Minggu, 1 November 2020 - 03:05 WIB

Mengapresiasi Sikap Tegas RI Terhadap Pelecehan Agama di Perancis

Oleh : Indriyani

Tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendiskreditkan Islam telah menimbulkan aksi protes hingga pemboikotan produk Prancis. Indonesia pun ikut mengambil tindakan tegas terhadap pernyataan kontroversial tersebut.

Tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang membiarkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW, rupanya telah dikecam oleh Pemerintah RI. Sejumlah anggota DPR menilai hal tersebut sebagai langkah yang tepat.

Anggota DPR RI Komisi Tb Hasanuddin mengatakan, pihaknya setuju dengan sikap tegas pemerintah kepada sikap Macron. Ia menegaskan, tindakan kementerian luar negeri sudah tepat. Jangan gunakan kebebasan berpendapat untuk menghina agama.
Hasanudin menilai, penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk penghinaan. Ia memprediksi aksi tersebut dapat mengancam perdamaian dunia.

Dirinya juga menegaskan bahwa peringatan dari pemerintah ini, perlu diperhatikan tidak hanya oleh masyarakat Perancis saja tetapi juga oleh masyarakat Internasional.
Senada dengan Hasanuddin, Syaifullah Tamliha selaku anggota Komisi I DPR RI turut memberikan apresiasi kepada langkah pemerintah yang mengecam Presiden Macron.

Tamliha menyebut bahwa Macron harus paham betul bahwa kepercayaan kepada Nabi Muhammad menjadi salah satu rukun iman seorang Muslim. Sehingga mencela Nabi Muhammad justru akan menyulut emosi umat Muslim di seluruh dunia.

Perlu diketahui pula, bahwa kecaman yang menghujani Prancis dan Presiden Emmanuel Macron setelah otoritas Perancis menegaskan hak mereka untuk mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Sikap tersebut tetap disampaikan meskipun mereka mengetahui akan menyinggung umat Muslim.

Persoalan tersebut kembali mencuat setelah seorang guru di Perancis tewas dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW dalam salah satu kelasnya saat membahas soal kebebasan berbicara dan berekspresi.

Komentar kontroversial Macron saat memimpin penghormatan untuk guru Perancis tersebut, menuai kecaman dan seruan boikot produk Perancis. Dalam pidatonya, Macron bersumpah bahwa Perancis tidak akan menghentikan karikatur dan menyebut sang guru dibunuh ‘karena islamis menginginkan masa depan kita’. Macron juga menyatakan perang terhadap ‘separatisme Islam’, yang diyakininya telah mengambil alih sejumlah komunitas Muslim di Perancis.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengecam sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang akan membiarkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. Indonesia juga sudah bersurat dan memanggil Dubes Perancis untuk Indonesia, namun panggilan tersebut belum mendapatkan respons.

Dampak dari kejadian tersebut adalah maraknya pemboikotan produk asal Perancis yang beredar di pasaran. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum MUI, Muhyidin Junaidi memintah kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dan tetap menjaga kedamaian dalam menyikapi ajakan untuk memboikot produk perancis.

Seruan boikot produk Perancis terjadi di sejumlah negara di timur tengah seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Sejumlah supermarket di negara tersebut juga telah menarik barang ataupun produk yang berasal dari Perancis.

Hal ini menyusul pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron tentang Islam, termasuk mengumumkan rencana mereformasi Islam agar lebih sesuai dengan nilai-nilai Republik Perancis.

Muhyiddin meyakini bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil langkah-langkah diplomatis agar tidak merugikan hubungan antara Indonesia dan Perancis.

Ia juga mengakui bahwa MUI merasa kecewa dengan pernyataan Macron, dimana sungguh tidak pantas seorang kepala negara melontarkan komentar yang berpotensi memecah belah.

Dirinya menuturkan, bahwa Macron hidup berdampingan dengan umat Islam, sehingga sudah seharusnya bisa lebih bijak dalam bertutur kata dan tidak mendiskreditkan Islam.
Direktur Jaringan Moderasi Indonesia, Islah Bahrawi mengingatkan, dalam isu tersebut umat Islam jangan sampai latah bereaksi dan dijadikan alat bentur pertempuran orang lain.

Islah justru mengajak umat Muslim di Tanah Air agar menyikapi perkara ini dengan instrospeksi. Menurutnya, harus disadari, banyak orang yang mengaku sebagai umat Islam namun masih intoleran, gemar mengumbar kebencian dan melakukan aksi kekerasan kepada orang lain karena perbedaan keyakinan.

Sementara itu, di linimasa twitter Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melalui akun-nya @AgusYudhoyono mengatakan, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, Indonesia memiliki tanggungjawab moral untuk suarakan aspirasi Muslim dunia. Saya juga mengajak saudara umat Islam untuk menahan diri & tidak terprovokasi.

Mari kita buktikan, Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin, membawa rahmat & pesan damai bagi dunia.
Dalam hal ini tentu sikap pemerintah sudah jelas dan tinggal menunggu jawaban dari Dubes Perancis, selain itu jangan pula kita mudah terprovokasi dimana hal tersebut rawan ditumpangi penumpang gelap.

Baca Lainnya

PON XX 2021 di Papua Memperkuat Persatuan Indonesia

Oleh: Siska Amelia (Warganet Kota Tangerang) Pertandingan ataupun perlombaan cabang olahraga merupakan salah satu cara...

7 Maret 2021, 20:56 WIB

Ketum BPI KPNPA, Rahmad Sukendar, Berpotensi Jabat Dewas KPK

Jakarta – Ketua Umum Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia...

Ketum (BPI-KPNPA) Rahmad Sukendar, SH

7 Maret 2021, 18:30 WIB

Disiplin Prokes dan Vaksinasi Solusi Ampuh Hadapi Varian Baru Virus Corona

Oleh : Zainudin Zidan Mutasi Virus Corona baru B117 asal Inggris telah masuk ke Indonesia....

7 Maret 2021, 08:46 WIB

UU Cipta Kerja Mudahkan Pelayanan Publik

Oleh : Putu Raditya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) berupaya untuk...

6 Maret 2021, 18:36 WIB

Masyarakat Papua Dukung Otonomi Khusus

Oleh : Sabby Kosay Otonomi khusus di Papua sangat didukung oleh warga asli Bumi Cendrawasih....

6 Maret 2021, 01:51 WIB

Kemenag Dorong Ujian Sekolah PAI Harus Jadi Quallity Assurance Pendidikan

Ditpai. Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama, Rohamt Mulyana Sapdi, meminta kepada guru pendidikan agama...

5 Maret 2021, 13:00 WIB

loading...