rahmad Sukendar, Rabu (4/3)

28 September 2020, 17:52 WIB

Tindak Tegas Pelanggar Protokol Kesehatan

Oleh : Ade Istianah Angka penambahan pasien positif Covid-19 masih terus terjadi yang menandakan masih...

28 September 2020, 17:00 WIB

Tak Ada Penambahan Jam Kerja dan Lembur Pada RUU Cipta Kerja

Oleh : Abdul Razak Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang sapu jagat yang akan...

28 September 2020, 13:43 WIB

Waspada KAMI Goyang Kursi Presiden

Oleh : Haris Muwahid Masyarakat makin antipati terhadap Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena mereka...

28 September 2020, 00:16 WIB

Banyak Pihak Dukung Penanganan Covid-19

Oleh : Reza Pahlevi Pandemi belum berakhir dan pemerintah berusaha keras mengatasi efek negatifnya. Caranya...

28 September 2020, 00:07 WIB

RUU Cipta Kerja Mengatur Pengupahan Agar Pekerja Lebih Sejahtera

Oleh : Edi Jatmiko RUU Cipta Kerja merupakan salah satu terobosan untuk meringkas hiper regulasi....

27 September 2020, 09:27 WIB

loading...