Diduga Hina Adat Kecamatan Boronadu Salah Satu Paslon Dipolisikan

Nias Selatan, Deliknews.com – Diduga menghina adat Kecamatan Boronadu Pada saat Debat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nias yang dilakukan KPU Kabupaten Nias Selatan beberapa waktu lalu, salah satu pasangan calon dilaporkan. Hal ini disampaikan oleh Bowoziduhu Sadawa kepada wartawan usai melapor di Polres Nias Selatan, Selasa (20/10/2020).

Tampak Ratusan Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Tokoh masyarakat dari Kecamatan Boronadu mendatangi Mapolres Nias Selatan untuk melaporkan salah satu Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan diduga telah melakukan penghinaan adat Kecamatan Boronadu terkait pemotongan leher ayam.

Tokoh masyarakat Desa Sifalago Gomo Kecamatan Boronadu yang merupakan Pelapor, Bowoziduhu Sadawa, mengatakan bahwa dia melaporkan salah satu pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan, terkait adanya pernyataan saat Debat Paslon beberapa waktu lalu, yang mengatakan pemotongan leher ayam seakan adat masyarakat Kecamatan Boronadu menyembah berhala.

Dia menceriatakan bahwa pemotongan leher ayam tersebut dilakukan pada saat pengukuhan Tim Pasangan nomor urut 1 HD-Firman di Kecamatan Boronadu beberapa waktu lalu. dan pada saat itu dihadiri semua tokoh Se-Kecamatan Boronadu dan sepakat untuk mendukung pasangan HD-FIRMAN. karena ada Putra daerah Kecamatan Boronadu yakni Firman Giawa, SH., MH sebagai calon Wakil Bupati Nias Selatan yang berpasangan dengan Dr. Hilarius Duha, SH., MH.

Setelah menyepakati untuk mendukung pasangan HD-FIRMAN, maka untuk mengingatkan kepada masyarakat Kecamatan Boronadu bahwa sesuai budaya leluhur, setiap adanya kesepakatan, dilakukan pemotongan leher ayam.

“Tujuan pemotongan leher ayam tersebut agar setiap masyarakat yang membelot dan ingkar janji pada kesepakatan tersebut, yang bersangkutan muntah darah. Karena seperti itu adat leluhur Desa Sifalago Gomo Kecamatan Boronadu Kabupaten Nias Selatan, yang diwariskan oleh leluhur kami”, tegas Bowoziduhu Sadawa..

“Kami tidak pernah dipaksa oleh pasangan HD-FIRMAN untuk melakukan pemotongan leher ayam tersebut, namun hal itu karena tradisi yang turun – temurun dari leluhur, apabila sudah ada kesepakatan, wajib dilakukan pemotongan leher ayam. Bukan penyembahan berhala”, tegasnya.

“Selain dugaan penghinaan adat istiadat Kecamatan Boronadu, ada juga tulisan di salah satu akun FB yang menuliskan “Kecamatan Boronatu” harusnya Boronadu. Kalau bahasa Boronatu itu, merupakan penghinaan besar yang dapat menimbulkan terjadinya perang”, tandasnya.

Bowoziduhu Sadawa menyampaikan bahwa, Pemotongan leher ayam itu, bukan hanya pada saat ini saja dilakukan, namun hal itu sudah pernah dilakukan pada saat pembukaan Pesta Ya’ahowu pada masa jabatan Gubernur Sumatra Utara, alm. Raja Inal Siregar, saya sendiri pelakunya. Pemotongan leher ayam bukan untuk penyembahan berhala, namun tradisi yang harus dilakukan masyarakat Boronada saat mengambil Kesepakatan, pungkasnya.

Pada kesempatan ini, dia berharap agar pihak penegak hukum dalam hal ini, Polres Nias Selatan agar segera memproses laporan tersebut, sehingga menimbulkan masalah baru yang dapat menggangu keamanan masyarakat terkait penghinaan adat istiadat tersebut, yang dilakukan oleh salah satu pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nias itu, harapnya. (Sabar Duha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.